Sistem Impor Perlu Dibenahi, Cegah Harga Pangan Naik saat Nataru-Lebaran
- Center for Indonesian Policy Studies

- 10 Des 2025
- 2 menit membaca
Kenaikan harga pangan pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) atau Lebaran adalah pola yang dapat diprediksi setiap tahun, tetapi belum tertangani hingga kini. Tren yang disebabkan lonjakan permintaan ini dapat dicegah, salah satunya dengan mengatur impor untuk memenuhi permintaan secara responsif.
Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai pemerintah perlu mengambil langkah mitigasi dengan mengevaluasi sistem Neraca Komoditas (NK). Sistem tata kelola impor ini belum mampu menjaga harga pangan secara efektif, termasuk saat menghadapi tren kenaikan harga menjelang hari-hari besar nasional.
āLonjakan permintaan pada Nataru dan Lebaran membutuhkan sistem impor yang mampu bergerak cepat. Tata kelola yang lebih terbuka dan adaptif diperlukan agar harga pangan tetap terjaga saat kebutuhan konsumen memuncak,ā ujar Peneliti dan Analis Kebijakan Senior CIPS Hasran.
Sejak diterapkan pada 2022, berbagai persoalan masih muncul dalam implementasi Neraca Komoditas. Data pasokan belum selalu akurat, proses revisi kuota berjalan lambat, dan alokasi kuota tidak selalu sesuai kebutuhan.Ā
Salah satu dampaknya terjadi pada Maret 2024, ketika harga daging sapi naik menjelang Lebaran karena keterlambatan penerbitan izin impor. Pelaku industri turut menyampaikan kekhawatiran serupa dan menekankan pentingnya kepastian dalam berbisnis, terutama saat kebutuhan masyarakat meningkat.Ā
āKepastian hukum, kepastian regulasi itu mengurangi ketidakpastian dalam proses kami berusaha, dan Neraca Komoditas ini sampai sekarang kami masih melihat belum bisa memberikan kepastian dalam berusaha,ā ujar Head of Agriculture-Food and Beverages EuroCham Indonesia Dhedy Adi Nugroho.
Studi terbaru CIPS menunjukkan bahwa NK pada praktiknya masih sangat mirip dengan sistem kuota lama. Sistem ini masih mengatur alokasi kuota impor, sehingga kemudahan perdagangan sulit dicapai karena tata kelolanya belum efisien dan responsif.
Neraca Komoditas juga belum optimal dalam menjaga stabilitas harga. Analisis CIPS menunjukkan penerapan NK terhadap beras dan gula tidak menghasilkan harga yang lebih stabil untuk dua komoditas tersebut.
Selain itu, bencana banjir dan longsor yang saat ini terjadi di Sumatra juga dapat berdampak pada pasokan. Banyak petani terdampak hingga kehilangan lahan dan gagal panen, membuat ketersediaan beberapa komoditas berisiko menurun menjelang puncak Nataru dan Lebaran.
"Perubahan kondisi pasokan dapat memengaruhi ketersediaan barang di pasar, sehingga respons impor yang tepat waktu menjadi sangat penting. Mekanisme yang responsif akan membantu menjaga pasokan tetap stabil dan harga pangan tetap terjangkau," ujar Hasran.
CIPS merekomendasikan agar pemerintah mengalihkan kebijakan impor dari sistem kuota, termasuk NK, menuju mekanisme berbasis pasar yang lebih transparan dan responsif terhadap kebutuhan industri. Pendekatan berbasis pasar memungkinkan pelaku usaha menyesuaikan pasokan secara fleksibel sehingga risiko kelangkaan dan kenaikan harga pada periode permintaan tinggi dapat diantisipasi.
Di saat yang sama, pemerintah tetap dapat memperkuat penyerapan hasil panen petani melalui perluasan akses pasar dan modernisasi produksi. Pendekatan terpadu ini akan menjaga harga lebih stabil pada hari-hari besar nasional.









Komentar