• CIPS Indonesia

[Siaran Pers] Pengalihan Fokus Kartu Prakerja Belum Tentu Mampu Memulihkan Perekonomian

Siaran Pers - Jakarta, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine mengatakan, pengalihan fokus pada Program Kartu Prakerja belum tentu mampu memulihkan kondisi perekonomian yang terdampak Covid-19. Pingkan menambahkan, kalau berkaca pada tujuan awal dari program Kartu Prakerja, tentu kita dapat melihat bahwa program ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi angkatan kerja, meningkatkan produktivitas dan juga daya saing melalui pembekalan keterampilan.

Sedangkan, permasalahan ketenagakerjaan yang terjadi saat ini di tengah pandemi berbeda dari permasalahan keterampilan kerja seperti yang dituju oleh program ini. Ketersediaan lapangan kerja yang menurun diakibatkan adanya disrupsi ekonomi terpaksa membuat beberapa lini usaha gulung tikar dan melakukan pemutusan hubungan kerja. Dengan dialihkannya fokus penerima Program Kartu Prakerja ini tentu saja tidak serta merta menjawab permasalahan yang ada saat ini. Pemulihan kondisi perekonomian tentu menjadi faktor utama yang dapat diupayakan pemerintah dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan saat ini.

“Walau kita juga tidak dapat memungkiri bahwasannya untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan kebijakan struktural dan membutuhkan waktu yang tidak singkat di tengah ketidakpastian akibat pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Dampak yang diharapkan dari pengalihan fokus Program Kartu Prakerja ini tentu cepat padahal pemulihan ekonomi juga membutuhkan dukungan dari sektor-sektor lain,” jelas Pingkan.

Daripada menaikkan jumlah kuota penerima maupun pagu program kartu prakerja, APBN yang ada dapat dimaksimalkan untuk menambah anggaran bantuan sosial lainnya seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Tindakan penambahan kuota yang diikuti dengan penambahan pembiayaan pemerintah dari yang semula dianggarkan sebesar Rp 10 triliun menjadi Rp 20 triliun terhadap Program Kartu Prakerja ini kurang efektif di situasi krisis seperti ini. Terlebih, pemerintah juga perlu melakukan evaluasi dari pelaksanaan gelombang pertama sebelum memutuskan untuk melakukan ekspansi kebijakan. Jangan sampai anggaran sebesar itu nantinya tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Seperti yang dilansir dari laman resmi Kartu Prakerja, program ini awalnya menyasar WNI berusia minimal 18 tahun dan sedang tidak menempuh jenjang pendidikan. Program ini diprioritaskan untuk pengangguran yang tergolong dalam usia muda. Pasalnya, dari sekitar tujuh juta penduduk yang tergolong sebagai pengangguran, 3,7 juta diantaranya atau setara dengan 52% berusia 18-24 tahun. Namun untuk merespon pandemi COVID-19, pemerintah melebarkan peruntukkannya kepada para pekerja maupun pelaku usaha mikro dan kecil yang terdampak. Terlebih selama pandemi ini berlangsung, Kementerian Tenaga Kerja mencatat angka pengangguran mengalami peningkatan mencapai 2,8 juta dari sektor formal maupun informal yang dikenai pemutusan hubungan kerja dan dirumahkan.

Pemerintah telah menutup pendaftaran gelombang pertama untuk program Kartu Prakerja pada Kamis, 16 April 2020. Untuk gelombang pertama ini dikabarkan terdapat 5,96 juta orang yang telah melakukan registrasi akun, angka ini menggambarkan antusiasme dari masyarakat cukup tinggi terhadap program yang dicanangkan pada masa kampanye Pemilihan Umum Presiden tahun lalu oleh Joko Widodo – Maaruf Amin. Hanya saja, tidak semua orang yang mendaftarkan diri akan langsung mendapatkan akses pada program ini.

Terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui calon penerima program, mulai dari verifikasi data hingga tes Motivasi dan Kelayakan Dasar sebelum menerima pengumuman apakah aplikasinya diterima untuk mengikuti program ini. Setiap peserta yang lolos akan mendapatkan pagu pelatihan sebesar 1 juta rupiah dengan insentif tambahan setelah menyelesaikan satu pelatihan. Para peserta dapat memilih sendiri pelatihan yang akan dijalankan dengan rentang harga yang berbeda-beda. Hal ini memungkinkan para peserta untuk menggunakan pagu pelatihan untuk mengampu beberapa jenis pelatihan yang dibutuhkan sesuai preferensi.

Lihat siaran pers CIPS lainnya terkait Covid-19 di  sini

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies