• CIPS Indonesia

[Siaran Pers] Pekerja Migran yang Tertahan di Luar Negeri Perlu Mendapatkan Perlindungan Sosial

Siaran Pers - Jakarta, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, pemerintah perlu memberikan perlindungan sosial kepada pekerja migran lewat skema penyaluran bantuan. Diberlakukannya lockdown atau karantina wilayah dan pembatasan untuk beraktivitas di luar rumah pada jam-jam tertentu di beberapa negara berimbas pada sektor-sektor yang mempekerjakan pekerja migran, termasuk dari Indonesia. Hal ini membuat tidak sedikit dari mereka yang kehilangan pekerjaannya.


Pingkan menambahkan, sangat penting bagi pemerintah untuk menjamin keselamatan para pekerja migran. Para pekerja migran yang kehilangan pekerjaannya dikhawatirkan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan tidak akan mampu mengirimkan penghasilannya kepada keluarga di Tanah Air. Selain permasalahan finansial, pemerintah juga perlu memastikan status kesehatan mereka.


“Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk memasukkan para pekerja migran ini ke dalam program perlindungan sosial, misalkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau bantuan dalam bentuk bahan-bahan pangan yang bisa diakses lewat transaksi elektronik, mirip dengan BPNT yang sudah bertransformasi menjadi Program Sembako, yang bisa diakses di kantor-kantor kedutaan besar Republik Indonesia di negara masing-masing atau di kantor konsulat jendral yang terdekat dengan mereka,” tambah Pingkan.


Hal serupa juga bisa dilakukan untuk memeriksakan status kesehatan mereka. Tidak hanya untuk itu, pemeriksaan kesehatan juga dapat dilakukan untuk verifikasi data pekerja migran yang ada di negara tersebut. Hal tersebut diperlukan untuk mendapatkan data jumlah pekerja migran yang terus terbaharui dan pemetaan untuk mengetahui persebaran mereka di wilayah tertentu.


Terkait dengan pekerja migran yang sudah kembali ke Tanah Air, pemerintah juga perlu mengintegrasikan mereka ke dalam skema bantuan yang saat ini tengah diupayakan mengatasi permasalahan sosial-ekonomi sebagai dampak dari penyebaran Covid-19. Pekerja migran yang baru kembali ke Tanah Air termasuk ke dalam golongan yang rentan, baik secara kesehatan maupun keuangan. Mereka perlu mendapatkan penanganan secara kesehatan untuk memastikan status kesehatannya dan juga secara finansial supaya mereka tetap bisa berdaya secara ekonomi.


Kembalinya para pekerja migran ke Tanah Air juga dipastikan akan memengaruhi nilai remitansi yang akan diterima oleh Indonesia. Lima negara tujuan kerja para pekerja migran dengan jumlah remitansi terbesar di tahun 2019 yaitu Arab Saudi dengan $3.803 juta dolar AS, Malaysia dengan $3.252 juta dolar AS, Taiwan dengan $1.574 juta dolar AS, Hong Kong dengan $1.229 juta dolar AS dan Singapura dengan $355 juta dolar AS. Kebijakan lockdown yang diberlakukan oleh negara-negara tersebut sudah tentu membawa dampak yang signifikan bagi situasi ekonomi mereka dan juga para pekerja migran Indonesia yang dipulangkan.



Selain itu, lanjut Pingkan, negara-negara tujuan seperti Korea Selatan, Yordania, Kuwait, Italia, Inggris, Spanyol, Perancis, Polandia hingga Amerika Serikat juga menerapkan kebijakan serupa. Para pekerja ini kemudian dihadapkan pada ketidakpastian di tengah pandemi. Pasalnya, banyak dari mereka yang tidak memiliki mata pencaharian di Tanah Air sehingga mendorong mereka untuk mencari kerja di luar negeri. Kepulangan kembali ke tanah air di tengah situasi pandemi ini tentu akan berimbas pula pada pendapatan mereka dan juga remitansi.


“Hal lain yang juga patut mendapat perhatian pemerintah adalah kondisi kondisi kesehatan mereka. Di Indonesia saat ini, angka kasus semakin meningkat setiap harinya dan menjangkit lebih banyak daerah lagi di Indonesia. Pemerintah masih terus berupaya meningkatkan kapasitas untuk mencegah penyebaran Covid-19. Oleh sebab itu sepulangnya ke tanah air pun, para pekerja migran ini akan menjadi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan perlu melakukan karantina selama 14 hari,” tandasnya.


Lihat siaran persCIPS lainnya terkait Covid-19 atau corona virus di sini.


Gambar: Media Indonesia


Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies