top of page

Perempuan dan Ketahanan Pangan: Peran Signifikan yang Melampaui Sekat Dapur

Bicara tentang dapur, banyak orang di Indonesia seringkali langsung membayangkan sosok perempuan. Ironisnya, saat membicarakan masa depan pangan Indonesia, perempuan justru sering kali luput dari bagian utama percakapan. Padahal, perempuan memegang peran yang signifikan dalam sistem pangan; mengelola di sisi produksi, mengolah hasil pertanian, hingga turut menentukan pemenuhan gizi keluarga.


Namun, besarnya kontribusi tersebut tidak selalu diikuti dengan akses dan dukungan yang adil. Di banyak daerah, perempuan masih menghadapi berbagai hambatan untuk mengembangkan kapasitas, mengakses sumber daya, dan berpartisipasi lebih luas dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan usaha tani dan sistem pangan.


Pengalaman Yayasan Usaha Mulia (YUM) dan Syngenta Indonesia membuktikan kondisi tersebut. Di balik aktivitas mereka dalam kegiatan budidaya, petani perempuan masih memikul tanggung jawab domestik yang membatasi waktu dan akses terhadap pelatihan maupun pengembangan kapasitas.


ā€œBeban ganda terlihat sangat jelas. Bertani saja sudah membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Di saat yang sama, mereka juga harus mengurus keluarga, anak, dan pekerjaan domestik lainnya. Karena itu, ketika kami mengadakan pelatihan atau pertemuan, kami harus menyesuaikan jadwal dengan waktu yang mereka miliki,ā€ kata Executive Director YUM, Vanessa Reksodipoetro.


Temuan Syngenta Indonesia di lapangan melalui Program PUTRI juga menunjukkan bahwa kontribusi para perempuan di sektor pertanian begitu beragam. Petani perempuan yang aktif tidak hanya para pemilik lahan, tetapi juga mencakup penggarap, penyewa lahan, hingga buruh tani.Ā 


Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam diskusi "Melampaui Sekat Dapur: Ruang Gerak Perempuan untuk Masa Depan Pangan" dalam acara BEKAL MAPAN yang diselenggarakan oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS). Diskusi ini menyoroti bagaimana perempuan berperan dalam sistem pangan, sekaligus berbagai tantangan yang masih membatasi potensi mereka.


Bagi CIPS, berbagai pengalaman di lapangan tersebut menunjukkan bahwa perempuan memegang peran yang signifikan dalam sistem pangan, mulai dari produksi, pengolahan hasil pertanian, hingga pemenuhan gizi keluarga. Namun, kontribusi tersebut sering kali belum sepenuhnya tercermin dalam data, kelembagaan, maupun program pembangunan pertanian.


ā€œStudi dan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa perempuan memegang peran penting dalam sektor pangan dan pertanian. Karena itu, peran tersebut perlu tercermin dalam data, kelembagaan, dan program pembangunan agar potensinya dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan,ā€ ujar Peneliti dan Analis Kebijakan CIPS, Maria Dominika (Monik).


CIPS menilai masih terbatasnya pengakuan terhadap peran perempuan dalam sektor pangan dapat berdampak pada efektivitas kebijakan dan program pembangunan. Ketika kontribusi perempuan tidak tercatat secara memadai, kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi berisiko tidak terakomodasi dalam berbagai intervensi yang dirancang pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya.


Karena itu, perempuan yang aktif bekerja di sektor pertanian perlu diakui secara lebih adil agar kebijakan dapat menjangkau seluruh pelaku yang berkontribusi dalam sistem pangan. Program pemberdayaan perempuan juga perlu membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam produksi, pengambilan keputusan, pengembangan usaha tani, hingga kepemimpinan di tingkat komunitas.


ā€œKetahanan pangan nasional pada akhirnya tidak bergantung pada produksi, lahan, atau teknologi semata. Ketahanan pangan juga tentang memastikan seluruh sumber daya manusia yang terlibat dalam sistem pangan dapat berkembang dan berperan secara optimal,ā€ tutup Monik.


Komentar


Mengomentari postingan ini tidak tersedia lagi. Hubungi pemilik situs untuk info selengkapnya.
  • Youtube CIPS
  • Twitter CIPS
  • Instagram CIPS
  • LinkedIn CIPS
  • Email CIPS
bottom of page