top of page

Makanan Bergizi Terancam Iklim: Saatnya Bangun Sistem dan Lingkungan Pangan Adaptif

Pemerintah Indonesia tengah gencar memperkuat sektor pangan nasional melalui target swasembada dan peningkatan gizi masyarakat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).Ā 


Namun, keberhasilan peningkatan pangan dan gizi ini sangat bergantung pada faktor krusial terkait sistem pangan yang penting diperhatikan: kualitas nutrisi dan literasi gizi masyarakat. Kedua hal ini menjadi bagian dari konsorsium MyINDAH-Diet, sebuah kemitraan sembilan lembaga yang didukung KONEKSI.


ā€œSistem pangan biasanya hanya dipahami dari satu sisi. Namun, dalam proyek ini, kami melihat lebih dalam melalui pendekatan systems thinking dari kacamata berbagai pemangku kebijakan. Pemahaman yang lebih mendalam ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih komprehensif dan inklusif, dengan mempertimbangkan aspek gender, disabilitas, serta inklusi sosial,ā€ ujar Associate Professor di University of Queensland sekaligus anggota Dewan Direksi CIPS Dr. Risti Permani selaku Project LeadĀ MyINDAH-Diet.


Tantangan mendasar terlihatĀ  dari sisi suplai, di mana rantai pasok dan penanganan pasca-panen yang belum adaptif terhadap iklim berisiko memicu penyusutan nilai gizi (nutritional loss). Imbasnya, kualitas nutrisi pangan dapat menyusut sebelum diterima oleh konsumen.


Tak hanya dari hulu, tantangan signifikan bertambah di sektor hilir akibat literasi gizi masyarakat yang masih terbatas. Penelitian dari Parti Gastronomi, anggota kemitraan MyINDAH-Diet, menemukan bahwa masyarakat urban dan peri-urban di Bandung dan Yogyakarta masih sangat bergantung pada nasi, tahu, tempe, dan gorengan, dengan variasi sayur dan buah yang sangat minim.


Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa nasi putih dan mie goreng menduduki posisi teratas sebagai sumber karbohidrat utama di kedua wilayah. Dominasi nasi putih bahkan sangat mencolok dengan persentase hingga 50,4%.


Menyikapi temuan tersebut, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menekankan perlunya solusi kebijakan yang holistik dan lintas sektor. Strategi ketahanan pangan dan pemenuhan gizi nasional harus menjamin akses pangan yang terjangkau, berkualitas, serta didukung literasi gizi masyarakat yang memadai.


"Tanpa sistem pangan yang holistik dan lintas sektor, upaya membangun ketahanan pangan menjadi rentan terhadap berbagai ancaman dan gagal menjamin ketersediaan pangan sehat yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat," ujar Peneliti dan Analisis Kebijakan Senior Jimmy Daniel Berlianto.


CIPS menilai sejumlah program pemerintah memiliki potensi dampak yang besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Namun, desain dan tata kelola program tersebut perlu diperkuat agar mampu menjawab isu kualitas nutrisi dan literasi gizi secara tuntas.


Pelindungan lahan saja tidak cukup; praktik pertanian modern yang tahan iklim juga penting untuk menjaga kandungan nutrisi pangan dari hulu. Selain itu, program yang bertujuan memastikan akses pangan bagi masyarakat wajib disertai dengan edukasi gizi yang kuat.Ā 


"Kita tidak bisa memandang perbaikan gizi secara terpisah dari perkembangan sektor pertanian. Kedua hal ini saling berkaitan erat; pertanian yang tangguh menyediakan sumber nutrisi, sementara literasi gizi memastikan hasil panen tersebut dikonsumsi secara tepat guna menciptakan generasi yang sehat," pungkas Jimmy.



Tentang CIPS

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) adalah lembaga pemikir independen, nirlaba, dan non-partisan yang mengadvokasi reformasi kebijakan praktis yang diinformasikan oleh penelitian dan analisis kebijakan berbasis bukti.Ā 


Perspektif kebijakan kami didasarkan pada keyakinan bahwa hanya kebebasan sipil, politik dan ekonomi yang memungkinkan orang Indonesia mencapai kemakmuran yang lebih besar. CIPS mengadvokasi rekomendasi kebijakan kepada para pengambil keputusan di lembaga legislatif dan eksekutif pemerintah Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi CIPS: cips-indonesia.orgĀ 


Tentang MyINDAH-Diet

MyINDAH-Diet merupakan sebuah kemitraan yang menyatukan ahli dari institusi terkemuka Indonesia dan Australia, yakni University of Queensland (UQ), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), IPB University, Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), dan Parti Gastronomi.


Berkolaborasi dengan dukungan KONEKSI, MyINDAH-Diet berusaha mendorong pemahaman dan menghadirkan solusi untuk memperkuat ketahanan pangan dan gizi nasional. Inisiatif ini memadukan teknologi dengan partisipasi aktif komunitas demi membangun sistem pangan Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai MyINDAH-Diet, silakan kunjungi myindah-diet.com.


Komentar


Mengomentari postingan ini tidak tersedia lagi. Hubungi pemilik situs untuk info selengkapnya.
  • Youtube CIPS
  • Twitter CIPS
  • Instagram CIPS
  • LinkedIn CIPS
  • Email CIPS
bottom of page