Penurunan Target Produksi Beras Realistis

Penurunan target produksi padi 2020 dari 82,08 juta ton menjadi 59,15 juta ton realistis. Penurunan jumlah dari 82,08 juta padi yang setara dengan 48 juta ton beras menjadi 59,15 padi yang setara dengan 35 juta ton beras tentu sudah mempertimbangkan berbagai faktor di lapangan yang memengaruhi pencapaian target tersebut, seperti ancaman alih fungsi lahan sawah dan ancaman kekeringan yang menyebabkan gagal panen.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, pemerintah perlu konsisten mencegah adanya alih fungsi lahan pertanian. Untuk memanfaatkan lahan yang ada, upaya-upaya untuk meningkatkan produktivitas lahan perlu terus dilakukan. Salah satu yang harus diperhatikan adalah tersedianya sistem irigasi yang dapat diakses dan memiliki sumber air bersih yang berkelanjutan. Selain akses terhadap sistem irigasi, penggunaan pupuk yang tepat juga sangat memengaruhi produktivitas lahan pertanian.


“Penggunaan pupuk dapat memacu hasil produktivitas lebih tinggi karena pupuk memberikan nutrisi tambahan terhadap tanah dan tanaman yang ditanam. Perlu diingat agar hasil maksimal, maka perlu menggunakan pupuk yang berkualitas tinggi. Hal ini ditambah lagi dengan penggunaan dosis yang tepat sesuai dengan kebutuhan dari tanah tersebut,” jelasnya.


Selain itu, pemerintah bisa menggunakan padi hibrida sebagai alternatif peningkatan produktivitas beras nasional. Produktivitas padi hibrida memiliki potensi besar untuk ditingkatkan. Berdasarkan hasil penelitian CIPS, padi hibrida memiliki produktivitas musiman rata-rata 7 ton/ha, lebih tinggi kalau dibandingkan dengan produktivitas padi inbrida yang hanya mencapai 5,15 ton/ha. Namun, luas tanam padi hibrida hanya kurang dari satu persen dari total luas tanam padi di Indonesia dan telah mengalami stagnasi selama beberapa tahun.


Galuh menambahkan, kalau luas tanam padi hibrida di Indonesia diharapkan bisa seperti di China (51% dari total luas tanam padi) dan Pakistan (25-30% dari total luas tanam padi), penting bagi sektor swasta untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mengembangkan dan mengkomersilkan varietas benih yang tepat. Untuk saat ini, impor masih tetap penting, bukan hanya untuk menyediakan benih dalam jumlah cukup, tetapi juga

untuk menguji apakah varietas padi hibrida tertentu sesuai dengan kondisi lokal di Indonesia. Begitu ada kapasitas yang cukup untuk mengembangkan varietas-varietas ini di Indonesia, ketergantungan pada impor akan berkurang secara berangsur-angsur.

“Untuk memaksimalkan potensinya, pemerintah perlu memasukkan padi hibrida ke dalam prioritas perencanaan pembangunan pertanian. Padi hibrida memang belum dimasukkan ke dalam program utama yang terkait dengan perencanaan pembangunan pertanian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/RPJMN. Alasan untuk kurangnya prioritas ini mungkin adalah karena statistik kuantitas produksi beras nasional di Indonesia telah lama dibesar-besarkan. Baru belakangan data ini dikoreksi menggunakan metode Kerangka Sampel Area,” tandasnya.


Indonesia adalah salah satu konsumen beras terbanyak di dunia, dengan perkiraan tingkat konsumsi 97,6 kg per kapita per tahun pada tahun 2017. Dengan jumlah penduduk yang besar (264 juta jiwa pada tahun 2018) dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,27% per tahun (2018), Indonesia harus menyediakan cukup banyak beras untuk memastikan ketahanan pangan di masa depan. Jumlah total beras yang dikonsumsi oleh orang Indonesia terus meningkat dan diproyeksikan akan meningkat 1,5% setiap tahunnya menjadi 99,08 kg per kapita per tahun pada tahun 2025. Jumlah ini diperkirakan akan kembali meningkat sebesar 2% per tahun menjadi 99,55 kg per kapita pada tahun 2045.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies