• ekytriwulan7

Target Serapan Gabah Pemerintah Tidak Realistis

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


8 Agustus 2018 – JAKARTA, Target serapan gabah yang dicanangkan pemerintah tidak realistis untuk kondisi Indonesia saat ini. Tidak realistisnya target ini adalah karena Indonesia belum memiliki tingkat produktivitas yang memadai untuk memberikan toleransi harga yang diinginkan oleh Bulog.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, mekanisme untuk memenuhi target serapan gabah ini mengharuskan Bulog untuk menyerap gabah petani dengan target penyerapan sebesar 2,7 juta ton hingga akhir tahun 2018. Target penyerapan ini dibagi menjadi dua term yaitu Januari – Juli 2018 sebesar 2,31 juta ton dan sisanya di bulan Agustus hingga September. Namun sayangnya hingga akhir bulan juli target penyerapan hanya terealisasi sebesar 5,3%. Nilai ini sangat jauh dari target pemerintah.


“Tujuannya untuk memperkuat cadangan beras pemerintah sekaligus membantu petani gabah agar gabah mereka laku terjual. Namun sayangnya dengan kondisi saat ini, dimana kemarau panjang yang diprediksi terjadi hingga akhir bulan November dan serangan hama dapat menjadi kendala dalam produktivitas gabah. Kondisi ini sangat berpotensi mengganggu target hulu produksi terutama untuk sektor pertanian,” jelasnya.

Dicanangkannya target serapan gabah ini memang dilandasi pertimbangan potensi panen yang cukup besar di beberapa wilayah. Namun sayangnya target tersebut sulit dicapai mengingat potensi panen pada periode ini relatif lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.


Gabah yang sepenuhnya akan diserap oleh pemerintah akan dibeli dengan harga minimal HPP. Namun sayangnya nilai HPP justru terlalu rendah karena harga di pasar selalu jauh lebih tinggi. Hal ini tentu akan membuat petani merugi. Pasalnya dengan kondisi stok panen gabah terbatas dan petani harus berhadapan dengan musim kemarau panjang, biaya produksi juga akan meningkat. Biaya produksi yang tinggi mau tidak mau akan memengaruhi harga beras.


Saat ini harga gabah meningkat dan diprediksi akan terus meningkat hingga akhir tahun. Jelas ini akan berpengaruh pada produk beras dan setara beras. Saat ini petani menjual dengan harga yang tinggi, namun tingginya harga saat ini tidak dapat diartikan sebagai petani mendapat untung yang banyak karena petani juga mengalami penurunan produksi. Penurunan ini mencapai 20-60% dari produksi normal. Petani tidak dapat mengharapkan hasil panen periode kedua karena cuaca yang diprediksi tidak berubah.


“Lebih baik pemerintah mempertimbangkan kembali target penyerapan yang saat ini tidak realistis. Jangan memaksa petani dengan produktivitas rendah untuk menjual harga sesuai harapan pemerintah. Tidak tepat dengan kondisi saat ini pemerintah melakukan penyerapan dan menyimpan cadangan beras mengingat jumlah permintaan beras terus meningkat dan terancam tidak dapat dipenuhi oleh produksi domestik. Saat ini biarkan petani menjual sesuai dengan harga pasar. Pemerintah cukup memastikan tidak ada pihak yang mendistorsi pasar gabah dan beras.,” ungkapnya.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies