Hadapi Cuaca Ekstrem, Petani dan Nelayan Butuh Pemberdayaan agar Lebih Tangguh
- Center for Indonesian Policy Studies

- 13 Feb
- 2 menit membaca
Cuaca ekstrem yang melanda Indonesia memicu gagal panen dan menghambat aktivitas nelayan di berbagai daerah. Kondisi ini juga berdampak langsung pada hilangnya pendapatan petani dan nelayan.Ā
Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menekankan pentingnya respons cepat dan strategi adaptasi iklim jangka panjang untuk melindungi kesejahteraan produsen pangan, terutama para petani dan nelayan skala kecil.
"Cuaca ekstrem membawa ancaman besar bagi petani dan nelayan karena mayoritas dari mereka masih bekerja secara konvensional. Terbatasnya pendampingan praktik budidaya dan akses teknologi modern membuat kemampuan mereka untuk mengantisipasi risiko dan mitigasi kerugian menjadi sangat lemah,ā ujar Peneliti dan Analis Kebijakan CIPS, Maria Dominika.
Laporan awal tahun 2026 dari berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, hingga Sumatra menunjukkan banjir merendam lahan sawah hingga memicu gagal panen dalam beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mencatat 95% nelayan kecil di lebih dari 350 desa sulit melaut akibat gelombang tinggi.Ā
Kerentanan yang dihadapi nelayan kian nyata karena riset CIPS (2025) mengungkapkan bahwa 90% nelayan di Indonesia beroperasi dalam skala kecil dengan kapasitas budidaya dan daya saing yang terbatas.Ā
Penelitian CIPS (2025) lainnya juga menunjukkan dua per tiga petani adalah konsumen bersih, yang berarti jumlah pangan yang mereka beli untuk kebutuhan sehari-hari lebih besar daripada hasil panen yang mereka jual.
Ā
āKondisi ini membuat petani dan nelayan menjadi lebih rentan ketika cuaca ekstrem melanda; di satu sisi mereka kehilangan pendapatan akibat gagal panen atau kesulitan menangkap hasil pangan akuatik, dan di sisi lain daya beli mereka tergerus saat harga pangan melonjak,ā tegas Maria Dominika.
Kedua studi tersebut menegaskan bahwa nelayan dan petani perlu memiliki daya tahan menghadapi guncangan risiko cuaca ekstrem. Hal ini penting untuk memastikan mereka memperoleh pendapatan yang layak dan adaptif terhadap iklim di tengah peran ganda sebagai produsen sekaligus konsumen pangan.
CIPS menilai strategi jangka panjang berupa investasi untuk modernisasi dan intensifikasi pertanian berkelanjutan menjadi krusial. Investasi diarahkan pada adopsi teknologi dan peningkatan kapasitas yang adaptif terhadap iklim.Ā
Studi CIPS (2025) menekankan bahwa modernisasi pertanian harus mencakup adopsi alat digital, seperti pertanian presisi, Internet of Things (IoT), dan sistem pertanian pintar untuk membantu petani meningkatkan produktivitas.
Di subsektor perikanan, modernisasi juga harus mencakup pengembangan praktik budidaya bagi nelayan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing, dukungan infrastruktur logistik sepanjang rantai pasok, dan inovasi teknologi ramah iklim.Ā
Secara paralel, pemerintah perlu mengalihkan pendekatan program pertanian dari subsidi input menuju bantuan langsung yang tepat sasaran dan tepat guna. Bantuan ini harus dimaknai sebagai stimulan bagi petani agar mandiri secara jangka panjang, serta didukung dengan pendampingan dan akses pasar terhadap sistem pertanian cerdas iklim.
Ā
āMayoritas rakyat yang miskin di Indonesia adalah petani dan nelayan. Guncangan eksternal seperti cuaca ekstrem akibat krisis iklim meningkatkan kerentanan mereka. Jika kita ingin menjaga masa depan pangan nasional, kebijakan perlu beralih menuju intervensi jangka panjang yang mendorong kemandirian mereka melalui peningkatan kapasitas, akses pasar, dan ruang untuk berkembang,ā ujar Maria.
CIPS mendorong pembuat kebijakan untuk memprioritaskan pemetaan data petani dan nelayan kecil yang terdampak bencana serta gagal panen, sehingga pemulihan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Secara beriringan, strategi adaptasi perubahan iklim perlu diintegrasikan dalam kebijakan pangan nasional dan daerah dengan pendekatan yang memberdayakan, termasuk mempermudah akses terhadap asuransi pertanian dan perikanan, sehingga mereka memiliki perlindungan risiko tanpa kehilangan kemandiriannya.




Komentar