• CIPS Indonesia

Sekolah Swasta Berbiaya Rendah di Perkotaan dan Pedesaan: Studi Kasus Provinsi Riau

Updated: Jun 26, 2019

Ditulis oleh: Pingkan Audrine, Center for Indonesian Policy Studies

Pada tahun 2018, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) melakukan studi lanjutan mengenai sekolah swasta berbiaya rendah. Hal ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik sekolah swasta berbiaya rendah yang berkembang di daerah perkotaan dengan di pedesaan. Provinsi Riau kemudian dipilih karena proporsi daerah perkotaan dan pedesaan di provinsi Riau serupa dengan skala nasional; menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam hasil survei nasional 2010, perbandingannya mencapai 86% untuk wilayah perkotaan dan 14% di pedesaan.


Proporsi daerah perkotaan dan pedesaan di provinsi Riau serupa dengan skala nasional; menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam hasil survei nasional 2010, perbandingannya mencapai 86% untuk wilayah perkotaan dan 14% di pedesaan.

Sebelumnya, CIPS menerbitkan dua studi kasus tentang sekolah swasta berbiaya rendah yang berlokasi di Provinsi DKI Jakarta dan Kabupaten Koja. Berdasarkan studi tersebut, kami menemukan bahwa persebaran sekolah swasta mendominasi di daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Sebagian besar sekolah swasta tersebut dapat dikategorikan sebagai sekolah swasta berbiaya rendah.


Namun, kemiskinan di daerah perkotaan dan pedesaan berbeda. Insiden dan intensitas kemiskinan yang lebih tinggi ditemukan pada daerah pedesaan, karenanya fenomena sekolah swasta berbiaya rendah mungkin berbeda antara daerah pedesaan dengan perkotaan. Indonesia tidak terkecuali; menurut BPS, tingkat kemiskinan di daerah pedesaan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perkotaan. Dengan mempertimbangkan 79% wilayah Indonesia yang diklasifikasikan sebagai daerah pedesaan; kami berpendapat bahwa studi terdahulu yang dilakukan di DKI Jakarta belum cukup mewakili prevalensi fenomena ini untuk tingkat nasional.


Di provinsi Riau, CIPS memilih dua wilayah untuk diamati. Kota Pekanbaru yang sebagian besarnya terdiri dari daerah perkotaan dan Kabupaten Siak yang sebagian besar terdiri dari daerah pedesaan. Kecamatan Tampan dan Payung Sekaki di kota Pekanbaru dipilih sebagai wilayah sasaran kami untuk mengumpulkan data karena kedua kecamatan tersebut memiliki jumlah keluarga miskin tertinggi di Pekanbaru, sehingga keberadaan sekolah swasta berbiaya rendah akan lebih mungkin ditemukan di daerah-daerah ini. Sementara Kecamatan Tualang dan Sungai Apit di Kabupaten Siak dipilih berdasarkan jarak mereka ke Pekanbaru. Dalam ulasan ini penulis akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sekolah swasta berbiaya rendah di desa dan di kota.



Sekolah Swasta Berbiaya Rendah di Provinsi Riau: Perspektif Perkotaan - Pedesaan


Dalam mengklasifikasikan sekolah swasta termasuk berbiaya rendah atau tidak, ulasan ini menggunakan pendekatan yang sama dengan penelitian James Tooley di India, Nigeria, Ghana dan Tiongkok. Berdasarkan upah minimum bulanan provinsi di Provinsi Riau, yaitu Rp2.464.154, kami mendefinisikan sekolah swasta memiliki biaya rendah jika membebankan biaya sekolah bulanan sebesar Rp250.000 (US$17,6), mewakili setidaknya 10% dari upah bulanan minimum provinsi. Oleh karena itu, jumlah maksimum biaya sekolah bulanan untuk mendefinisikan hal ini mungkin berbeda jika studi serupa dilakukan di daerah lainnya di Indonesia.





Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merilis Data Pokok Pendidikan (Dapodik) di Pekanbaru yang menyatakan bahwa rasio sekolah negeri dengan sekolah swasta adalah 1:3. Sebaliknya, di Kabupaten Siak ada jauh lebih sedikit sekolah swasta dengan perbandingan 2:1. Hal ini mungkin terjadi karena daerah pedesaan memiliki populasi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan daerah perkotaan.


Pada tahun 2016, populasi Pekanbaru mencapai 1.046.566 orang, jumlah ini jauh lebih besar dari Kabupaten Siak dengan populasi 453.052 orang. Angka ini menjelaskan bahwa terdapat permintaan yang lebih sedikit di daerah pedesaan; hal ini juga mungkin terjadi karena adanya kecenderungan orang tua daerah pedesaan yang ingin mengirim anak-anak ke sekolah hanya jika sekolah tersebut tidak membebankan biaya atau gratis. Dengan demikian, perkembangan sekolah swasta di daerah pedesaan menjadi sebuah tantangan jika ditelisik dari segi finansial. Faktor lainnya ialah karena adanya hambatan akses di daerah pedesaan, sehingga mempersulit entitas swasta untuk membangun sekolah di sana.


Terdapat permintaan yang lebih sedikit di daerah pedesaan; hal ini juga mungkin terjadi karena adanya kecenderungan orang tua daerah pedesaan yang ingin mengirim anak-anak ke sekolah hanya jika sekolah tersebut tidak membebankan biaya atau gratis.


Di antara total 160 sekolah yang terdaftar di 2 kabupaten (di Pekanbaru), 116 sekolah diantaranya adalah sekolah swasta. Sejumlah 41 sekolah swasta diidentifikasi sebagai sekolah swasta berbiaya rendah. Sementara itu, mayoritas dari 75 sekolah swasta lainnya membebankan biaya dengan rentang Rp250.000 – Rp500.000 kepada orang tua, karenanya tidak dapat dikategorikan berbiaya rendah. Sebanyak 41 sekolah swasta berbiaya rendah dan 20 sekolah negeri di Kota Pekanbaru telah berpartisipasi dalam survei kami untuk mendapatkan informasi terkait performa siswa dan alasan orang tua untuk memilih mendaftarkan anak mereka ke sekolah swasta berbiaya rendah.



Perbandingan Performa Siswa di Pekanbaru dan Siak



Untuk mengukur kualitas pendidikan yang disediakan oleh sekolah swasta berbiaya rendah di Riau, kami menggunakan Hasil Ujian Nasional Matematika dan Bahasa Indonesia / Ujian Nasional (UN). Seiring waktu, sekolah swasta berbiaya rendah di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapatkan skor rata-rata UN yang relatif stabil. Namun, untuk tingkat SMA mengalami sedikit peningkatan pada hasil UN 2016/2017 (dari 51,6 menjadi 57,67), sebelum turun menjadi 53,9 di UN terbaru (Lihat Grafik 1).


Grafik 1


Sumber: CIPS, 2019


Selanjutnya, di tingkat SMP dan SMA, skor rata-rata UN sekolah swasta berbiaya rendah sedikit lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri di Provinsi Riau pada tahun akademik 2016/2017 dan 2017/2018 (Lihat Grafik 2 dan 3 di bawah). Dalam dua tahun akademik terakhir, sekolah swasta berbiaya rendah di provinsi Riau berhasil menstabilkan skor UN-nya; sementara itu, rata-rata UN sekolah negeri tampak menurun.


Grafik 2

Sumber: CIPS, 2019


Grafik 3

Sumber: CIPS, 2019


Bagaimanapun, baik sekolah swasta berbiaya rendah maupun sekolah negeri mengalami penurunan skor rata-rata UN pada Tahun Akademik 2017/2018. Penurunan skor ini dapat disebabkan oleh soal-soal UN 2018 yang diindikasikan oleh beberapa pengamat pendidikan lebih sulit dan berbeda dari pertanyaan praktik. Soal UN 2018 dinilai membutuhkan lebih banyak kemampuan analitis untuk menyelesaikannya.


Alasan Orang Tua Memilih Sekolah Swasta Berbiaya Rendah


Orang tua pasti memiliki pertimbangan tersendiri untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah swasta. Mereka memilih untuk mengalokasikan anggaran tambahan untuk pendidikan anak-anak, daripada menikmati pendidikan gratis di sekolah umum. Pengamatan kami dari lapangan menemukan bahwa orang tua di daerah perkotaan dan pedesaan memiliki preferensi yang berbeda dalam memutuskan sekolah bagi anak-anak mereka. (Lihat Grafik 4).


Grafik 4

Sumber: CIPS, 2019


Bagi orang tua yang berlokasi di daerah perkotaan, lokasi sekolah yang dekat dengan rumah menjadi faktor penting, hal ini membantu mereka untuk menghemat besaran pengeluaran untuk transportasi. Menurut orang tua di kota Pekanbaru, mengirim anak-anak ke sekolah swasta berbiaya rendah lebih murah dibandingkan dengan jenis sekolah lainnya (baik sekolah negeri maupun swasta).


Namun, bagi orang tua yang tinggal di daerah pedesaan, selain faktor lokasi yang lebih dekat rumah mereka; orang tua juga berpendapat bahwa sekolah tipe ini mampu memberikan kualitas pendidikan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan jenis sekolah lainnya (sekolah negeri dan swasta). Hal ini menjadi salah satu alasan utama mereka dalam menentukan preferensi pendidikan bagi anak.


Di Kecamatan Tualang, kabupaten Siak, perusahaan swasta yang beroperasi di daerah tersebut turut mendirikan sekolah swasta sebagai bentuk program corporate social responsibility perusahaan mereka. Pendanaan sekolah swasta tersebut berasal dari perusahaan yang mendirikannya. Namun, pihak sekolah tetap membebankan sejumlah kecil biaya kepada orang tua siswa untuk keperluan operasional yang menunjang kegiatan pembelajaran.


Adanya materi keagamaan yang termasuk dalam program dan kegiatan sekolah swasta berbiaya rendah di Riau menjadi faktor paling menarik bagi orang tua. Pihak sekolah dan orang tua turut menyampaikan bahwa materi agama Islam yang termasuk dalam kurikulum (pelajaran Al-Quran, Tahfidz dan memelihara kebiasaan salat 5 waktu) dinilai baik. Secara khusus, orang tua di Pekanbaru juga mempertimbangkan alasan administrasi (tidak lolos seleksi sekolah negeri dan adanya batasan persyaratan usia). Sementara yang lain memilih sekolah swasta berbiaya rendah karena menyediakan pilihan pelajaran yang lebih bervariasi.


Dari penelitian lapangan yang kami lakukan pada tahun 2018 silam dapat disimpulkan bahwa karakteristik pedesaan dan perkotaan berbeda dan hal ini turut mempengaruhi perkembangan sekolah swasta berbiaya rendah dalam dua faktor. Pertama, jumlah persebaran sekolah swasta berbiaya rendah di desa lebih sedikit daripada di kota yang berdampak pada kurang kompetitifnya perkembangan sekolah swasta di desa. Kedua, terdapat preferensi yang berbeda bagi orang tua dalam menentukan sekolah dilihat dari empat aspek yaitu jarak sekolah dengan tempat tinggal, biaya pendidikan, kualitas pendidikan dan lain-lain.


Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies