Transformasi Sistem Pangan Butuh Dukungan Inovasi Teknologi
- Center for Indonesian Policy Studies

- 31 Jul 2025
- 3 menit membaca
Di tengah kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh sistem pangan Indonesia, transformasi menuju sistem yang resilien dan berkelanjutan menjadi penting. Tantangan ini membutuhkan, salah satunya, inovasi teknologi pangan.
āKunci transformasi tersebut tidak terlepas dari inovasi teknologi pangan. Perkembangan riset dan teknologi pangan mampu membuka peluang besar untuk mendorong upaya transformasi. Namun, inovasi tidak tercipta secara instan, melainkan perlu dukungan dari sebuah ekosistem yang suportif dan terbuka terhadap ide-ide baru,ā jelas Peneliti dan Analis Kebijakan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Maria Dominika dalam Future Foods Forum (FFF) Public Discussion yang berlangsung baru-baru ini di Tangerang.
Dalam mengatasi berbagai tantangan dalam sistem pangannya, Indonesia membutuhkan inovasi seperti perbenihan unggul yang tangguh iklim. Hal ini penting, terutama karena melihat krisis iklim dan lingkungan yang sudah mulai berdampak negatif pada ketidakpastian musim tanam, tidak terkendalinya hama, hingga cuaca yang tidak dapat diprediksi.Ā
Indonesia juga membutuhkan inovasi teknologi terkait produksi untuk membuat proses produksi menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, inovasi dalam penyimpanan, distribusi, dan pengolahan pangan yang dapat mengurangi kerugian pascapanen dan meningkatkan kualitas gizi tak kalah pentingnya.Ā
Untuk itu, inovasi teknologi pangan perlu memperhatikan segala aspek dari hulu ke hilir secara holistik untuk memastikan kesinambungan rantai pasok pangan dan pertanian di Indonesia.Ā
Saat ini, adopsi teknologi pertanian di Indonesia masih cenderung terbatas. Walaupun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai inisiatif dari sektor swasta maupun lembaga penelitian sudah bermunculan dan mengarah pada inovasi teknologi pangan dan pertanian yang lebih ramah lingkungan.Ā
āAdanya inovasi teknologi pangan diharapkan bisa melancarkan proses transfer teknologi dan pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas dan skala pertanian, perbaikan gizi masyarakat, peningkatan produktivitas berbagai komoditas pertanian, dan modernisasi pertanian di Indonesia,ā terang Maria.
Di dalam akselerasi inovasi teknologi pangan, peran regulasi menjadi penting untuk menyokong tujuan dan capaian transformasi yang menyeluruh. Ke depan, lingkungan regulasi di Indonesia perlu terus terbuka terhadap peluang teknologi pangan dan pertanian yang lebih inklusif dan tanggap ā utamanya peluang yang sensitif terhadap isu gizi dan penghidupan sosial ekonomi masyarakat.Ā
Pada kesempatan yang sama, GM R&D Health and Wellness, Head of Quality Management - Dairy & Beverages PT Indolakto Tjatur Lestijaman mengatakan, Indolakto menggunakan pendekatan circular economy pada produk susu untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga keberlanjutan sektor peternakan susu di Indonesia.
Ketika berbicara tentang program yang dicanangkan pemerintah, Tjatur menyebutkan susu merupakan salah satu komponen penting dalam menu MBG sekaligus sebagai komoditas penting yang menjadi tempat bergantung hidup para peternak. Untuk itu, Indolakto telah melakukan beberapa inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan petani susu, salah satunya dengan upaya peningkatan produktivitas.
Lain halnya dengan sektor peternakan sapi perah, inovasi teknologi pangan juga terus didorong oleh akademisi dari perguruan tinggi di Indonesia. Head of Food Technology Department dari Swiss German University (SGU), Della Rahmawati S.Si, M.Si., PhD sebagai contoh, yang terlibat dalam riset dan pengembangan inovasi teknologi pangan di Indonesia.
Upaya SGU dilakukan secara kolektif bersama mahasiswa dan sesama akademisi dengan mengembangkan produk pangan yang tidak hanya lezat, namun juga bergizi. Produk makanan dengan nama āRhisoyaā contohnya, yang merupakan olahan bubuk tempe semangit hasil fermentasi yang kini telah dilirik pemerintah kabupaten setempat untuk penanggulangan stunting.Ā
Selain itu, pemanfaatan kelakai, tanaman pangan lokal dari Palangkaraya, sebagai produk pangan dalam bentuk nori juga lahir dari inovasi teknologi yang dilakukan SGU. Dari contoh-contoh tersebut, SGU menunjukkan keseriusan dari peran penting sektor perguruan tinggi dalam inovasi teknologi untuk optimasi pemanfaatan pangan lokal, memperpanjang masa simpan, serta meningkatkan mutu pangan yang bergizi dan berkualitas bagi masyarakat.
Dengan inisiasi oleh CIPS, Unilever, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB sebagai founding members, FFF mendorong terwujudnya sistem pangan berkelanjutan melalui pendekatan holistik, dari produksi hingga konsumsi, untuk mengatasi isu malnutrisi, permintaan akan pangan yang melonjak, dan krisis iklim di Indonesia.Ā
Kehadiran FFF diharapkan bisa menjadi jembatan bagi pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan seluruh pemangku terkait untuk bersinergi menciptakan sistem pangan berkelanjutan di Indonesia.









Komentar