top of page

Di Tengah El Niño "Godzilla", Mengapa Sistem Pertanian Adaptif Menjadi Kian Penting?

10 Jul
3 menit membaca

Fenomena El Niño kembali menguji ketangguhan bangsa kita. Bukan sekadar cuaca yang semakin panas atau musim hujan yang bergeser, melainkan dampak langsungnya terhadap pertanian—sektor vital perekonomian—dan ketahanan pangan nasional.


Memasuki pertengahan 2026, Indonesia menghadapi fenomena El Niño yang memicu musim kemarau lebih cepat, lebih kering, dan lebih panjang dari biasanya. BMKG memperkirakan sekitar 61 persen wilayah Indonesia akan mengalami puncak kekeringan pada Agustus.


Kondisi ini diperparah oleh Positive Indian Ocean Dipole (IOD), yang menekan pembentukan awan dan menurunkan curah hujan drastis di Pantura Jawa, Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Pertanian pun menjadi sektor paling rentan. Ketergantungan kronis pada sistem konvensional yang tidak ramah lingkungan membuat anomali cuaca ini menimbulkan kerentanan struktural yang masif.


Badan Pusat Statistik (BPS) juga telah mengingatkan bahwa inflasi pangan masih rentan bergejolak. Produksi beras dan komoditas pokok menurun tajam, sementara permintaan tetap tinggi sehingga harga melonjak. Kenaikan sekecil apa pun terasa berat, apalagi ketika harga-harga sudah lebih dulu naik akibat perang Iran yang berkepanjangan dan nilai tukar rupiah yang melemah.


Ancaman ini bukan hal baru. Setiap kali cuaca ekstrem datang, sektor pangan hampir selalu menjadi korban utama. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya respons cepat saat krisis, melainkan sistem yang siap menghadapi gangguan sejak awal.


Stok Pangan Bukan Jaminan Ketahanan Pangan


Rahmad Supriyanto, Peneliti dan Analis Kebijakan Senior Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), menegaskan bahwa menghadapi El Niño “Godzilla” dengan pendekatan konvensional dan reaktif sudah tidak relevan. Diperlukan sinergi antara intervensi pemerintah dan adopsi teknologi adaptif oleh petani.


Selama ini, kebijakan pertanian nasional terlalu sering berfokus pada intervensi jangka pendek yang bersifat kosmetik, seperti bantuan darurat pasca-bencana atau subsidi input kimiawi yang justru merusak ekosistem tanah. Pendekatan lama ini menciptakan lingkaran setan kekeringan: tanah kehilangan bahan organik, tidak mampu mengikat air, sehingga dampak kemarau berlipat ganda.


Pemerintah memang menyebut stok pangan masih aman. Kementerian Pertanian bahkan menegaskan cadangan beras pemerintah berada di level tinggi pada awal April 2026.


Namun, stok pangan yang aman tidak otomatis berarti sistem pangan kita kuat. Selama produksi di lapangan mudah terganggu oleh kekeringan, masalah yang sama akan terus berulang. Karena itu, membenahi hulu pertanian menjadi kunci.


Pertanian Adaptif untuk Menghadapi Krisis Iklim


Transformasi menuju sistem pertanian adaptif harus dipercepat dengan mengutamakan produksi yang responsif terhadap perubahan iklim. Bentuknya bisa berupa penggunaan varietas tahan kering, pengelolaan air yang lebih hemat, teknik budidaya efisien, intensifikasi lahan, hingga pemanfaatan teknologi modern. Intinya, petani perlu dibekali

cara bertani yang lebih cerdas, bukan sekadar lebih keras.


Di era sekarang, bertani tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun. Teknologi berperan penting: membantu membaca kondisi lahan, mengatur air, memilih varietas tepat, hingga mengurangi risiko gagal panen.


Modernisasi pertanian perlu dipercepat melalui pendekatan seperti climate smart agriculture, pertanian presisi berbasis IoT, dan benih tahan kekeringan. Jika diterapkan dengan baik, petani akan lebih siap menghadapi musim kering maupun cuaca ekstrem lainnya.


Ketahanan pangan tidak bisa diselesaikan dengan satu-dua langkah cepat. Pemerintah perlu kebijakan yang mendorong transformasi jangka panjang, bukan sekadar solusi reaktif saat krisis.


Dukungan terhadap inovasi, insentif bagi praktik ramah iklim, serta akses teknologi yang mudah bagi petani kecil menjadi keharusan. Tanpa itu, modernisasi hanya akan berhenti sebagai wacana.


El Niño “Godzilla” adalah pengingat bahwa ketahanan pangan Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Selama sistem pertanian belum cukup tangguh, cuaca ekstrem akan terus menjadi ancaman.


Karena itu, pertanian adaptif bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Indonesia punya modal besar untuk berbenah, hanya tinggal bagaimana kebijakan dan inovasi diarahkan agar petani lebih siap, produksi tetap terjaga, dan pangan nasional lebih aman ke depan.

Komentar


Mengomentari postingan ini tidak tersedia lagi. Hubungi pemilik situs untuk info selengkapnya.
  • Youtube CIPS
  • Twitter CIPS
  • Instagram CIPS
  • LinkedIn CIPS
  • Email CIPS
bottom of page