• CIPS Indonesia

Siaran Pers | IA-CEPA: Peluang Indonesia Masuk Food Value Chain Lewat Economic Powerhouse

Updated: Apr 15

Siaran Pers - Jakarta, ndonesia memiliki peluang untuk masuk ke dalam rantai nilai pangan atau Food Value Chain dunia melalui Economic Powerhouse dalam kemitraan Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) memperlihatkan.


“Indonesia dapat memanfaatkan Economic Powerhouse dalam kemitraan IA-CEPA. Indonesia dan Australia merupakan pemain kecil di industri pengolahan makanan dan minuman tingkat global dengan pangsa ekspor dan impor global masing-masing di bawah 2%,”, terang Board Member CIPS / Ekonom Australian National University (ANU) Arianto Patunru.


“Potensi ini dapat dimaksimalkan untuk sama-sama mengangkat posisi keduanya dalam Food Value Chain,” imbuhnya.


Penguatan posisi Indonesia dalam Food Value Chain pada akhirnya dapat menjadikan industri pengolahan pangan Indonesia menjadi salah satu salah satu pemain penting di dunia.


Penelitian CIPS memperlihatkan bahwa industri pengolahan makanan dan minuman merupakan kontributor ekspor Indonesia terbesar kedua setelah pertambangan. Industri ini juga menyumbang sekitar 30-40% dari total hasil produksi dan mempekerjakan sekitar 20% dari angkatan kerja sektor manufaktur. Saat ini, output dari sektor ini masih didominasi oleh perusahaan besar seperti Indofood, Wings, Mayora, GarudaFood, Nestle, Heinz, Kraft, Unilever, dan Danone.


Investasi domestik pada industri pengolahan makanan terus meningkat, menjadikannya sektor sekunder terbesar pada tahun 2019, dan penyerap Foreign Direct Investment (FDI) ketiga terbesar setelah kimia dan farmasi, dan logam dasar.


Indonesia hanya bisa memproduksi 50% dari kebutuhan daging sapi nasional. Kekurangannya dipenuhi dengan impor, termasuk dengan menyerap lebih dari setengah ekspor sapi hidup Australia. Hal ini, lanjut Arianto, diharapkan dapat mendorong investor Indonesia untuk berinvestasi di peternakan sapi di Australia.


Kedua negara telah mengeksplorasi konsep powerhouse untuk daging sapi sejak 2019 dibawah Red and Cattle Partnership. Pengalaman kerjasama ini dapat menjadi modal berharga dalam membangun powerhouse di sektor lain.


Potensi lain yang masih dapat dikembangkan adalah rendahnya kandungan produk asing dalam produk olahan makanan dan minuman Indonesia dan Australia, yaitu hanya sebesar 4% dan 12%. Jumlah yang terbilang kecil kalau dibandingkan misalnya dengan Malaysia 24% dan Taiwan 35%.


CIPS merekomendasikan beberapa hal untuk memperkuat posisi industri pengolahan pangan Indonesia dalam Food Value Chain global. Sistem perizinan yang ada perlu diganti dengan sistem persetujuan otomatis untuk perizinan impor (automatic import licensing system). Selain memperluas akses pasar bagi swasta, sistem ini juga mampu menciptakan fleksibilitas yang dibutuhkan importir untuk merespons sinyal pasar internasional demi keuntungan konsumen Indonesia. Juga dibutuhkan sejumlah penyesuaian pada peraturan turunan dan peraturan teknis terkait kebijakan impor pangan.


Revisi misalnya diperlukan pada Pasal 7 (1) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 2/2017 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia agar tidak menghalangi penggunaan kuota yang diperluas dibawah IA-CEPA. Kementerian Perindustrian sebaiknya juga tidak menerapkan strategi substitusi impor di industri pengolahan makanan dan minuman agar tidak menghambat kemampuan economic powerhouse untuk berkembang dan masuk ke dalam Food Value Chain.


IA-CEPA memberikan akses preferensial ke lebih dari 99% produk pertanian Australia yang diimpor Indonesia, dan dengan demikian akan menurunkan harga pakan biji-bijian dan daging sapi yang digunakan sebagai bahan baku produksi. Untuk pakan, tarif akan dihilangkan untuk sejumlah 500 ribu ton di tahun pertama perjanjian dagang dan akan ditingkatkan secara progresif hingga lebih dari 775 ribu ton di tahun kesepuluh.


Selain itu, IA-CEPA memberikan pembebasan tarif yang semula 5%, untuk 575 ribu ternak di tahun pertama. Volume bebas tarif ini dinaikkan 4% setiap tahun sampai mencapai 700 ribu pada tahun keenam. Untuk daging sapi beku, tarif diturunkan dari 5% menjadi 2.5% dan akan dihapuskan setelah tahun kelima. Peningkatan volume dan penurunan tarif tentu bisa berkontribusi pada turunnya harga daging sapi di Indonesia.


Kemitraan IA-CEPA juga berupaya meningkatkan kualitas dan standar keamanan pangan hingga dapat memperluas akses ekspor ke pasar negara ketiga bagi sektor pertanian Australia dan industri makanan olahan Indonesia.


Unduh studi CIPS terkait IA-CEPA di sini.

Diskusi terkait pembahasan IA-CEPA dapat Anda tonton juga di webinar berikut: