• CIPS Indonesia

Siaran Pers | Memastikan Keamanan Pangan Lewat Efektivitas Kebijakan Pengurangan Kantong Plastik

Siaran Pers - Jakarta, Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat sudah mulai berlaku sejak 1 Juli 2020. Walaupun bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah plastik, tapi peraturan ini juga perlu didukung oleh kesiapan pedagang makanan berskala mikro dan kecil secara bertahap dan ketersediaan produk alternatif untuk memastikan efektivitas kebijakan. 

Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Amanta mengatakan, perlunya kesiapan para pedagang makanan berskala mikro dan kecil dikarenakan mayoritas dari mereka merupakan pengguna kantong plastik sebagai pembungkus makanan karena harganya murah dan mudah didapatkan. Kini, dengan adanya kebijakan pengurangan kantong plastik, mereka harus mencari alternatif lain. Pihak lain yang ikut terdampak dan harus beradaptasi adalah para pengantar makanan pesan antar daring.

“Penggunaan kantong plastik sebagai instrumen pendukung keamanan pangan daring semakin tidak terhindarkan, contohnya sebagai upaya menjaga kebersihan makanan dari serangga, hama atau bakteri selama perjalanan. Tentu tidak mudah bagi mereka untuk menemukan material alternatif plastik yang harganya tidak membebani ongkos produksi. Biaya tambahan dikhawatirkan akan menghambat jalannya usaha mereka,” jelas Felippa.

Implementasi kebijakan ini dimulai di masa pandemi Covid-19 di saat terjadi peningkatan pemesanan makanan lewat aplikasi daring. McKinsey (2020) melaporkan bahwa 34% konsumen yang mereka survei lebih banyak memesan makanan lewat aplikasi daring selama krisis. Di seluruh Asia Tenggara, Gross Merchandise Value (GMV) pengantaran makanan online meningkat hingga hampir 15 kali antara tahun 2015 dan 2019 dan mencapai nilai sekitar USD 6 miliar. Nilai tersebut diperkirakan akan melewati angka USD 20 miliar pada 2025. Sementara itu, layanan pesan antar makanan daring Indonesia diperkirakan tumbuh 11,5% setiap tahun dari 2020 hingga 2024. Penjualan makanan berkontribusi sebesar 27,85% dari total penjualan e-commerce pada 2018, menjadikannya kategori terbesar dalam transaksi e-commerce.

“Angka ini berpotensi terus meningkat setiap tahun, terlebih dengan adanya pandemi, di mana implementasi berbagai kebijakan pembatasan sosial membuat konsumen lebih nyaman untuk berada di tempat masing-masing. Akan sangat penting bagi pemerintah untuk memastikan keamanan pangan bagi konsumen sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lewat e-commerce,” tambahnya.

Di sisi lain, penggunaan material lain sebagai alternatif plastik masih jarang karena harga yang mahal dan sulit didapatkan. Alternatif plastik, seperti kantong belanja dari singkong dan rumput laut, masih mahal karena biaya teknologi, bahan baku yang mahal serta proses produksi yang rumit dibandingkan plastik konvensional. Harga yang lebih mahal menyebabkan permintaan yang rendah, terutama dari para pedagang makanan. Selain itu, alternatif plastik tersebut belum dijual secara luas sehingga penggunaannya lebih didominasi oleh usaha berskala menengah dan besar.

Felippa menjelaskan, pemerintah perlu mempertimbangkan pemberian insentif kepada swasta untuk berinovasi dalam menemukan material pengganti kantong plastik untuk pengantaran makanan olahan. Upaya pihak swasta untuk menyediakan tas kedap udara yang dapat digunakan kembali untuk supir/kurir pengantaran makanan online masih terbatas. Alternatif tas sekali pakai memang lebih mahal, oleh karena itu pemerintah pusat dan daerah harus memberikan insentif kepada pihak swasta, termasuk UMKM, untuk mendorong kemasan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Memastikan kelangsungan usaha dan keamanan makanan adalah dua faktor penting yang bergantung pada efektivitas kebijakan pengurangan kantong plastik. Walaupun intensi kebijakan ini adalah mengurangi penggunaan kantong plastik untuk keberlanjutan dan kelestarian lingkungan, tetapi pemerintah perlu mempertimbangkan kesiapan pedagang, terutama mikro dan kecil, untuk mengadopsinya secara bertahap dan ketersediaan produk alternatif yang dapat memastikan keamanan pangan daring bagi konsumen.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies