Kesenjangan Iklim-Gizi: Mewujudkan Sistem Pangan Indonesia yang Sehat dan Berkelanjutan

Penulis

Maria Dominika

Rasya Athalla Aaron
Sistem pangan di Indonesia perlu segera mengintegrasikan aspek iklim dan gizi agar mampu mengatasi malanutrisi secara efektif sekaligus mencapai tujuan ketahanan pangan. Sistem pangan harus mampu meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim yang kian memburuk, sembari mendukung kesejahteraan masyarakat melalui konsumsi pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Arsitektur sistem pangan Indonesia saat ini masih diwarnai berbagai hambatan mendasar yang mengakibatkan hasil yang belum optimal, kerentanan lingkungan, serta kebergantungan struktural terhadap komoditas pangan yang homogen. Sistem ini juga belum sepenuhnya mengakomodasi kondisi di tingkat lokal dan masyarakat, serta masih menempatkan aspek gizi sebagai isu yang kurang diprioritaskan dalam kebijakan pertanian.
Diperlukan perubahan paradigma kebijakan yang strategis, dengan beralih dari pendekatan yang seragam untuk semua wilayah ke pendekatan intensifikasi berkelanjutan yang disesuaikan dengan konteks masing-masing daerah. Hal ini mencakup optimalisasi pemanfaatan lahan yang sudah ada, disertai dengan desentralisasi intervensi berdasarkan profil agroklimat serta potensi komoditas pangan lokal.
Keterhubungan antara perubahan iklim dan gizi menuntut keterlibatan berbagai kementerian dan lembaga pemerintah, yang harus bekerja sama demi membangun kerangka kebijakan yang terpadu dan selaras. Kerangka ini harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim serta meningkatkan capaian gizi sebagai bagian dari sistem pangan yang tangguh. Pengembangannya dapat didasarkan pada instrumen kebijakan yang telah ada, seperti dokumen perencanaan pembangunan dan pedoman gizi nasional.
Perspektif kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) perlu diintegrasikan ke dalam kebijakan guna memastikan bahwa sistem pangan benar-benar inklusif. Pendekatan ini juga penting untuk memberdayakan petani skala kecil sebagai aktor utama yang berperan ganda—produsen maupun konsumen—dalam sistem pangan.








































