top of page

Mendorong Petani Indonesia untuk Go International dan Berkembang

Diperbarui: 12 Jun 2022

Dear Pembaca,


Apakah Anda menginginkan agar anak Anda selalu berada dalam lingkungan rumah yang anda yang aman? Tetapi apakah dengan demikian ini akan dapat menjamin masa depannya aman dan nyaman di tengah masyarakat? Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Bagaimanapun juga, kita belajar untuk tumbuh dan berkembang ketika berada di luar zona aman diri kita.


Hal serupa juga berlaku bagi sektor pertanian Indonesia. Sudah terlalu lama sektor ini terkungkung di bawah perlindungan yang berlebihan, padahal pertanian juga perlu untuk keluar dari kungkungannya agar bisa belajar dari dunia luar.


Ketika di bawah perlindungan, pertanian tidak memperoleh akses kepada asupan, pengetahuan serta teknologi yang dibutuhkannya untuk mendukung meningkatkan produktivitas. Hal ini dapat dilihat dari Global Food Security Index yang diterbitkan The Economist Intelligence Unit, di mana nilai yang diperoleh Indonesia untuk akses teknologi, edukasi serta sumber daya pertanian hanya sebesar 50,8 (dari 100.)


Tetapi, kabar baik datang dari Kementerian Pertanian, yang mengakui perlunya inovasi serta riset dan pengembangan yang lebih banyak di sektor pertanian. Dengan ini, pemerintah berharap akan dapat membuka lebih banyak peluang ekspor serta mendorong inisiatif bisnis.


Rekan peneliti kami, Dr. Donny Pasaribu, belum lama ini menerbitkan hasil analisisnya atas tantangan yang dihadapi para penanam modal asing (PMA) dari Australia di sektor pertanian Indonesia. Di negara sebesar Indonesia, isu peraturan bukanlah satu-satunya rintangan yang membuat para investor enggan menanamkan modalnya disini. Kami telah membahas temuan dan rekomendasi kami lebih lanjut di webinar ini.


Saat ini, CIPS akan mengalihkan fokusnya kepada akses petani pada asupan pertanian modern seperti benih dan pupuk. Kami ingin memastikan bahwa dengan asupan pertanian yang sangat dibutuhkan ini hasil pertanian di Indonesia dapat ditingkatkan. Hal ini akan sangat membantu negara kita dalam memberi makan bagi populasi yang terus bertambah dan sekaligus juga dalam mengurangi perambahan manusia kedalam habitat hewan.


Ada satu hal yang kerap muncul dalam studi kami: dalam memodernisasi pertanian kita, kebijakan yang ada harus dapat memfasilitasi keterbukaan pasar yang lebih besar serta persaingan yang sehat. Sudah waktunya bagi Indonesia untuk melepaskan naluri untuk melindungi secara berlebihan dan merangkul peluang global yang ada.


Sebelum mengakhiri nawala ini, kami ingin mengucapkan selamat kepada rekan peneliti kami, Andree Surianta, atas penghargaan Hadi Soesastro Prize 2021 yang diperolehnya dari Kementerian Luar Negeri Australia. Bersama dengan salah satu Anggota Dewan CIPS, Dr. Arianto Patunru, ia belum lama ini menerbitkan analisis posisi Indonesia dalam rantai nilai global (global value chain) dalam jurnal Southeast Asian Affairs.


Apakah Anda mengenal seseorang yang mungkin tertarik dengan apa yang kami di CIPS kerjakan? Teruskanlah email ini kepada mereka dan ajaklah mereka untuk berlangganan juga di sini!




Salam hangat,


Rainer Heufers

Direktur Eksekutif

Center for Indonesian Policy Studies





 

Jangan lupa untuk membaca dan mengunduh publikasi-publikasi kami yang bisa diakses di sini. Lewat makalah-makalah ini kami memaparkan argumen-argumen berdasarkan bukti untuk merekomendasikan perubahan kebijakan yang bertujuan untuk membangun kesejahteraan dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat prasejahtera Indonesia.


 

Kerja kami bergantung pada dukungan Anda. Donasi di sini.


Ingin mendapatkan nawala bulanan dan info terkait publikasi dan acara kami? Silakan berlangganan di sini.

38 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


Commenting has been turned off.
bottom of page