top of page

Bincang Santai tentang Tantangan Swasembada Pangan

Salah satu prioritas yang sudah sering didengungkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah pencapaian swasembada pangan, paling tidak dalam produksi beras, dalam lima tahun masa jabatannya ini. Impian kosong atau kenyataan yang bisa dicapai?


Mari kita bicara soal makanan, yuk! Lebih tepatnya, tentang tujuan ambisius Indonesia untuk mencapai swasembada pangan dalam lima tahun. Tujuan yang mulia dan ideal sih, tapi tantangan berat pasti menanti. Bisakah mencapai tujuan ini dalam rentang waktu yang hanya lima tahun?


Apa yang perlu dipertimbangkan untuk mencapai swasembada pangan dalam 5 tahun?

Bayangkan saja. Pertama-tama, Ibu Pertiwi sepertinya sudah tidak lagi bersahabat. Dengan perubahan iklim yang menyebabkan cuaca aneh seperti kekeringan parah dan banjir, sulit bagi petani untuk menanam cukup tanaman. Belum lagi pola musim yang tidak lagi dapat ditebak dan juga semakin merebaknya hama dan penyakit yang menyertai ketidakpastian cuaca ini.


Terus, masih ada lagi masalah alih fungsi lahan. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, dan juga meningkatnya tren urbanisasi, kota-kota pun berkembang pesat, secara perlahan tapi pasti menggerus lahan pertanian. Penduduk yang jumlahnya naik terus, sekarang sudah mencapai lebih dari 280 juta, juga meningkatkan permintaan akan pangan.


Meskipun metode pertanian tradisional sudah ada sejak lama, cara berbudidaya seperti ini tidak selalu efisien, sehingga bila ingin meningkatkan produksi, kita perlu praktik pertanian menjadi lebih modernĀ agar lebih efisien dan produktif. Ini dapat dilakukan antara lain dengan pertolongan teknologi. Tapi itu membutuhkan banyak dana serta penguasaan teknologi oleh para penggunanya, yaitu petani kita.


Bagaimana pendanaan program ini?

Ngomong-ngomong soal uang, Indonesia memang punya anggaran sih. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, Kementerian Pertanian (Kementan) resmi mendapatkan tambahan anggaran sebesar Rp21,49 triliun untuk tahun 2025. Sebelumnya, dalam pagu anggaran 2025 Kementan mendapat anggaran sebesar Rp7,91 triliun, sehingga total anggaran tahun depan menjadi sebesar Rp29,37 triliun.


Secara keseluruhan, RAPBN 2025 menyiapkan anggaran senilai Rp124,4 triliunĀ untuk memperkuat ketahanan pangan, yang dialokasikan untuk sisi pra-produksi, produksi, distribusi, pemasaran, hingga konsumen.


Penggunaan alokasi dana untuk sektor pertanian akan didominasi untuk program cetak sawah 150 ribu hektare dan intensifikasi lahan 80 ribu hektare, sebesar Rp15 triliun. Prioritas ini sejalan dengan target meningkatkan produksi pangan dan tercapainya swasembada pangan, terutama beras yang masih merupakan makanan pokok bagi sebagian besar orang Indonesia. Sisanya dibagi Rp4,3 triliun untuk peningkatan produksi padi jagung dan Rp2,13 triliun untuk peningkatan produksi daging dan susu.


Apa saja tantangannya?

Jangan lupa soal infrastruktur. Beberapa bagian Indonesia masih tertinggal, masih butuh jalan yang lebih baik, fasilitas penyimpanan, dan akses ke benih yang berkualitas. Belum lagi akses internet yang diperlukan untuk dapat memanfaatkan teknologi dalam meningkatkan produktivitas. Tanpa infrastruktur memadai, biaya dan waktu yang dibutuhkan akan jauh lebih banyak.


Sumber daya manusia sektor pertanian, seperti terlihat dari sensus pertanian terakhir, kini sudah didominasi oleh orang-orang paruh baya. Banyak anak muda meninggalkan pertanian untuk pergi mengadu nasib ke kota-kota besar, meninggalkan generasi yang lebih tua untuk bekerja di sawah dan ladang, generasi yang umumnya pendidikannya rendah dan lebih sulit mencerna serta mengadopsi penggunaan teknologi dan praktik berkelanjutan.


Dengan mempertimbangkan semua tantangan ini, jelas diperlukan peran pemerintah yang cukup besar. Kebijakan dan strategi pemerintahĀ menjadi penting untuk mendukung peningkatan produksi pangan, terutama melalui intensifikasi. Kebijakan harus dapat mendukung peta jalan untuk membuat Indonesia memiliki ketahanan pangan.Ā 


Rekomendasi CIPS

Ya, ketahanan panganlah yang seharusnya menjadi prioritas bangsa. Swasembada pangan kan menekankan soal ketersediaan pangan dari produksi nasional, sedangkan ketahanan pangan lebih mengutamakan akses setiap individu untuk memperoleh pangan yang bergizi, beragam dan terjangkau.


Pertama, kebijakan harus bisa mendorong investasiĀ dalam teknik pertanian modern. Pikirkan tentang penggunaan drone untuk memantau tanaman, sistem irigasi pintar, dan bahkan padi hasil rekayasa genetika yang tahan hama dan penyakit. Ini bisa membantu petani menghasilkan lebih banyak beras di lahan yang lebih sedikit.


Kedua, dukung petaniĀ kecil. Mereka adalah tulang punggung pertanian Indonesia. Berikan mereka akses ke benih yang lebih baik, pupuk, dan pelatihan. Dorong pembentukan koperasi untuk membantu mereka mengumpulkan sumber daya dan menegosiasikan harga yang lebih baik untuk hasil panen mereka.


Ketiga,Ā perbaiki infrastruktur. Pastikan petani memiliki jalan yang baik untuk membawa beras mereka ke pasar. Investasi dalam fasilitas penyimpanan untuk mencegah pembusukan. Dan jangan lupa tentang sistem irigasi – pasokan air yang andal sangat penting untuk produksi beras.


Terakhir,Ā lindungi lingkungan. Perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi pertanian. Dorong praktik pertanian berkelanjutan yang melindungi tanah dan mengurangi emisi gas rumah kaca.


Yang jelas, menilik kesulitan yang akan dihadapi dalam perjalanan menuju swasembada, Indonesia sebaiknya juga memperbaiki kebijakan niaga pangannyaĀ agar dapat mengimpor pangan secara efektif sementara produksi nasional belum mencukupi. Swasembada belum tentu berarti harga pangan terjangkau. Kalau lihat pengalaman selama ini sih, impor beras masih lebih murah dari produksi dalam negeri.


Kesimpulannya, tujuan Indonesia untuk mencapai swasembada pangan adalah tujuan besar namun akan lebih bermanfaat bagi bangsa bila ketahanan pangan yang diusahakan. Ada banyak rintangan yang harus diatasi dan ini akan membutuhkan banyak kerja keras dan keputusan yang cerdas. Tapi jika kita bisa melakukannya, itu akan menjadi kemenangan besar bagi negara ini.


Komentar


Mengomentari postingan ini tidak tersedia lagi. Hubungi pemilik situs untuk info selengkapnya.
  • Youtube CIPS
  • Twitter CIPS
  • Instagram CIPS
  • LinkedIn CIPS
  • Email CIPS
bottom of page