• Admin

Pentingnya Strategi Komunikasi dalam Penelitian Kebijakan Publik

Updated: Jan 30, 2019

Penulis: Pandu Baghaskoro


Pada bulan Desember kemarin, ATLAS Network mengadakan pelatihan “Think Tank Policy Analysis and Promotion Training” yang diadakan di Kota Mumbai, India. Saya mendapatkan kesempatan untuk mewakili Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) untuk menghadirinya. Pelatihan yang berlangsung dari tanggal 17 – 19 Desember 2018 lalu itu juga dihadiri oleh perwakilan organisasi think tank atau lembaga pemikir dari berbagai negara Asia dan Afrika, seperti India, Mongolia, Mesir, dan Afghanistan.


Selama program berlangsung, peserta diberikan pelatihan mengenai kerangka penelitian kebijakan, analisis kuantitatif dan kualitatif, advokasi rekomendasi kebijakan, serta strategi komunikasi efektif. Secara umum, pelatihan ini menyegarkan kembali ingatan saya mengenai cara melakukan analisis kuantitatif serta kualitatif serta membantu saya untuk memahami lebih jauh mengenai penelitian kebijakan publik.


Karena latar belakang pendidikan saya adalah Sarjana Psikologi, tipe penelitian yang pernah saya buat sedikit berbeda dengan penelitian kebijakan. Misalnya, semasa kuliah saya terbiasa menulis laporan penelitian dengan kerangka akademik, sementara makalah kebijakan lebih baik ditulis dengan struktur yang lebih mudah dipahami banyak orang. Ini disebabkan, makalah kebijakan ditujukan pembuat kebijakan dan politisi yang notabene merupakan orang-orang sibuk. Maka dari itu, sehingga hasil penelitian harus bisa “nyantol” atau mudah dipahami, serta langsung ke permasalahan.


"Makalah kebijakan lebih baik ditulis dengan struktur yang lebih mudah dipahami banyak orang. Ini disebabkan, makalah kebijakan ditujukan pembuat kebijakan dan politisi yang notabene merupakan orang-orang sibuk."

Hal kedua yang menurut saya sangat penting juga adalah mengenai strategi komunikasi. Pesan yang dimuat atau yang ingin disampaikan harus memiliki “framing” yang tepat; bentuk pesan penting untuk disesuaikan dengan target pemirsa pesan tersebut. Apakah harus dalam bentuk tulisan, gambar atau video.


Misalnya, jika kita (sebagai sebuah organisasi think tank) ingin menyampaikan pesan bahwa pelarangan alkohol legal justru akan meningkatkan konsumsi alkohol ilegal yang mematikan. Nah, pertama-tama kita harus menentukan dulu, pesan ini mau kita sampaikan kepada siapa? Apakah ke pembuat kebijakan? Konsumen alkohol? Anak muda? orang tua?


Setelah mengidentifikasi target pemirsa kita, kemasan pesan tersebut harus memiliki relasi dengan mereka. Bentuk pesan yang baik, salah satunya harus dapat memainkan emosi targetnya; semakin sedikit emosi dimainkan, semakin sedikit kemungkinan pesan tersebut dapat dihayati target kita.


Di samping hal-hal serius tersebut, saya juga menyempatkan diri untuk mengembangkan jaringan, di mana saya berkenalan dengan beberapa perwakilan lembaga think tank dari India, Mesir, Mongolia, Vietnam serta Malaysia. Kami juga sempat berjalan-jalan menikmati Kota Mumbai di malam hari sebelum kami meninggalkan Mumbai keesokan harinya.


Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies