• Admin

Target Produksi Jagung 2018 30 Juta Ton Tidak Realistis

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


25 September 2018 – JAKARTA, Target produksi jagung nasional sebesar 30 juta ton tidak realistis. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, tidak realistisnya target ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti cara pemerintah menghitung proyeksi ini hanya didasarkan pada potensi benih jagung yang dikalikan luas lahan. Sementara itu variabel lainnya tidak diikutsertakan yaitu produksi panen yang tercecer saat proses distribusi atau pengangkutan dan produksi panen yang tidak memenuhi standar / busuk.


“Selain itu, angka ini akan sulit dicapai karena mesin pengering masih jarang ditemui di desa-desa penghasil jagung. Dengan adanya mesin pengering, petani tidak perlu mengeringkan jagung di bawah terik matahari, mesin pengering juga akan sangat membantu petani saat musim hujan,” jelas Imelda.


Mesin pengering akan membantu mengurangi kadar air pada jagung karena kadar air akan memengaruhi harga jagung itu sendiri. Semakin kecil kadar airnya, maka akan semakin tinggi harga yang diberikan sekaligus memperpanjang daya tahan jagung saat disimpan. Khusus untuk jagung yang akan dijadikan bahan baku pakan ternak, jagung yang dikeringkan dengan mesin pengering akan berkualitas lebih baik daripada yang tidak dikeringkan dengan mesin pengering. Kalau tanpa mesin pengering kadar air nya bisa lebih dari 17KA, dengan adanya mesin pengering ini bisa mecapai 14 KA.


Untuk menghitung target produksi, ada beberapa variabel yang harus diikutsertakan, seperti jagung yang busuk, jagung yang tercecer saat distribusi, variabel eksternal seperti cuaca, sistem irigasi dan juga serangan hama.


Imelda menyoroti dampak dari kurangnya suplai jagung. Kurangnya suplai jagung yang tercermin dari tingginya harga jagung akan membuat para pengusaha pakan ternak beralih dari jagung sebagai komponen utama pakan ternak. Mereka akan beralih menggunakan bahan baku lain seperti gandum. Hal ini akan berakibat buruk kepada para petani jagung karena hasil produksi mereka tidak diserap oleh pasar. Perubahan minat pasar seperti ini harus diantisipasi dengan suplai jagung yang memadai.


“Lebih dari 45% pakan ayam berasal dari jagung sehingga kelangkaan jagung pasti akan memengaruhi produksi pakan nasional. Belum lagi jumlah produksi jagung harus berebut dengan permintaan konsumen yang ditujukan untuk non pakan ternak,” jelasnya.

Apabila jagung tetap menjadi bahan pokok pakan, perlu adanya peningkatan pasokan atau persediaan jagung. Selama ini petani menanam jagung bergantian dengan jenis komoditas pertanian lain setiap musim sehingga produksi jagung tidak stabil di sepanjang tahun.

Jumlah produksi jagung nasional tidak bisa memenuhi jumlah konsumsi jagung nasional. Di saat yang bersamaan, pemerintah justru membatasi impor jagung tanpa memperhatikan pasokan memadai.


Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah produksi jagung nasional mengalami peningkatan pada periode 2013 sampai 2017. Pada 2013 jumlah produksi jagung nasional adalah 18,5 juta ton dan meningkat menjadi 19 juta ton dan 19,6 juta ton pada 2014 dan 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi 19,7 juta ton dan 20 juta ton.


Di saat yang bersamaan, jumlah konsumsi jagung nasional juga terus naik. Pada periode 2013-2015, jumlah konsumsi jagung nasional berjumlah 21,6 juta ton, 22,5 juta ton dan 23,3 juta ton. Ada sedikit penurunan pada 2016 yaitu menjadi 22,1 juta ton. Jumlah ini kembali naik menjadi 23,3 juta ton pada 2017.


Jumlah jagung yang diimpor Indonesia terus mengalami penurunan. Indonesia mengimpor 3,19 juta ton jagung pada 2013 dan 3,18 juta ton pada 2014. Sementara itu pada 2015, 2016 dan 2017 jumlahnya impornya adalah3,5 juta ton, 1,3 juta ton dan 500.000 ton. Penurunan jumlah impor yang dimaksudkan untuk melindungi petani jagung nasional justru tidak efektif untuk menjaga kestabilan harga.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies