[Siaran Pers] Tidak Hanya Ekonomi & Kesehatan, Covid-19 Juga Menguji Kemampuan Literasi Indonesia

Siaran Pers - Jakarta, Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) di dunia sudah menguji berbagai sektor, seperti ekonomi dan juga kesehatan global. Namun bagi Indonesia, pandemi ini tidak hanya menguji kedua sektor tersebut, pandemi ini juga menguji kemampuan literasi masyarakatnya. Pasca diumumkannya dua pasien pertama yang positif terinfeksi Covid-19 oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret lalu, berbagai berita menyesatkan dari sumber yang tidak jelas terus bermunculan. Tidak hanya itu, informasi yang berasal dari sumber yang jelas juga tidak jarang disalahartikan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, menyikapi hal ini, masyarakat tentu dituntut untuk lebih berhati-hati dalam memproses informasi dan membuat keputusan yang rasional. Keputusan yang dibuat secara terburu-buru dan berdasarkan informasi yang salah dapat memicu kepanikan massal. Hal tersebut selanjutnya dapat mempersulit upaya pencegahan dan tindakan pengendalian.

Misalnya, karena literasi rendah dan tidak adanya diversifikasi dalam mencari informasi, banyak masyarakat yang melakukan tindakan preventif yang salah dalam konteks Covid-19. Misalnya, mudah percaya bahwa obat-obatan tradisional bisa menyembuhkan Covid-19 meskipun hingga sekarang belum ada penelitian yang membenarkan hal tersebut. Atau misalnya, membuat cairan hand sanitizer sendiri tanpa adanya perhitungan ilmiah.

Nadia menambahkan, Indonesia memiliki minat yang rendah dalam membaca dan fakta itu memengaruhi bagaimana masyarakat memahami informasi. Menurut hasil tes PISA pada tahun 2018 yang dirilis oleh OECD, keterampilan membaca siswa Indonesia berada pada peringkat ke 74 atau terendah keenam di antara 79 negara. Skor literasi membaca Indonesia jauh lebih rendah daripada negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Vietnam. Tes ini juga menunjukkan bahwa siswa Indonesia menghadapi kesulitan besar dalam memahami teks panjang dan membedakan antara fakta dan pendapat.

“Literasi adalah masalah yang mendasar dalam sistem pendidikan Indonesia yang belum selesai diperbaiki kualitasnya. Walaupun di saat pandemi seperti ini tidak menjadi sebuah urgensi untuk membahas literasi, tapi bagaimana masyarakat memahami pandemi dan mencerna informasi tidak bisa lepas dari kemampuan literasi itu sendiri,” jelas Nadia.

Selain literasi, kini juga sudah muncul konsep literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan untuk menavigasi informasi dengan cara yang tepat di mana komunikasi dan akses informasi secara progresif diperoleh melalui teknologi digital, seperti platform internet atau media sosial. UNESCO bahkan mengatakan kalau literasi digital adalah salah satu keterampilan hidup yang paling esensial.

“Dalam konteks pandemi Covid-19, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi informasi yang dapat diandalkan dan yang tidak, tidak akan langsung berbagi informasi dengan orang lain sebelum memproses dan memeriksanya sendiri. Mereka juga dapat memahami dampaknya membagikan informasi yang belum teruji kebenarannya,” tambah Nadia.

Sebagaimana tercermin dalam skor PISA, keterampilan literasi Indonesia saat ini tidak cukup baik untuk melindungi siswa dari informasi yang menyesatkan. Selain itu, LIPI pernah menyatakan bahwa seseorang yang memiliki gelar sarjana tidak selalu mampu mengidentifikasi kebohongan dan kesalahan informasi. Jaringan Riset Opini Publik Asia (ANPOR) pada 2018 juga menemukan bahwa kemungkinan berbagi informasi yang salah tidak ditentukan oleh tingkat sekolah, jenis kelamin, dan usia. Bisa dibilang, baik remaja maupun dewasa sama-sama rentan terhadap informasi yang salah.

Memang, sistem pendidikan Indonesia telah lama dikritik karena penekanan kuat pada hafalan dan kurangnya penekanan pada logika dan keterampilan kritis. Sebagian besar sekolah hanya mengembangkan kebiasaan menyerap informasi tetapi tidak mempertanyakannya lebih jauh. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) pada tahun 2016. Namun, pedoman GLN tampaknya terlalu terpaku pada peningkatan kebiasaan membaca di kalangan siswa daripada berfokus pada bagaimana memproses dan menganalisis informasi.

Nadia menjelaskan, penting bagi pemerintah untuk mengembangkan kurikulum literasi digital praktis untuk siswa. Keterampilan langsung ini akan membantu siswa memproses dan memverifikasi informasi, sehingga membantu mereka memahami materi sekolah mereka dengan lebih baik dan menjadi pembuat keputusan yang lebih baik dalam kehidupan. Sebagaimana tercermin dalam pandemi Covid-19 ini, sangat penting bagi setiap orang untuk dapat berbagi informasi yang baik dari sumber yang dapat dipercaya. Keahlian literasi digital akan mencegah kepanikan massal dan membantu upaya penanggulangan penyebaran Covid-1 di Indonesia.

Lihat siaran pers CIPS lainnya terkait Covid-19 di sini

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies