Penyebaran Virus Corona, Kebijakan Pemerintah Perlu Utamakan Ketersediaan & Akses Terhadap Kebutuhan

Updated: Apr 2

Siaran Pers - Jakarta, Penyebaran virus corona (covid-19) di Indonesia berlangsung relatif cepat dan memengaruhi kondisi ekonomi nasional. Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua warga negara Indonesia positif terkena virus ini, perekonomian Indonesia pun mengalami pergerakan yang cukup signifikan. Pemerintah perlu mengutamakan kebijakan yang fokus pada ketersediaan dan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, kebijakan tersebut diperlukan untuk memastikan masyarakat bisa mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Selain untuk menjaga kestabilan harga, kebijakan ini juga penting untuk menjaga tumbuhnya konsumsi di masyarakat. Hal ini diharapkan bisa menjadi stimulus perekonomian nasional yang terkena dampak perlambatan ekonomi global yang salah satunya disebabkan oleh wabah virus corona (covid-19) ini.


Pingkan memaparkan, penanganan kasus covid-19 yang tepat dan cepat tanggap terhadap perkembangan situasi di lapangan tentu sangat diperlukan. Presiden memang sudah mengeluarkan Keputusan Presiden mengenai Gugus Tugas Penanganan Corona pada Jumat, 13 Maret 2020 silam yang melibatkan Kepala BNPB, Asisten Operasi TNI, Asisten Operasi POLRI hingga Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Menteri Kesehatan dan Menteri Keuangan di dalamnya.


“Namun lebih jauh dari itu, perlu juga dilakukan koordinasi dan sinergi dengan pemerintah daerah terkait pelaksanaan teknis atas kebijakan yang ditempuh serta keterbukaan informasi terkait perkembangan kasus dan juga langkah yang diambil oleh pemerintah kepada masyarakat luas. Kurang transparannya informasi mengenai perkembangan kasus ini, salah satunya, mendorong terjadinya panic buying di tengah masyarakat,” tegasnya.


Sinergi dengan pemerintah daerah dan transparansi informasi sangat diperlukan agar masyarakat tidak berspekulasi sendiri dan mendapatkan sumber informasi kredibel terkait covid-19 sehingga dapat memitigasi dampaknya bagi masyarakat baik dari segi kesehatan, ekonomi, maupun aspek-aspek lainnya yang menunjang kemaslahatan hidup bersama.


Kepanikan masyarakat terhadap virus ini nyatanya sejalan dengan dinamika yang terjadi di bursa saham. Setelah pengumuman pertama yang dilakukan Presiden, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Senin, 2 Maret 2020 ditutup melemah 1,68 % atau 91,46 poin di level 5.361,25. Pada hari berikutnya IHSG berhasil ditutup menguat di level 5.518,63, membukukan rebound sebesar 2,94%. Di hari yang sama The Fed mengeluarkan kebijakan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 1% - 1,25%.


Langkah agresif itu ditempuh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir atau sejak krisis perbankan dalam subprime mortgage pada 2008. Tentu saja langkah Bank Sentral Amerika Serikat tersebut menjadi pertanda bahwa kontraksi ekonomi, termasuk di pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan sudah menjadi fenomena global.


Dua minggu berselang, jumlah kasus covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Data terakhir yang disampaikan melalui portal Kementerian Kesehatan RI per hari Selasa, 17 Maret 2020 menunjukkan bahwa terdapat 172 orang yang dinyatakan positif terjangkit corona, 9 orang dinyatakan sembuh, 5 orang meninggal dunia dan tercatat 1.255 orang sudah menjalani pemeriksaan.


Pingkan melanjutkan, seiring dengan perkembangan kasus Covid-19, fenomena ekonomi nasional pun turut terkena imbas. Hari ini IHSG kembali menyentuh rekor terendah. Pagi ini indeks dibuka pada level 4.456,75 dan sempat menyentuh level 4.307,39. Angka ini merupakan rekor terendah dalam empat tahun terakhir.


“Besar kemungkinannya sentimen pasar terpengaruhi oleh dinamika yang terjadi di masyarakat seiring dengan perkembangan kasus covid-19 dan juga kebijakan Bank Sentral AS yang melakukan langkah agresif dengan memangkas suku bunga acuannya hingga menyentuh level nol dan bursa saham di AS yang terjun bebas sebesar 3000 poin pada Senin, 16 Maret 2020 waktu setempat,” jelasnya.


Hal yang terjadi di Amerika Serikat saat ini mendorong banyak investor menjual saham mereka. Hal ini juga menandakan potensi resesi yang akan terjadi di Amerika Serikat dalam waktu dekat. Sentimen tersebut rasanya sudah cukup terasa di Indonesia dengan tren yang mengikuti perkembangan dari bursa saham Amerika Serikat.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies