• CIPS Indonesia

[Siaran Pers] Menjaga Ketahanan Industri Selama Pandemi Covid-19

Siaran Pers - Jakarta, Perang dagang antara Amerika Serikat dan China mulai mereda saat memasuki 2020. Meredanya perang tarif antara dua negara besar tersebut sempat memunculkan optimisme akan kembali stabilnya perekonomian dunia. Namun merebaknya pandemi Covid-19 memunculkan ancaman baru bagi ekonomi dunia.



Ekonom Australian National University dan Anggota Dewan Pengawas Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arianto Patunru mengatakan, sektor industri tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 karena adanya disrupsi pada sisi permintaan dan penawaran. Implementasi berbagai kebijakan yang umumnya berorientasi kepada pembatasan atau restriksi pergerakan manusia juga turut memengaruhi kinerja sektor ini. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta dengan pengecualian pada 11 jenis industri juga perlu dilakukan dengan cermat untuk memastikan keberlangsungan industri dan juga terpenuhinya kebutuhan masyarakat.



“Dari 11 jenis industri yang dikecualikan, tiga sektor saya kira memang sangat perlu ditangani hati-hati yaitu kesehatan, pangan, serta logistik karena ketiganya berperan sangat vital dalam jalannya perekonomian,” terangnya.



Penanganan pada sektor dan industri pangan menjadi sangat penting karena makanan merupakan kebutuhan pokok atau primer. Sekalipun orang bisa bertahan tidak melakukan aktivitas perekonomian beberapa hari, ia tidak bisa untuk tidak makan. Di saat yang bersamaan, harga pangan cenderung naik dengan volatilitas tinggi dan hal ini merugikan terutama bagi mereka yang miskin. Untuk itu, kestabilan harga dan ketersediaan komoditas pangan di pasar sangat penting untuk memastikan keterjangkauan masyarakat.



Ia pun melanjutkan, industri manufaktur di semua negara hampir dapat dipastikan terkena hantaman pandemi Covid-19 ini. Di ASEAN, indutri manufaktur Singapura misalnya, yang terkena hantaman keras karena mereka bergantung kepada jasa jual beli dan pelabuhan yang semuanya terkena kebijakan pembatasan.



Dampak pandemi ini terhadap negara-negara ASEAN selain Singapura terlihat nyata, misalnya melalui purchasing managers’ index (PMI). Malaysia, misalnya, pada akhir April menunjukkan penurunan aktivitas kegiatan manufaktur sangat drastis seperti Indonesia. Namun dalam survei Mei, ada indikasi bahwa para manajer mulai melakukan pemesanan bahan baku dan bahan pendukung lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur mereka sedang bersiap-siap untuk berproduksi kembali. Hal yang sama ditunjukkan oleh indeks untuk Vietnam.



Beberapa hal selain Covid-19 tentu saja memengaruhi perilaku sektor manufaktur. Misalnya, keterlibatan dalam Global Value Chain (GVC) memaksa beberapa perusahaan untuk memenuhi kewajiban mereka sesuai kontrak, walaupun dalam skala yang lebih kecil. Malaysia dan Vietnam sudah berpartisipasi lebih dalam di GVC daripada Indonesia. Hal lain yang berpengaruh teurutama dalam jangka panjang adalah kondisi struktural, seperti iklim investasi.



Ia menjelaskan, walaupun perang dagang sudah mereda, perekonomian global saat ini masih diwarnai ketegangan antara Amerika Serikat dan China. Kita melihat adanya ‘de-China-isasi’ di mana, banyak perusahaan multinasional memindahkan sentra usaha mereka dari China ke negara lain. Jepang bahkan memberi insentif untuk perusahaan-perusahaan mereka untuk melakukan relokasi seperti ini. Indonesia sangat berpotensi memanfaatkan momentum ini, salah satunya melalui keterlibatan dalam GVC. Namun kita masih perlu melakukan berbagai pembenahan untuk mencapai tujuan tersebut.



“Relokasi kegiatan usaha seperti ini sebenarnya berita baik bagi negara seperti Indonesia. Namun kita bersaing dengan negara-negara seperti Vietnam. Karena itu, perlu sekali untuk tetap meneruskan reformasi di bidang industri, perdagangan, serta investasi. Perlu menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia terbuka dan menyambut baik investasi asing. Salah satunya lewat penyederhanaan regulasi dan pelonggaran berbagai hambatan,” tandasnya.



Yang sangat diperlukan saat ini adalah menentukan prioritas yang tepat. Benar bahwa pelonggaran hambatan atau restriksi harus dilakukan bertahap, dimulai dengan yang paling esensial dan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Satu hal yang jangan sampai dilupakan adalah perlunya mempertimbangkan kompensasi bagi mereka yang masih terkena restriksi.



Data di beberapa negara menunjukkan bahwa semakin besar penurunan penjualan (sales), semakin besar juga tingkat pemutusan hubungan kerja di sektor yang bersangkutan. Di sini perlunya memastikan bahwa pemberian berbagai program bantuan sosial, dapat benar-benar menjangkau bukan saja yang miskin tapi juga mereka yang berada sedikit di atas garis kemiskinan. Akibat pandemi ini, mereka yang berada di atas garis kemiskinan sangat rawan untuk terperosok ke jurang kemiskinan.




Foto oleh Hobi Industri/Unsplash

0 views
Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies