• Admin

Pencabutan GSP Ancam Neraca Perdagangan Indonesia

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


12 Juli 2018 – JAKARTA, Pencabutan fasilitas Generalized System of Preference (GSP) oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia dapat mengancam neraca perdagangan. Neraca perdagangan Indonesia kini sedang defisit dan hal ini dikhawatirkan akan memburuk dengan pemberlakuan GSP. Strategi bebas bea yang akan ditawarkan pemerintah diharapkan bisa menjadi solusi untuk keberlanjutan GSP terhadap Indonesia.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, diterima atau tidaknya strategi bebas bea masuk yang akan diajukan pemerintah harus diantisipasi sedini mungkin. Salah satunya dengan peningkatkan kualitas barang ekspor. Pemerintah harus dapat melobi Amerika Serikat agar Indonesia dapat mengekspor produknya dengan fasilitas GSP. Tanpa keringanan bea masuk, harga jual produk Indonesia akan tinggi di pasar Amerika Serikat.


“Produk Indonesia menjadi tidak kompetitif terhadap produk ekspor negara lain yang masih menikmati fasilitas GSP, mau tidak mau nilai ekspor Indonesia akan terancam,” terang Novani.


Selain itu, pemerintah juga harus fokus pada peningkatan nilai ekspor. Untuk meningkatkan nilai ekspor, pemerintah bisa memberikan berbagai insentif kepada para pelaku usaha, misalnya saja melalui kebijakan fiskal atau perpajakan. Insentif yang diberikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan industri masing-masing. Pemberian insentif juga harus didukung oleh perbaikan/peningkatan kualitas produk yang akan berdampak pada daya saing produk itu sendiri di pasaran. Jadi, lanjut Novani, Indonesia tidak hanya mengandalkan persaingan harga, tetapi produknya juga harus bisa kompetitif di sisi kualitas.


Neraca perdagangan kini sedang defisit karena terbebani oleh tingginya nilai impor migas. Nilai impor migas adalah sebesar Rp 17,64 miliar dolar. Jumlah ini lebih tinggi daripada nilai ekspor yang sebesar Rp 16,12 miliar. Impor migas bulan ini meningkat sebanyak 20,95% dibandingkan dengan bulan April dan meningkat 57,17% dibandingkan dengan bulan Mei tahun sebelumnya (2017).


“Neraca perdagangan kita masih berpotensi untuk surplus untuk bulan – bulan berikutnya kalau nilai ekspor non migas ditingkatkan. Kalau neraca perdagangan kita terus dibiarkan mengalami defisit maka akan mendorong terjadinya defisit neraca berjalan sehingga akan berdampak pada kondisi ekonomi secara agregat” jelasnya.


Dalam GSP, ada 3.546 tarif yang mendapatkan keringanan bea masuk ke Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dikabarkan baru akan memutuskan mengenai GSP pada November mendatang.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies