Apa Itu Merkantilisme?
- Center for Indonesian Policy Studies

- 10 Des 2025
- 8 menit membaca
Dari abad ke-16 hingga abad ke-18, merkantilisme banyak memengaruhi kebijakan ekonomi di Eropa. Sistem ini didasarkan pada anggapan bahwa kekayaan dunia bersifat terbatas, sehingga pemerintah dianjurkan untuk mengontrol perdagangan dengan ketat guna menambah kekayaan dan memperkuat kekuasaan negara. Di bawah merkantilisme, negara-negara Eropa berusaha memperbesar porsi mereka dalam kekayaan global dengan mendorong ekspor dan membatasi impor melalui penerapan tarifĀ protektif.
Poin-Poin Utama
Merkantilisme adalah praktik ekonomi yang berkembang pada abad ke-16 hingga ke-18, di mana negara-negara berupaya untuk menambah kekayaan nasional melalui surplus ekspor dan pengaturan perdagangan yang ketat.
Sistem ini menitikberatkan pada penumpukan logam mulia dan kerap memanfaatkan kekuatan militer untuk melindungi kepentingan perdagangan serta mempertahankan monopoli.
Kebijakan merkantilisme menempatkan koloni sebagai penyedia sumber bahan baku dan pasar bagi produk ekspor, seperti yang terlihat pada Undang-Undang Gula dan Navigasi Inggris.
Meskipun sistem ini sudah ketinggalan zaman, beberapa prinsipnya masih diterapkan hingga saat ini, misalnya oleh negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia yang mengontrol perdagangan dan menerapkan tarif.
Perkembangan kapitalisme memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen dan mengurangi campur tangan pemerintah dalam perdagangan dibandingkan praktik-praktik merkantilisme yang ketat.
Mengenal Konsep Dasar Merkantilisme
Merkantilisme merupakan bentuk nasionalisme ekonomi yang berfokus pada peningkatan kekayaan dan kekuatan negara melalui kebijakan perdagangan yang ketat. Sistem ini berupaya menambah cadangan emasĀ dan perakĀ dengan kegiatan ekspor dan bukan menguranginya melalui impor.Ā Selain itu, merkantilisme juga menekankan pentingnya menjaga dan memperluas kesempatan kerja di dalam negeri.
Merkantilisme sendiri berorientasi pada kepentingan para pedagang dan produsen (termasuk entitas dagang besar seperti British East India CompanyĀ dan Dutch East India Company) serta memandang perlindungan terhadap aktivitas mereka sebagai sesuatu hal yang penting.
Selain itu, merkantilisme memiliki sejumlah karakteristik utama yang perlu diperhatikan.
Ā
1. Keyakinan Bahwa Kekayaan Bersifat Tetap
Kekayaan finansial dianggap terbatas (dikarenakan logam mulia sulit diperoleh). Negara yang ingin memperkuat kekuasaannya harus merebut kekayaan sebanyak mungkin, meskipun sering kali dengan merugikan negara lain.
2. Kebutuhan untuk Menambah Pasokan Emas
Emas dipandang sebagai sumber utama kekuatan dan kesejahteraan negara. Logam ini dapat diperlukan untuk membiayai tentara, ekspedisi laut untuk mencari sumber daya, dan ekspansi wilayah, serta berfungsi sebagai perlindungan dari ancaman luar. Kekurangan emas dapat melemahkan sebuah negara.
3. Keharusan Menjaga Surplus Perdagangan
Untuk membangun kekayaan, negara berupaya meningkatkan nilai ekspor dan pemasukan dengan terus menekan laju impor agar cadangan emas tidak berkurang.
4. Pentingnya Populasi Yang Besar
Populasi yang besar dipandang sebagai tanda kemakmuran suatu negara. Pertumbuhan penduduk dianggap penting karena mampu menyediakan tenaga kerja, mendorong aktivitas ekonomi domestik, dan menjaga kekuatan militer.
5. Koloni sebagai Sumber Kekayaan dan Perdagangan
Sejumlah negara bergantung pada koloni untuk memperoleh bahan baku, pasokan tenaga kerja, serta sarana untuk menjaga agar kekayaan tetap terkendali (misalnya dengan menjual produk yang dihasilkan dari bahan mentah koloni kepada koloni itu sendiri). Keberadaan koloni memperkuat kapasitas suatu negara dalam membangun kekayaan dan memperkuat pertahanan.
6. Penggunaan Proteksionisme
Untuk menjaga kapasitas suatu negara dalam menciptakan dan mempertahankan surplus perdagangan, pemerintah menerapkan larangan bagi koloni untuk berdagang dengan negara lain sekaligus memberlakukan tarif atas barang impor.
Kebangkitan dan Pengaruh Historis Merkantilisme
Berawal dari Eropa pada abad ke-16, merkantilisme dibangun atas gagasan bahwa suatu negara dapat meningkatkan kekayaan dan kekuasaannya dengan memperbesar ekspor dan membatasi impor.
Merkantilisme muncul sebagai pengganti sistem feodalisme di Eropa Barat.Ā Inggris, yang merupakan pusat dari Britania Raya, pada masa itu diketahui memiliki sumber daya alam yang cukup terbatas.
Untuk menambah kekayaannya, Inggris memberlakukan serangkaian kebijakan fiskalĀ yang bertujuan untuk membatasi koloninya dalam membeli barang dari negara lain, sekaligus memberikan insentif guna mendorong penggunaan produk-produk asal Inggris. Sebagai contoh, Undang-Undang Gula tahun 1764 menaikkan bea masuk atas gula rafinasi dan molase asing yang diimpor oleh koloni. Peningkatan tarif ini dirancang untuk memastikan bahwa produsen gula Inggris di Hindia Barat memperoleh kendali monopolis atas pasar kolonial.
Selain itu, Undang-Undang Navigasi tahun 1764 melarang kapal asing berdagang di sepanjang pesisir Inggris dan mewajibkan ekspor dari koloni untuk melewati otoritas Inggris terlebih dahulu sebelum kemudian didistribusikan kembali ke berbagai wilayah Eropa.
Langkah-langkah tersebut menciptakan neraca perdaganganĀ yang positif, yang turut berkontribusi pada bertambahnya kekayaan nasional Inggris.
Dalam sistem merkantilisme, negara-negara kerap mengerahkan kekuatan militernya untuk memastikan bahwa pasar domestik serta sumber-sumber pasokan tetap terlindungi. Para penganut merkantilisme juga beranggapan bahwa kondisi ekonomi suatu negara dapat dinilai dari jumlah logam mulia, seperti emas dan perak, yang dimilikinya. Jumlah logam mulia tersebut akan meningkat seiring dengan berkembangnya pembangunan perumahan baru, bertambahnya hasil pertanian, serta menguatnya armada dagang yang mampu memasok lebih banyak pasar dengan barang jadi maupun bahan baku.
Dinamika Merkantilisme Prancis di Bawah Colbert
Jean-Baptiste Colbert (1619ā1683) adalah sosok Menteri Keuangan Prancis yang dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan merkantilisme berkat pemahamannya akan berbagai teori ekonomi perdagangan luar negeri. Ia juga menduduki jabatan yang ideal untuk dapat menerapkan gagasan-gagasan merkantilistik secara langsung.7Ā Sebagai seorang pendukung setia monarki, Colbert mengusulkan strategi ekonomi yang dapat melindungi kekuasaan kerajaan Prancis dari meningkatnya pengaruh kelas pedagang Belanda.
Ia juga memperluas ukuran armada laut Prancis karena meyakini bahwa penguasaan jalur perdagangan merupakan kunci untuk meningkatkan kekayaan negara.Ā Meskipun kebijakan-kebijakannya pada akhirnya tidak memberikan hasil yang diharapkan, gagasan Colbert memperoleh dukungan luas pada masanya, sebelum kemudian tergeser oleh berkembangnya teori ekonomi pasar bebas.
Masa Kolonial Inggris: Praktik Merkantilisme Secara Nyata
Koloni-koloni Inggris merasakan berbagai dampak langsung maupun tidak langsung dari kebijakan merkantilisme yang diterapkan di dalam negeri. Berikut beberapa contohnya:
Pengendalian produksi dan perdagangan: Kebijakan merkantilisme mendorong diberlakukannya berbagai pembatasan perdaganganĀ yang sangat ketat, yang akhirnya menghambat pertumbuhan serta ruang gerak pelaku usaha di wilayah koloni.
Perluasan perdagangan budak: Pada masa kolonial Inggris, jalur perdagangan menjadi terpusat antara Britania Raya, koloni-koloninya, dan pasar internasional. Pola ini turut mendorong semakin meluasnya praktik perdagangan budak di berbagai koloni, termasuk di Amerika. Koloni memasok rum, kapas, dan berbagai komoditas yang diminati para penguasa Afrika, sementara para budak dikirim ke Amerika atau Hindia Barat dan ditukar dengan gula serta molase.
Inflasi dan perpajakan:Ā Pemerintah Inggris menetapkan bahwa seluruh aktivitas perdagangan harus menggunakan emas dan perak demi mempertahankan surplus neraca dagang.Ā Namun, sebagian besar koloni sering kali tidak memiliki cadangan yang memadai untuk menunjang kebutuhan transaksi domestik, sehingga mereka mengeluarkan uang kertasĀ sebagai alternatif.Ā Sayangnya, pengelolaan uang kertas yang buruk kemudian malah memicu periode inflasi. Pada saat yang sama,Ā Inggris hampir terus-menerus berada dalam situasi perang, pungutan pajak semakin tinggi untuk membiayai angkatan darat dan laut. Kombinasi antara pajak berat dan inflasi ini akhirnya menimbulkan rasa ketidakpuasan yang meluasĀ di kalangan penduduk koloni.
Dampak dan Reaksi Terhadap Merkantilisme di Masa Amerika Kolonial
Para pendukung merkantilisme berpendapat bahwa sistem ini mampu memperkuat perekonomian dengan menyatukan kepentingan koloni dan negara induk. Secara konseptual, selama para kolonialis Inggris memproduksi barang mereka sendiri dan memperoleh kebutuhan lain melalui perdagangan dengan tanah asal mereka, mereka dianggap bebas dari pengaruh negara-negara yang tidak bersahabat.
Bahan baku yang berasal dari koloni memainkan peran penting bagi Britania Raya, khususnya dalam menunjang sektor manufaktur yang produktif.
Di sisi lain, para penentang merkantilisme berargumen bahwa pembatasan perdagangan internasionalĀ justru akan meningkatkan pengeluaran, karena setiap barang imporādari mana pun asalnyaāharus diangkut menggunakan kapal Inggris. Akibatnya, harga barang di koloni meningkat tajam, sehingga banyak pihak menilai bahwa kerugian sistem ini lebih besar jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari afiliasi dengan Britania Raya.
Setelah menanggung biaya perang besar melawan Prancis, Inggris menaikkan pajak terhadap koloni. Kebijakan ini memicu boikot yang menurunkan impor dari Inggris hingga sepertiga. Peristiwa ini kemudian diikuti oleh Boston Tea Party pada tahun 1773, di mana para kolonialis Boston yang menyamar sebagai penduduk asli menyerbu tiga kapal Inggris dan membuang ratusan peti teh ke pelabuhan sebagai bentuk protes terhadap pajak teh Inggris dan monopoli East India Company. Untuk memperkuat kontrol merkantilisnya, Britania Raya malah semakin menekan koloni, yang pada akhirnya memicu pecahnya Perang Revolusi Amerika.
Peran Pedagang dalam Sistem MerkantilismeĀ
Pada awal abad ke-16, para ahli keuangan Eropa mulai menyadari peran penting yang dimainkan oleh kelas pedagang dalam menciptakan kekayaan. Kota-kota dan negara-negara yang memiliki komoditas untuk dijual mulai berkembang pesat pada akhir Abad Pertengahan.
Banyak pihak kemudian berpendapat bahwa pemerintah sebaiknya membiarkan para pedagang terkemuka untuk membentuk monopoli dan kartel eksklusif yang diawasi oleh negara. Untuk melindungi perusahaan monopolis ini dari persaingan domestik maupun asing, pemerintah pun menerapkan regulasi, memberikan subsidi, dan menggunakan kekuatan militer bila perlu.
Masyarakat bisa menanamkan modal pada perusahaan merkantilis dan memperoleh kepemilikan serta tanggung jawab terbatas sesuai piagam kerajaan. Investor kemudian akan menerima sebagian keuntungan perusahaan. Pada dasarnya, sistem ini merupakan awal mula perdagangan saham korporasi.
Perusahaan merkantilis yang paling terkenal dan berpengaruh adalah British East India Company dan Dutch East India Company. Selama lebih dari 250 tahun, British East India Company memegang hak eksklusif yang diberikan oleh kerajaan Inggris untuk melakukan perdagangan antara Britania Raya, India, dan Tiongkok, dengan jalur perdagangan dilindungi oleh Angkatan Laut Kerajaan.
PENTING
Sejumlah pakar menilai merkantilisme sebagai pendahulu kapitalisme, karena sistem ini mengutamakan rasionalitas dalam setiap kegiatan ekonomi, termasuk pertimbangan untung dan rugi.
Merkantilisme vs. Imperialisme
Pemerintah yang menganut merkantilisme berupaya untuk mengelola perekonomian negara demi mencapai neraca perdagangan yang menguntungkan. Sementara itu, imperialisme memanfaatkan kekuatan militer dan imigrasi massal untuk menerapkan prinsip merkantilisme di wilayah yang kurang berkembang. Penduduk setempat juga dipaksa untuk mematuhi hukum negara penguasa melalui kampanye militer.Ā Salah satu contoh nyata penerapan merkantilisme dan imperialisme adalah pembentukan koloni Amerika oleh Britania Raya.
Merkantilisme vs. Kapitalisme
Dalam sistem kapitalisme, perdagangan bebas memungkinkan barang untuk dijual dengan harga yang lebih murah, sedangkan merkantilisme membatasi impor dan pilihan konsumen. Dengan berkurangnya impor, persaingan menurun dan harga pun cenderung lebih tinggi.
Negara-negara merkantilis sering kali terlibat perang untuk menguasai sumber daya, sementara negara-negara yang menerapkan perdagangan bebas berkembang melalui hubungan dagang yang saling menguntungkan.
Dalam bukunya The Wealth of Nations, ekonom ternama Adam SmithĀ menyatakan bahwa perdagangan bebas memungkinkan pelaku usaha untuk berspesialisasi dalam memproduksi barang dengan cara yang paling efisien. Hal ini mendorong produktivitas yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi dalam skala yang lebih besar.
Merkantilisme Saat Ini
Kini, merkantilisme dianggap sebagai sistem yang telah ketinggalan zaman. Perang Dunia II menyoroti risiko kebijakan berorientasi nasionalistik, dan mendorong dunia untuk mengutamakan perdagangan global dan kerja sama internasional sebagai upaya mitigasi.
Meskipun demikian, praktik merkantilisme sulit untuk sepenuhnya dihindari. Sebagai contoh, setelah perang berakhir, hambatan perdagangan masih tetap digunakan untuk melindungi industri lokal yang sudah mapan. Sebagai contoh, Amerika Serikat memberlakukan kebijakan perdagangan proteksionis terhadap Jepang dan melakukan negosiasi dengan pemerintah Jepang untuk membatasi ekspor secara sukarela, sehingga jumlah ekspor Jepang ke Amerika Serikat menjadi terbatas.
Hingga saat ini, Rusia dan Tiongkok masih menerapkan sistem merkantilis karena sistem ini sejalan dengan bentuk pemerintahan masing-masing negara tersebut. Keduanya sangat mengandalkan kemampuan negara untuk mengendalikan perdagangan luar negeri, neraca pembayaran, dan cadangan devisa. Selain itu, Rusia dan Tiongkok juga berupaya meningkatkan daya tarik ekspor mereka dengan menetapkan harga yang relatif lebih rendah.
Pada tahun 2018, Presiden Trump memberlakukan tarif atas impor dari Tiongkok, sehingga memicu perang dagang yang masih berlangsung hingga sekarang.
Apa Keyakinan Utama Merkantilisme?
Paham merkantilisme berlandaskan pada beberapa keyakinan utama, antara lain bahwa kekayaan dunia terbatas dan tersimpan dalam bentuk emas dan perak; negara-negara harus menambah cadangan emas mereka dengan mengurangi cadangan negara lain; koloni memegang peran penting sebagai sumber tenaga kerja dan mitra perdagangan; angkatan darat dan laut diperlukan untuk melindungi praktik perdagangan; serta proteksionisme dibutuhkan untuk menjamin tercapainya surplus perdagangan.
Apa Perbedaan Antara Kapitalisme dan Merkantilisme?
Perbedaan utama antara kedua paham ini terletak pada peran negara. Kapitalisme menekankan intervensi pemerintah seminimal mungkin, dengan kepemilikan modal, perdagangan, dan industri berada di tangan individu atau pihak swasta. Sebaliknya, merkantilisme melibatkan kontrol dan regulasi oleh negara. Kapitalisme dianggap mendorong kebebasan individu, sedangkan merkantilisme cenderung membatasinya.
Apakah Merkantilisme Masih Digunakan Saat Ini?
Merkantilisme masih dipraktikkan di sejumlah negara hingga saat ini, terutama oleh pemerintahan yang berupaya untuk mempertahankan kendali atas kepemilikan properti, perdagangan, dan penciptaan kekayaan.
Kesimpulan
Sebagai pendahulu teori ekonomi perdagangan bebas, merkantilisme sempat menjadi sistem yang mendominasi dunia selama tiga abad. Teorinya yang menekankan pada pembangunan kekayaan dan kekuatan negara mendorong penerapan proteksionisme untuk meningkatkan ekspor sekaligus membatasi impor. Sistem ini juga memicu era penjelajahan dan kolonisasi untuk mengamankan bahan baku, mitra dagang yang bisa dikendalikan, serta aliran kekayaan bersih.Ā
Saat ini di berbagai belahan dunia, merkantilisme telahĀ digantikan oleh sistem perdagangan bebas dan kapitalisme.. Namun, prinsip-prinsipnya masih terlihat, misalnya melalui tarif yang diterapkan oleh pemerintah negara-negara yang berupaya mencapai neraca perdagangan yang seimbang (atau kadang tidak seimbang) dengan negara lain.
Catatan:
Artikel ini ditulis oleh Will Kenton dan dipublikasikan oleh Investopedia. CIPS menerjemahkan dan menggunakannya untuk tujuan pendidikan sebagai referensi bacaan tambahan mahasiswa dalam CIPS Learning Hub Teaching Toolkit. Artikel ini tidak mencerminkan pandangan CIPS.









Komentar