• CIPS Indonesia

Siaran Pers | CIPS Sabet Templeton Freedom Award

Siaran Pers - Jakarta, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) sukses menyabet penghargaan Templeton Freedom Award. Kemenangan ini diraih CIPS atas berbagai upaya yang sudah kami jalankan untuk menghilangkan hambatan dalam perdagangan di sektor pangan Indonesia, membuka peluang untuk mendorong kebijakan yang mendukung tercapainya ketahanan pangan lewat kebijakan dan pasar yang lebih terbuka. Penghargaan tersebut diumumkan dalam Freedom Dinner virtual Atlas Network pada hari ini waktu Indonesia.

Templeton Freedom Award adalah penghargaan yang diberikan oleh Templeton Religion Trust kepada organisasi yang berkontribusi besar dalam mendukung kebebasan dan mendorong kebijakan publik yang berdampak pada kemakmuran, inovasi dan pemenuhan kebutuhan masyarakat lewat perdagangan bebas.

Head of External Relations CIPS Anthea Haryoko mengatakan, penghargaan ini menandakan bahwa upaya yang CIPS lakukan dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia mendapat apresiasi dan mendatangkan manfaat bagi rakyat Indonesia. Walaupun sudah memenangkan Templeton Freedom Award, Anthea juga menyebut kalau upaya CIPS untuk mewujudkan ketahanan pangan akan terus berlanjut dan secara konsisten akan terus menggandeng pihak-pihak yang memiliki kepedulian yang sama dalam mencapai tujuan ini.

Salah satu perwujudan dari upaya ini adalah lewat Program Affordable Food for The Poor yang diluncurkan pada 2016 yang lalu. Fokus dari program ini adalah untuk mewujudkan harga pangan yang terjangkau untuk semua rakyat Indonesia, terutama untuk mereka yang berpenghasilan rendah. Program ini juga didukung berbagai kajian penelitian yang dikerjakan oleh para peneliti CIPS dan disebarluaskan melalui berbagai acara dan kanal media sosial CIPS dan juga melalui media. Penelitian tentang tata niaga pangan ini membawa pesan dan rekomendasi mengenai pentingnya keberadaan perdagangan pangan antar negara, pentingnya menghapus hambatan tarif dan non tarif pada perdagangan pangan dan juga perlunya upaya untuk mendorong produktivitas pangan nasional lewat peningkatan kapasitas petani dan modernisasi pertanian.

“Berbagai upaya advokasi yang kami lakukan diharapkan secara bertahap dapat memengaruhi pemikiran arus utama di Indonesia dengan lebih dari pemberitaan di 1.600 media dan 20 tulisan opini di berbagai media Indonesia. Upaya ini pelan-pelan dapat mengurangi kebijakan proteksionis dan memfasilitasi munculnya diskusi-diskusi konstruktif dengan pemerintah dan organisasi masyarakat. Kami menyadari bahwa upaya kami adalah kerja jangka panjang yang tidak akan berhenti setelah kami mendapatkan penghargaan, tapi bagaimana memastikan semua rakyat Indonesia memiliki akses kepada pangan yang harganya terjangkau dan bergizi,” terang Anthea.

Program lain yaitu Hak MakMur juga fokus pada perdagangan pangan yang lebih terbuka dan meminta pemerintah untuk meninjau ulang relevansi agenda swasembada pangan dan beralih ke pasar terbuka untuk mencapai ketahanan pangan. Sebagaimana Affordable Food for The Poor, Hak MakMur juga didukung oleh penelitian dan rekomendasi kebijakan tentang topik-topik berikut, seperti bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani, reformasi untuk menurunkan harga pangan melalui perdagangan beras, daging sapi, gula, jagung, dan unggas dan efek pembatasan perdagangan pada malnutrisi dan stunting di Indonesia.

CIPS juga membangun koalisi bersama dengan 11 organisasi, termasuk lembaga think tank, kelompok nutrisi, bisnis lokal di sektor makanan, jaringan pedagang pasar dan kelompok mahasiswa. CIPS memanfaatkan channel YouTube dan para pembuat konten untuk membuat video yang menghibur dan informatif tentang topik tersebut: satu video mendorong peningkatan tanda tangan 400 persen untuk petisi online kampanye yang mendorong terbukanya proteksionisme di sektor pangan.

“Menghapus swasembada pangan bukanlah hal yang mudah dan CIPS adalah satu-satunya entitas yang secara terbuka dan terbuka mengadvokasi hal itu. Tapi sejumlah perubahan ketentuan dalam UU Cipta Kerja yang berhubungan dengan sektor pertanian juga perubahan paradigma dalam sikap terhadap perdagangan dan impor terlihat jelas dalam respon pemerintah terhadap tekanan publik selama pandemi COVID-19 sudah menunjukkan adanya harapan akan perubahan kebijakan pangan pemerintah,” cetusnya.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies