• CIPS Indonesia

Siaran Pers | Antisipasi Kenaikan Harga Pangan Jelang Ramadan dan Idul Fitri

Siaran Pers - Jakarta, Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga pangan menjelang Bulan Ramadan dan juga Idul Fitri. Selain dikarenakan oleh pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, berkaca pada pengalaman di tahun 2019, pemerintah mencatat bahwa di akhir April tahun ini, beberapa provinsi mengalami defisit beberapa komoditas pangan, seperti beras, jagung, gula, cabai, bawang putih, bawah merah, dan telur. Penyebab defisit ini dikarenakan provinsi-provinsi tersebut bukan merupakan provinsi penghasil utama dari komoditas-komoditas tadi. Ditambah pula dengan proses distribusi yang sempat terhalang akibat implementasi kebijakan pembatasan sosial.

Berdasarkan pantauan CIPS melalui Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks BU RT), terjadi kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan di Indonesia pada November 2020. Komoditas pangan yang mengalami kenaikan signifikan antara lain cabai merah, bawang putih, dan daging ayam. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga konsumen mengalami inflasi sebesar 0,28%, lebih tinggi dari inflasi bulan Oktober yaitu 0,07%. Daging ayam menjadi sumber terbesar inflasi yaitu sebesar 0,10% dan diikuti oleh cabai merah sebesar 0,02%. Kenaikan harga komoditas pangan tersebut diakibatkan karena terganggunya produksi akibat curah hujan yang meningkat, potensi gangguan impor, peningkatan permintaan menjelang Natal dan tahun baru, serta naiknya harga secara global.

Cabai merah terus mengalami kenaikan yang tajam sejak bulan Oktober hingga November. Harga cabai merah tercatat mencapai Rp64.274/kg pada bulan Oktober dan terus melambung hingga saat ini. Kenaikan harga cabai merah ini dipicu oleh penurunan produksi akibat la nina yang menyebabkan curah hujan tinggi di Indonesia. Curah hujan yang tinggi menyebabkan kerusakan tanaman cabai yang berakibat pada berkurangnya pasokan cabai merah ke pasar domestik. Namun, harga cabai merah di Indonesia merupakan yang termurah dibanding negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.


Sementara itu, harga bawang putih mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada bulan Oktober, tercatat harga bawang putih berada di angka Rp36.667/kg dan naik menjadi Rp45.667/kg pada bulan November. Kenaikan harga bawang putih mengindikasikan adanya gangguan dalam impor bawang putih, seperti keterlambatan penerbitan Surat Persetujuan Impor (SPI) dan adanya penimbunan. Kebutuhan akan bawang putih di Indonesia mencapai 50 ribu ton per bulan atau 600 ton per tahun di mana 90% berasal dari impor.

Memasuki bulan Desember 2020, kenaikan dan penurunan harga di beberapa komoditas tertentu (month to month). Kenaikan terjadi pada komoditas beras dan cabai merah sedangkan penurunan harga terjadi pada komoditas daging sapi, telur, dan bawang merah. Dilansir dari data BPS, fluktuasi harga komoditas pada bulan Desember menyebabkan inflasi pada bulan Desember sebesar 0,45 % (month to month). Lebih lanjut, BPS menuturkan bahwa inflasi pada bulan ini utamanya disebabkan karena kenaikan cabai merah yang menyumbang 0,12% dan telur ayam ras dengan sumbangsih 0,06 persen. Kenaikan harga di beberapa komoditas ini dipicu oleh kenaikan yang besar di sisi permintaan yang disebabkan oleh perayaan hari natal dan tahun baru. Sedangkan penurunan di beberapa komoditas lainnya disebabkan oleh masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi di akhir tahun.

Harga daging sapi berada di posisi Rp143,985/kg, harga yang cukup tinggi menjelang perayaan Natal dan Tahun baru. Tingginya harga daging sapi sempat memicu mogoknya pedagang sapi di Jabodetabek. Tingginya harga daging sapi juga turut menyumbang inflasi pada bulan Desember. Hampir serupa dengan daging sapi, lanjut Felippa, harga telur masih cukup tinggi menjelang akhir Desember 2020, yakni mencapai Rp40,528rb/kg. Beberapa alasan tingginya harga telur ini menurut Kementerian Pertanian (Kementan) dan Asosiasi Peternak Layer Nasional salah satunya disebabkan oleh lonjakan permintaan konsumsi telur yang meningkat semenjak masa pandemi sebanyak 4 kg per kapita. Tingginya permintaan ini tidak dibarengi dengan pasokan telur yang cukup sehingga berdampak pada masih tingginya harga telur di pasaran. Harga beras mengalami peningkatan tipis dari angka Rp. 12,500/kg di bulan November ke Rp. 12,587/kg pada bulan Desember atau naik sebesar 0,7%. BPS menuturkan bahwa pasokan panen yang sudah mulai berkurang disinyalir menjadi penyebab naiknya harga beras.

Memasuki tahun 2021, data CIPS mencatat bahwa terjadi kenaikan dan penurunan harga di beberapa komoditas. Kenaikan harga tercatat terjadi pada komoditas daging sapi, cabai merah, dan bawang putih. Sedangkan penurunan harga terlihat pada telur ayam dan bawang merah. BPS mencatat bahwa kenaikan berbagai komoditas menyebabkan inflasi sebesar 0,26% pada bulan Januari 2021 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,95. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,81%. Kepala BPS Suhariyanto menilai bahwa kenaikan harga ini murni disebabkan oleh kenaikan harga dari sisi persediaan, bukan karena naiknya permintaan yang tajam. Selain itu, curah hujan yang tinggi akibat La Nina juga menyebabkan kenaikan harga komoditas pangan.

Harga daging sapi mengalami kenaikan pada bulan Januari dan tercatat berada di level Rp 148.546. Sekjen Kementerian Perdagangan Suhanto menyebutkan bahwa faktor utama kenaikan harga daging sapi adalah peningkatan harga sapi bakalan dari Australia. Harga sapi bakalan pada bulan Juni 2020 tercatat berada di kisaran US$ 2,8 per kilogram. Sedangkan pada bulan Januari melonjak hingga US$ 3,9 per kilogram. Kenaikan harga ini tentunya berpengaruh pada harga daging sapi di Indonesia karena sebagian besar daging sapi berasal dari Australia. Indonesia masih mengimpor daging sapi karena produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 70% dari permintaan dalam negeri.

Kenaikan harga juga tercatat terjadi pada komoditas cabai merah. Indeks Bu RT mencatat bahwa cabai merah berada di angka Rp 84.692 di bulan Januari. Cabai merah menyumbang inflasi sebesar 0,08%.Kenaikan harga cabai merah disebabkan oleh terganggunya suplai akibat curah hujan yang tinggi yang disebabkan oleh La Nina. Curah hujan yang tinggi ini kemudian menyebabkan banjir dan memengaruhi jumlah pasokan dan harga di masyarakat. Harga bawang putih merangkak naik di bulan Januari 2021 di level Rp 49.167. Naiknya harga bawang putih di awal tahun ini merupakan fenomena yang kerap terjadi sebelumnya. Hal ini diduga terjadi akibat persoalan rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) serta surat persetujuan impor (SPI).

“Perlu diketahui bahwa lebih dari 90% pasokan bawang putih di Indonesia berasal dari Tiongkok. Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Umbi Indonesia (Pusbarindo), Valentino, mengatakan bahwa perlu adanya transparansi rekomendasi impor hortikultura (RIPH) dan surat persetujuan impor (SPI) agar kenaikan harga tidak terulang seperti di awal pandemi,” terang Felippa.

Sementara itu, penurunan harga tercatat terjadi pada telur ayam yang pada bulan Januari berada di level Rp 26.224. Bank Indonesia mencatat bahwa penurunan harga telur merupakan penyumbang utama deflasi di awal bulan Februari yaitu sebesar 0,05% month on month. Penurunan harga telur ayam terjadi akibat melimpahnya pasokan telur yang tidak dibarengi dengan daya serap pasar. Tren turunnya harga telur ayam diprediksi akan terus terjadi hingga akhir Februari. Harga telur di Indonesia saat ini merupakan yang termurah dibanding dengan negara Asia Tenggara lain. Akibat penurunan harga telur, petani dikabarkan merugi. Hal ini terjadi akibat kenaikan harga pakan ayam petelur.Harga pakan ayam berupa jagung naik dari Rp 4.000 per kilogram menjadi Rp 4.300 per kilogram. Sementara itu, harga pakan campuran kedelai dan jagung naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.200. Kenaikan ini, terutama kedelai, terjadi akibat naiknya biaya impor.

Faktanya, 90% kedelai di Indonesia diimpor dari Amerika Serikat. Impor dilakukan karena produktivitas kedelai dalam negeri masih rendah, salah satu penyebabnya adalah iklim Indonesia yang tidak cocok untuk tumbuhnya kedelai yang merupakan tanaman sub-tropis. Sementara itu impor jagung dilakukan karena tingginya permintaan tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Peneliti CIPS mengungkapkan bahwa pada periode 2009/2010 hingga 2017/2018 rata-rata produksi jagung domestik berada di 9,04 juta ton dengan impor mencapai 2 juta ton. Sementara rata-rata kebutuhan domestik pada periode tersebut mencapai 11,14 juta ton. Artinya masih ada kekurangan pasokan sekitar 100.000 ton untuk kebutuhan dalam negeri.

Saat ini, distribusi dan kesediaan sebagian besar pangan pokok di Indonesia memang sudah lebih stabil daripada sebelumnya. Akan tetapi, beberapa komoditas yang sebagian besar sumber ketersediaannya berasal dari impor, seperti bawang putih, gula, daging sapi dan kedelai, diprediksi juga akan mengalami fluktuasi harga. Kesulitan dalam mengamankan impor daging sapi dapat meningkatkan kemungkinan kenaikan harga domestik, apalagi mengingat perayaan Idul Fitri pada tahun 2021 mendatang juga akan berlangsung di awal tahun. Jumlah permintaan yang lebih rendah memang dapat meredam kenaikan harga. Akan tetapi, menjelang Bulan Ramadan dan Idul Fitri, jumlah permintaan sudah dipastikan akan melebihi permintaan di hari-hari biasa. Untuk itu, ketersediaan stok yang memadai sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan harga pangan, terutama komoditas yang tergolong pokok dan dan sumber ketersediaannya sebagian besar berasal dari impor.

“Rentetan peristiwa yang menandai fluktuasi harga komoditas pangan, terutama yang termasuk pada komoditas pokok dan ketersediaannya dipenuhi lewat impor, idealnya sudah bisa dijadikan parameter dalam mengambil kebijakan. Tentu saja selain fluktuasi harga, data produksi pangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi sangat penting dalam menentukan kebijakan. Proses panjang importasi juga perlu diingat sehingga timing masuknya komoditas pangan impor tidak merugikan petani,” jelas Felippa