• ekytriwulan7

Tingkatkan Nilai Ekspor, Indonesia Harus Intensifkan Ekspor ke Negara Non Tradisional

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


18 Juli 2018 – JAKARTA, Di tengah hangatnya wacana pencabutan fasilitas generalized system of preference (GSP) oleh Amerika Serikat kepada sejumlah komoditas ekspor Indonesia, Indonesia sebenarnya masih sangat berpotensi meningkatkan nilai ekspornya. Salah satunya adalah melalui ekspor ke negara-negara non tradisional.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karin Saputri mengatakan, pasar ekspor ke negara-negara non tradisional dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi defisit neraca perdagangan. Nilai ekspor Indonesia terhadap negara non tradisional relatif mengalami surplus dalam satu tahun terakhir terutama ke Turki dan Bangladesh.


Nilai neraca perdagangan Indonesia dengan Turki terus mengalami peningkatan. Pada 2013, nilainya mencapai USD 221.265,8 dan naik menjadi USD 415.483,7 pada 2014 dan USD 909.011,9 pada 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi USD 712.915,4 dan USD 634.871,7. Nilai neraca perdagangan yang terus meningkat juga terjadi pada Indonesia dengan Bangladesh. Pada 2013 nilainya adalah USD 978.289,7 dan meningkat menjadi USD 1.306.319,2 pada 2014. Pada 2015 ada sedikit penurunan menjadi USD 1.281.323,2 dan kembali naik pada 2016 menjadi USD 1.198.283,8 dan USD 1.522,607,9 pada 2017.


Neraca perdagangan Indonesia dengan dua negara tersebut mengalami kenaikan surplus masing-masing sejumlah 48,97% untuk Turki dan 43,44% untuk Bangladesh. Kondisi Ini menjelaskan bahwa produk Indonesia diterima dengan baik oleh negara – negara non tradisional.


“Selain peningkatan kualitas produk Indonesia supaya daya saing makin kuat, sudah saatnya pemerintah melihat potensi dari negara-negara non tradisional. Pemetaan penting dilakukan supaya pasar untuk produk Indonesia semakin luas,” urai Novani.


Ia menyebut, Indonesia harus memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional, terutama yang sudah berlangsung, untuk meningkatkan volume nilai ekspor Indonesia. Kesempatan ini adalah kesempatan yang baik terutama di tengah defisit neraca perdagangan. Selain mendapatkan pangsa pasar baru, Indonesia juga dapat memperoleh penghapusan dan / atau pengurangan tarif impor untuk beberapa produk Indonesia yang selama ini sudah tercantum dalam perundingan lndonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).


Indonesia harus mempertimbangkan negara – negara non tradisional yang berpotensi besar untuk menyerap produk – produk ekspornya. Pemerintah harus segera menganalisis dengan baik seputar keuntungan yang selama ini telah diperoleh dari transaksi perdagangan Internasional dengan negara non tradisional.


“Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor ke negara selama ini sudah lama mengadakan perjanjian dagang, tetapi juga harus melebarkan sayap ekspor ke negara – negara non tradisional dengan memperhatikan pasar dan kebutuhan di negara tersebut. Perlu adanya upaya untuk membentuk segmen pasar dalam negeri yang mampu menyediakan kebutuhan – kebutuhan negara non tradisional. Beberapa negara – negara non tradisional mengalami pertumbuhan ekonomi yang menggiurkan dan ini tepat bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor ke negara tersebut,” jelasnya.


Mantan peneliti Lembaga Manajemena Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga mengatakan, logikanya, negara – negara tradisional yang selama ini mengadakan transaksi perdagangan dengan Indonesia pasti juga sedang menyesuaikan gejolak global yaitu tingginya harga komoditas. Sehingga perlu adanya upaya “diversifikasi” pasar yang sebelumnya belum maksimal bekerjasama dengan Indonesia dan memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang bagus. Pasar yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang bagus, akan memberikan peluang bagus untuk surplus perdagangan Indonesia.


Negara – negara seperti Arab, Turki dan Bangladesh memiliki peluang yang bagus karena ketiga negara ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat. Belum lagi Afrika yang sekarang mengalami pertumbuhan penduduk yang relatif cepat sehingga diprediksi kebutuhan akan produk – produk tertentu pun akan meningkat.


Pemerintah perlu melakukan beberapa upaya untuk mendongkrak nilai ekspor di negara – negara non tradisional, seperti meninjau kawasan yang memiliki potensi daya beli yang tinggi. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kerjasama bilateral dengan negara – negara non tradisional lewat kerangka seperti CEPA dan PTA yang dapat memberikan keuntungan dalam perdagangan seperti penghapusan dan/ pengurangan hambatan bea masuk.


Pemerintah juga dapat menciptakan pasar baru yang mampu memproduksi produk – produk dengan kualitas yang sesuai dengan harapan pasar di negara – negara non tradisional. Sehingga Indonesia harus menciptakan potensi bisnis baru yang dapat memaksimalkan nilai ekspor.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies