Produktivitas Tebu yang Rendah Picu Tingginya Harga Gula Nasional

Siaran Pers - Jakarta, Peningkatan produktivitas tebu dapat dilakukan untuk menekan impor gula. Saat ini, harga gula lokal tiga kali lebih mahal dibandingkan dengan harga gula di pasar internasional. Tingginya harga gula lokal mengindikasikan adanya permintaan yang tidak tercukupi oleh supply. United States Department of Agriculture (USDA) memprediksi bahwa kebutuhan gula Indonesia akan mencapai 6,8 juta ton di tahun 2020. Sementara itu, produksi gula dalam negeri di tahun 2019/2020 hanya mencapai sekitar 2,1 juta ton. Maka dari itu, impor pun masih dibutuhkan.


Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), produktivitas perkebunan tebu di Indonesia hanya mencapai 52,2 ton per hektar. Jumlah ini lebih rendah daripada negara-negara penghasil gula lainnya, seperti Brazil yang mencapai 74,37 ton per hektar dan China yang mencapai 79,68 ton per hektar pada periode yang sama. Produksi on farm juga terhambat oleh konversi lahan dan petani yang beralih ke tanaman lain seperti padi. Kementerian Pertanian mencatat luas area lahan tebu berkurang dari 454,171 hektar di tahun 2015 menjadi 417,576 di tahun 2018.


Selain isu on-farm, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Amanta mengatakan salah satu penyebab rendahnya produksi gula lokal adalah banyak pabrik gula di Indonesia yang sudah sangat tua. Bahkan, berdasarkan USDA, ada sekitar 40 pabrik gula yang usianya lebih dari 100 tahun.


Pabrik-pabrik gula ini perlu mendapatkan revitalisasi. Revitalisasi pabrik gula di Indonesia harus didukung adanya inovasi dalam teknologi. Pemerintah perlu membangun dan mengembangkan ekosistem riset yang mendukung terciptanya inovasi teknologi. Inovasi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pabrik gula dalam menghasilkan gula yang berkualitas. Pabrik gula juga perlu menerapkan teknologi yang lebih mendukung hasil produksi yang lebih efisien. Beberapa hal tersebut belum mempertimbangkan kualitas tebu yang ditanam yang dipengaruhi oleh faktor geografis dan iklim lokal.


“Menekan impor gula bukan pekerjaan mudah, apalagi melihat kebutuhan gula yang semakin meningkat. Menekan impor gula dapat dilakukan apabila produksi dalam negeri sudah mencukupi permintaan dan tersedia pada harga yang terjangkau di pasar. Tentunya dengan memiliki komoditas gula yang terjangkau dan tersedia secara lokal, baik produsen maupun konsumen sama-sama untung,” jelasnya.


Berdasarkan data USDA dan BPS pada 2009-2018, harga gula yang beredar di pasaran (gula kristal putih) menunjukkan perbedaan harga dimana harga produk domestik hampir tiga kali lebih mahal dari harga internasional. Dengan kondisi ini, upaya menekan gula impor tentunya dapat berpotensi mengurangi peredaran gula di pasar, yang pada akhirnya bisa meningkatkan harga menjadi jauh lebih mahal lagi. Pada akhirnya, konsumen dan unit usaha UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan produksinya akan menanggung kerugian.


“Mempertimbangkan penekanan impor gula bukan merupakan hal yang salah, namun sebaiknya yang patut diutamakan adalah peningkatan daya saing pabrik gula Indonesia dan kebijakan pemerintah yang mendorong modernisasi pabrik gula dapat menjadi salah satu langkah awal yang patut dipertimbangkan untuk menekan harga gula,” tandasnya.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies