Apa Itu TKDN? Regulasi Konten Lokal yang Jadi Penentu Nasib iPhone di Indonesia
- Bhimanto Suwastoyo

- 5 Jan
- 3 menit membaca
Penggemar iPhone dan mereka yang selalu getol berusaha mengikuti tren dan tampil Ā gaya, pasti sedang gundah. Masih ingatkah kamu cerita tentang produk Apple, iPhone 16 yang sudah lama ditunggu-tunggu, ternyata sempat tersandung persyaratan konten lokal Indonesia dan harus menghadapi pintu negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia ini tertutup rapat-rapat?
Indonesia, negara dengan dunia teknologi yang sedang booming tetapi juga ingin mendorong tumbuhnya bisnis lokal dan inovasi teknologi, mengacung-acungkan regulasi konten lokalnya, yang pada dasarnya mengatakan, "Hei, perusahaan asing, kalau kamu mau jual barangmu di sini, kamu harus membuat sebagiannya di sini juga"
Apa itu TKDN?
Regulasi yang dikenal sebagai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) itu seperti aturan main yang dibuat pemerintah buat memastikan barang-barang yang kita pakai, baik yang dibeli pemerintah maupun kita sendiri, itu sebagian komponennya dibuat di Indonesia. Jadi, tujuannya bagus, yaitu supaya industri dalam negeri kita makin maju dan kita nggak terlalu bergantung sama barang impor.
Bayangkan, pemerintah ingin industri-industri di Indonesia makin kuat, supaya bisa buka banyak lapangan kerja dan bikin ekonomi kita jadi lebih bagus.Ā
Aturan TKDN ini enggak asal-asalan dibuat, lho. Peraturan yang dasar hukumnya sebuah Peraturan Presiden ini judul resminya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16 Tahun 2011 tentang Ketentuan Dan Tata Cara Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri.
Dalam aturan itu, yang disebut sebagai produk dalam negeri itu adalah "barang/jasa termasuk rancang bangun dan perekayasaan yang diproduksi atau dikerjakan oleh perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di Indonesia, yang dalam proses produksi atau pengerjaannya dimungkinkan penggunaan bahan baku/komponen impor.ā Lumayan pusing kan?
Peraturan ini kayak undang-undang yang khusus mengatur tentang TKDN. Isinya tentang bagaimana cara menghitung TKDN, barang apa aja yang kena aturan ini, dan lain-lain. Intinya, TKDN ini ingin memastikan bahwa:
Barang dalam negeri lebih diutamakan. Ketika ada pengadaan barang, baik itu untuk pemerintah atau perusahaan, barang buatan Indonesia akan lebih dulu dipilih, asalkan kualitasnya bagus dan harganya nggak jauh beda.
Industri dalam negeri makin berkembang. Dengan adanya aturan ini, perusahaan-
perusahaan di Indonesia jadi lebih semangat untuk bikin produk yang berkualitas,
karena produk mereka punya peluang lebih besar untuk dipakai.
Kita nggak terlalu bergantung sama barang impor. Semakin banyak barang yang kita buat sendiri, semakin kita nggak perlu impor barang dari negara lain.
Dalam aturan TKDN yang sudah diterapkan lumayan lama ini, persentase komponen dalam negeri yang harus ada di suatu produk itu terus dinaikin dari waktu ke waktu. Tujuannya ya supaya industri dalam negeri kita makin maju.
Apakah TKDN dapat membantu industri Indonesia berkembang?
Dalam kasus iPhone 16 beberapa waktu lalu, Indonesia memutuskan bahwa produk mewah itu tidak memenuhi persyaratan konten lokal. Jadi, mereka berkata, "Tidak, tidak ada iPhone 16 untukmu!" Ini memicu debat tentang apakah regulasi ini membantu atau menghambat industri teknologi.
Ini benar-benar keseimbangan yang rumit. Kita ingin mendukung bisnis lokal dan inovasi, tapi kita juga ingin memiliki akses ke gadget teknologi terbaru dan terbaik.
Meskipun tujuannya bagus, tapi, seperti hal baik lainnya, aturan TKDN juga bisa punya
beberapa kekurangan atau tantangan. Misalnya:
Kadang, kualitas produk dalam negeri belum sebaik produk impor
Harga produk dalam negeri kadang lebih mahal
Proses untuk memenuhi persyaratan TKDN cenderung ribet
Belum lagi dituduh proteksionis oleh negara lain yang kemudian akan dapat mengambil tindakan proteksionis juga terhadap produk kita atau mengadukan kita ke pengadilan tingkat internasional
Aturan ini bisa membuat barang secara lokal kadang bisa lebih mahal. Jika perusahaan harus menggunakan bagian-bagian lokal tertentu, itu mungkin membatasi pilihan mereka dan membuat produk akhir kurang mewah.
Plus, semua aturan ini bisa jadi sumber sakit kepala bagi bisnis, dan kadang-kadang, yah, mereka mungkin akan mencari celah atau titik lemah yang bisa mereka manfaatkan, Perusahaan mungkin menggunakan interpretasi kreatif tentang konten lokal, mendapatkan komponen dari negara-negara dengan perjanjian perdagangan preferensial dengan Indonesia, dengan begitu secara efektif melewati persyaratan untuk komponen yang sepenuhnya domestik.
Beberapa perusahaan mungkin berargumen bahwa merakit produk di Indonesia, bahkan dengan sebagian besar komponen impor, memenuhi persyaratan TKDN. Sementara itu manufaktur sejati, yang melibatkan lebih banyak aktivitas bernilai tambah, mungkin tidak sepenuhnya diintensifkan.
Prosedur birokrasi yang rumit terkait kepatuhan TKDN dapat menciptakan peluang untuk manipulasi dan penundaan. Belum lagi pengawasan dan mekanisme penegakan yang tidak memadai dapat memungkinkan perusahaan untuk menghindari aturan, sementara sanksi mungkin tidak cukup berat untuk mencegah perusahaan mencari cara menghindari regulasi.
Jadi, sebenarnya TKDN ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk bikin industri dalam negeri kita jadi lebih kuat. Meskipun ada tantangannya, aturan ini punya potensi yang
besar untuk bikin ekonomi kita jadi lebih baik. Ini bisa menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekonomi lokal, dan bahkan membantu Indonesia mempelajari beberapa trik teknologi baru.









Komentar