• Admin

Peringkat ke-62 Dalam Laporan Tahunan 2018 Kebebasan Ekonomi, Indonesia Perlu Perbaiki Pendaftaran

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


4 Oktober 2018 – JAKARTA, Indonesia menduduki peringkat ke-62 dari 162 negara dalam laporan tahunan 2018 kebebasan ekonomi sedunia. Laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Fraser Institute Kanada ini menunjukkan sejauh mana negara memberikan kesempatan kepada individu untuk mengembangkan sumber daya yang dimilikinya untuk kegiatan ekonomi.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, kebebasan ekonomi didasarkan pada konsep kepemilikan atas diri sendiri. Karena kepemilikan ini, individu memiliki hak untuk memilih dan memutuskan bagaimana menggunakan waktu dan bakat mereka untuk membentuk kehidupan mereka.


“Salah satu upaya untuk mencapai kebebasan ekonomi adalah dengan mengurangi peraturan pemerintah yang membelegu. Di Indonesia,a salah satu cara untuk mencapai kebebasan ekonomi adalah dengan memperbaiki peraturan izin dalam berusaha. Seperti yang di laporkan dalam Ease of Doing Business (EoDB) yang dikeluarkan oleh World Bank, ranking EoDB di Indonesia hanya berada di tingkat 72,” jelas Imelda.


Rendahnya ranking EoDB ini dipengaruhi oleh indikator kemudahan pendaftaran usaha. Pada 2017, Indonesia berada di peringkat 144. Sekalipun banyak UMKM yang ingin dilegalkan, lanjut Imelda, namun mereka terkendala oleh masalah peraturan yang berbelit-belit dan memakan waktu. Kalau pemerintah mempersingkat peraturan yang ada, maka para pengusaha UMKM pasti dengan sendirinya akan mendaftarkan usahanya. Hal ini membuktikan bahwa terkadang bukan masalah infrastruktur atau teknologi yang membatasi UMKM untuk berkembang. Namun yang menjadi masalah adalah peraturan pemerintah yang membatasi atau menghalangi proses legalisasi UMKM tersebut.


Negara-negara yang berada di peringkat sepuluh pertama adalah Hong Kong, Singapura, Selandia Baru, Swiss, Irlandia, Amerika Serikat, Georgia, Mauritius, Inggris, Australia dan Kanada. Negara-negara penting lainnya seperti Jerman berada diperingkat 20, Jepang 41, Prancis 57, Rusia 87 dan Cina di peringkat 108.


Sementara itu sepuluh negara dengan peringkat terendah adalah Sudan, Guinea-Bissau, Angola, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Suriah, Aljazair, Argentina, Libya dan Venezuela. Korea Utara dan Kuba tidak dapat digolongkan karena kurangnya data.

Laporan ini mengukur kebebasan ekonomi (tingkat pilihan pribadi, kemampuan untuk memasuki pasar, keamanan properti milik pribadi, supremasi hukum dan lain-lain) dengan menganalisis kebijakan dan lembaga terkait di 162 negara.


“Menurut penelitian di jurnal akademik peer-reviewed teratas, orang-orang yang tinggal di negara-negara dengan tingkat kebebasan ekonomi yang tinggi menikmati kemakmuran yang lebih besar, kebebasan politik dan sipil, dan hidup yang lebih lama,” jelas Imelda.

Sebagai contoh, negara-negara seperti Inggris, Jepang dan Irlandia memiliki pendapatan per kapita rata-rata USD 40.376 pada tahun 2016. Jumlah ini berbeda jauh kalau dibandingkan dengan negara-negara di peringkat bawah seperti Venezuela, Iran dan Zimbabwe dengan pendapatan per kapira rata-rata USD 5.649. Harapan hidup untuk negara-negara di peringkat atas adalah 79,5. Sementara harapan hidup untuk negara-negra di peringkat bawah adalah 64,4 tahun.

0 views
Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies