• CIPS Indonesia

Usulan Importir Bawang Putih Ekspor Bawang Merah Tidak Realistis

Siaran Pers - Jakarta, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Felippa Ann Amanta menilai usulan untuk mewajibkan impor bawang putih untuk mengekspor bawang merah sebanyak tiga kali lipat dari volume impor yang diajukan tidak realistis. Felippa menilai usulan ini justru berpotensi membuat harga keduanya, yaitu bawang putih dan bawang merah, semakin tinggi dan tidak terjangkau masyarakat.


Felippa menjelaskan, saat ini Indonesia masih perlu mengimpor bawang putih karena tingkat konsumsi yang tinggi. Tingginya tingkat konsumsi belum mampu didukung oleh jumlah produksi dalam negeri. Berdasarkan data BPS, tingkat konsumsi bawang putih pada 2018 mencapai 503.644 ton. Sementara itu produksinya hanya sejumlah 39.302 ton.


Berdasarkan studi dari Bappenas, sejak 1990 hingga 2016, konsumsi bawang putih di Indonesia terus meningkat sebanyak 11,24% per tahun. Bertambahnya tingkat konsumsi membuat Indonesia harus mengimpor sekitar 95% kebutuhan bawang putihnya.  Impor bawang putih sudah diregulasi melalui penetapan kuota melalui Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 30 Tahun 2017 serta peraturan wajib tanam yang tercantum di Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 38 Tahun 2017.


“Peraturan wajib tanam yang mengharuskan importir menanam sebesar 5% dari volume impor juga tidak realistis dengan keadaan. Ada beberapa hal yang memengaruhi, seperti ketidakmampuan importir untuk menanam, sulitnya mencari kelompok petani yang bisa diajak bekerja sama, modal menanam bawang putih yang besar, iklim serta susahnya mencari lahan tanam,” jelas Felippa.


Alhasil, implementasi peraturan ini sering kali gagal meskipun importir sudah bekerja sama dengan petani bawang putih. Malahan, peraturan ini malah membuka ruang untuk korupsi, seperti yang kita lihat di kasus korupsi bawang putih tahun 2019 lalu. Di sisi lain Indonesia sudah swasembada bawang merah sehingga mampu mengekspor. Jika dibandingkan, menurut data BPS, produksi bawang putih di tahun 2018 sebanyak 39.302 ton, sementara produksi bawang merah sebanyak 1.503.438 ton.


“Ekspor bawang merah tentunya perlu terus didukung, namun bukan dengan cara menghubungkannya dengan impor bawang putih. Jika impor bawang putih dihubungkan dengan ekspor bawang merah, pasokan dan harga bawang putih bisa terancam. Harga bawang putih yang sekarang sudah fluktuatif, bisa terancam menjadi semakin melambung jika impor dibatasi oleh peraturan ini karena para importir terbebani oleh keharusan mengekspor,” jelas Felippa.


Selain itu, peraturan ini berpotensi membuat distorsi pasar bawang merah. Dorongan bagi petani untuk mengekspor bawang merahnya ke luar negeri bisa mengancam pasokan bawang merah dalam negeri yang berpotensi mengakibatkan harga bawang merah ikut melambung.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies