top of page

Kebijakan HET Daging Sapi Gagal Menjaga Keterjangkauan Harga bagi Konsumen

(Panduan: arahkan kursor dan klik pada grafik untuk melihat detail harga)


Kesenjangan Harga Daging Internasional dan Domestik

Harga daging di pasar global selama satu tahun terakhir menunjukkan tren yang terus meningkat, dengan tingkat kenaikan harga y-o-y tertinggi pada November 2024 – 2025 sebesar 24,32%. Sementara itu, harga di pasar domestik cenderung stabil di batas atas Rp130.000–140.000 tanpa fluktuasi sepanjang tahun. Melihat pasokan daging Indonesia yang banyak bersumber dari impor, hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa harga murah di pasar internasional tidak terserap di dalam negeri?


Potret Pasar Daging Kuartal IV 2025

Harga daging internasional terus meningkat akibat beberapa faktor. Di kuartal keempat khususnya, pemulihan populasi ternak serta tantangan iklim di AS dan Brasil mengurangi pasokan daging global. Hal ini mengalihkan permintaan ke daging produksi Australia dan mendorong harga naik. Di sisi lain, dapat diamati bahwa harga domestik cenderung tidak terpengaruh pasar internasional meski pasokan daging cukup bergantung pada impor. Hal ini dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni harga jual yang tidak mengikuti mekanisme pasar dan tingginya biaya transaksi dalam proses impor.


Adanya kebijakan harga acuan untuk penjualan daging melalui Peraturan Badan Pangan Nasional 12/2024 menetapkan harga daging sapi di level konsumen sebesar Rp130.000–140.000. Kebijakan ini membuat harga daging menjadi kaku dan tidak responsif terhadap mekanisme pasar. Harga tersebut ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai biaya, termasuk biaya distribusi dan transaksi yang tinggi. Kedua faktor ini merugikan masyarakat yang tidak dapat mengonsumsi daging sapi dengan harga murah saat harga di pasar global sedang turun, kemudian tetap menghadapi harga mahal saat musim-musim permintaan tinggi.


Menjaga Harga Stabil Dalam Antisipasi Permintaan Tinggi

Menyambut bulan Ramadan dan Idul Fitri, harga daging juga diperkirakan meningkat mengikuti pola tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat diperparah dengan adanya kebijakan kuota impor daging yang berpotensi menghambat fleksibilitas pasokan dalam memenuhi kebutuhan domestik.


CIPS merekomendasikan tiga langkah kebijakan untuk permasalahan ini. Pertama, kebijakan kuota impor daging yang dilakukan pemerintah melalui neraca komoditas sebaiknya dibuka lebar agar memastikan kelancaran pasokan ke dalam negeri mengikuti dinamika pasar dan fluktuasi permintaan. Kedua, pemerintah perlu meninjau ulang kebijakan HET untuk daging sapi karena terbukti tidak berhasil melindungi konsumen dan menjaga keterjangkauan harga. Sebaliknya, HET daging sapi justru memaksa konsumen untuk membeli daging dengan harga yang tinggi terlepas dari tren harga internasional. Ketiga, peningkatan kinerja fasilitas logistik, termasuk transportasi dan pergudangan, penting untuk diperhatikan untuk mengurangi biaya transaksi dari impor dan mencegah peningkatan harga.



Tertarik melihat data komoditas pangan lainnya? Berlangganan CIPS Food Monitor sekarang, GRATIS!

Apa saja manfaat berlangganan CIPS Food Monitor? 

  • Database komoditas pangan yang diperbarui setiap kwartal 

  • Data pangan komprehensif yang meliputi produksi, konsumsi, impor-ekspor, harga, dan regulasi

  • Sumber data tujuh komoditas pangan yang terpercaya

  • Pertama yang menerima laporan triwulanan yang berisi analisis pada satu komoditas utama lewat email







Komentar


Mengomentari postingan ini tidak tersedia lagi. Hubungi pemilik situs untuk info selengkapnya.
  • Youtube CIPS
  • Twitter CIPS
  • Instagram CIPS
  • LinkedIn CIPS
  • Email CIPS
bottom of page