[Siaran Pers] India Lockdown, Indonesia Perlu Diversifikasi Pasar Impor dan Bebaskan SPI Gula

Siaran Pers - Jakarta, Pemberlakuan karantina wilayah atau lockdown oleh pemerintah India membawa dampak bagi penduduk Indonesia. Melonjaknya harga gula di Indonesia sejak awal 2020 diharapkan bisa teratasi dengan masuknya gula impor dari India. Namun hingga kini, impor gula sebanyak 550.000 ribu ton yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan domestik hingga Juli mendatang belum juga terealisasi. Harga dikhawatirkan akan semakin bertambah menjelang Ramadan dan Idul Fitri, di mana permintaan akan gula selalu meningkat.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, pemerintah perlu mengambil langkah strategis dalam memenuhi kebutuhan gula domestik, terutama untuk menjaga kestabilan harga di masa pandemi Covid-19. Pemerintah sebaiknya melakukan diversifikasi negara tujuan impor gula. Untuk itu pemerintah diharapkan sudah memiliki pemetaan mengenai negara-negara penghasil gula selain India untuk dijadikan alternatif tujuan impor.

Indonesia mengimpor gula dari India sebagai bentuk pertukaran dengan ekspor kelapa sawit. Selain dari India, ada beberapa negara lain yang selama ini menjadi pemasok gula. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa di tahun 2018, Thailand menjadi pemasok impor gula terbesar Indonesia dengan volume impor mencapai 4,04 juta ton atau sebesar 80,29% dari total volume impor gula Indonesia. Impor gula dari Thailand didukung faktor produksi gula Thailand yang jauh lebih produktif dari Indonesia. Berdasarkan data FAO, produksi tebu Thailand dapat mencapai 76 ton/hektar hingga menghasilkan 104 juta ton. Sementara Indonesia hanya mencapai 52 ton/hektar dengan total hasil 2,17 juta ton.

Thailand disusul oleh Australia yang menyumbang 922,9 ribu ton gula atau 18,35% total volume impor. Australia juga lebih produktif dengan 75 ton/hektar. Sementara itu, Brazil yang merupakan penghasil dan pengekspor tebu terbesar di dunia hanya menyumbang 1,19% total volume impor Indonesia, yaitu sebanyak 60 ribu ton. Ketika perdagangan dengan India terhambat, negara-negara ini dapat dipertimbangkan menjadi rekan perdagangan lain.

Namun terlebih dari itu, Felippa mendorong pemerintah untuk memberikan relaksasi kebijakan impor gula, sebagaimana yang sudah dilakukan pada kebijakan impor produk hortikultura. Pada produk hortikultura, pemerintah membebaskan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan Surat Perizinan Impor (SPI). Importir juga dibebaskan dari persyaratan laporan surveyor (LS) atas kedua komoditas tersebut.

“Pembebasan RIPH, SPI dan LS merupakan terobosan yang baik dalam penyederhanaan proses pengajuan impor komoditas pangan, seperti produk hortikultura dan non hortikultura. Komoditas yang diimpor diharapkan bisa segera sampai dan berperan dalam menstabilkan harga di pasar. Penyederhanaan proses impor ini idealnya bisa diteruskan untuk memastikan ketersediaannya di pasar,” jelas Felippa.

Pandemi Covid-19 sudah menimbulkan dampak ekonomi dan sosial di Indonesia. Salah satu yang dapat dilakukan pemerintah untuk tetap menjaga tumbuhnya konsumsi di masyarakat adalah dengan memastikan ketersediaan komoditas pangan sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkannya dengan harga terjangkau.

Lihat Siaran Pers CIPS yang berhubungan dengan Covid-19 di sini


Gambar: Pixabay

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies