• CIPS Indonesia

Siaran Pers | Terpilihnya Joe Biden-Kamala Harris Berpeluang Pulihkan Perekonomian Global

Siaran Pers - Jakarta, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, terpilihnya Calon Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Joe Biden dan Kamala Harris berpeluang berkontribusi pada upaya pemulihan perekonomian global. Optimisme ini didasarkan pada program ekonomi keduanya yang cenderung terbuka terhadap kerja sama internasional. Hal ini juga akan membawa manfaat bagi Indonesia.


Selain itu, Pingkan menjelaskan, terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat juga memberikan secercah harapan pada situasi perang dagang dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sejak Maret 2018 yang saat ini juga diperparah oleh pandemi Covid-19. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat pada pemilu tahun 2008 ia bersama Presiden Barack Obama memulai tugas kenegaraannya sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat di tengah krisis ekonomi global.

Pendekatan yang diusung oleh Biden juga diperkirakan akan berbeda dengan Trump yang lebih vulgar dan konfrontatif sehingga memungkinkan bagi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Biden untuk mengeksplorasi lebih jauh upaya diplomasi dalam mengatasi perang dagang tersebut. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian pemerintah Indonesia terkait dengan kebijakan luar negeri Biden yang dapat diantisipasi beberapa waktu ke depan.

Sepanjang masa kampanye, Biden menggaungkan program-program pemulihan ekonomi yang berbasiskan pada semangat produk lokal dan pengembangan industri manufaktur dalam negeri. Hal ini ditandai dengan program “Buy American” yang ditargetkan dapat menghimpun pendapatan sebesar USD 400 miliar pada tahun pertama kepemimpinannya untuk kemudian digunakan menggerakkan perekonomian dalam negeri dan mendorong investasi pada sektor clean energy. Belanja pemerintah akan dipusatkan kepada produk-produk dalam negeri dan memperketat penerapan local content pada produk-produk yang berlabelkan “made in America”.

“Dengan demikian, pemerintah Indonesia dapat memfokuskan diri untuk menyasar pasar AS melalui ekspor untuk produk-produk non-manufaktur. Potensi lain yang dapat dikembangkan juga terletak pada industri mobil elektrik yang tengah dikembangkan pemerintah Indonesia. Melihat target ambisius dari Biden untuk menjadikan Amerika Serikat eksportir global untuk produk manufaktur ramah lingkungan, menjalin kerjasama di ranah ini merupakan sebuah peluang,” terang Pingkan.

Selain itu, Indonesia juga perlu memastikan bahwa perpanjangan Generalized System of Preference (GSP) yang diberikan beberapa waktu lalu ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, melawat ke Indonesia masih dapat dimanfaatkan sesuai dengan pembaharuan status tersebut. Hal ini penting untuk terus dikembangkan mengingat tidak semua negara mendapatkan fasilitas GSP ini, hanya negara yang mengajukan dan disetujui oleh pemerintah Amerika Serikat saja yang dapat menerimanya.

Adapun manfaat yang didapat dari diperpanjangnya status GSP ini bagi Indonesia adalah terlepasnya bea masuk bagi produk-produk ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat yang saat ini jumlahnya berada di kisaran 800 komoditas. Berkaca dari pengalaman, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Mahendra Siregar menyampaikan keterangan bahwa pemberian status penerima GSP ini juga merupakan bentuk apresiasi Amerika Serikat terhadap upaya reformasi birokrasi ekonomi Indonesia. Hal ini dapat menjadi batu loncatan bagi pemerintah untuk menjalin hubungan diplomasi ekonomi dengan Amerika Serikat dan terus mengembangkan kemudahan iklim berusaha di dalam negeri.

Melihat prioritas kebijakan Biden yang memusatkan diri pada aspek lingkungan dan keberlanjutan, menjadi penting bagi Indonesia untuk turut mengembangkan produk-produk yang memperhatikan kedua aspek tersebut yang di dalam proses pengolahannya agar dapat menambah daya saing ketika diekspor ke Amerika Serikat sekaligus membina hubungan yang berkesinambungan dengan pemerintahan AS yang baru nantinya.

Terakhir, sebagai negara yang memegang aspek leadership di kawasan Asia Tenggara, kerja sama dalam upaya penanganan Covid-19 juga dapat terus diupayakan. Dialog dan keikutsertaan dalam inisiatif internasional serta langkah-langkah multilateralisme dalam banyak aspek di bawah kepemimpinan global era Trump seringkali berujung deadlock. Dengan terpilihnya Biden, pemerintah Indonesia dapat mengeksplorasi lebih lanjut dalam menjalin kerja sama dengan peran serta AS dalam penanganan Covid-19.

Joe Biden dan Kamala Harris unggul atas Donald Trump dan Mike Pence pada perhelatan Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat setelah mengamankan electoral votes dari Pennsylvania. Data yang terhimpun menunjukan bahwa perolehan electoral votes hingga hari ini untuk pasangan yang diusung oleh Partai Demokrat tersebut mencapai 290 suara, melebihi ambang batas minimum yang diperlukan untuk lolos sebesar 270 suara dan terpaut 76 suara dibandingkan Donald Trump dan Mike Pence. Angka ini masih dapat terus bertambah mengingat beberapa negara bagian masih dalam proses rekapitulasi akhir. Sedangkan untuk hasil pemilihan umum kongres, Partai Republik mendominasi kursi Senat sedangkan Partai Demokrat unggul di perolehan suara Dewan Perwakilan Rakyat.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2021 Center for Indonesian Policy Studies