• Admin

Pemerintah Perlu Dorong Transaksi Perdagangan Internasional dengan Mata Uang Alternatif

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


11 Oktober 2018 – JAKARTA, Melemahnya nilai tukar Rupiah harus ditahan dengan berbagai upaya. Salah satunya adalah perlunya pemerintah mendorong transaksi perdagangan internasional dengan menggunakan mata ulang alternatif. Hal ini diperlukan untuk mengurangi beban perekonomian nasional.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, melemahnya nilai tukar Rupiah secara terus menerus hingga menembus angka Rp15.000 per 1 Dollar AS tidak dapat dipungkiri sudah menekan perekonomian Indonesia. Salah datu dampaknya adalah memperberat transaksi perdagangan yang menggunakan mata uang Dollar AS. Dengan semakin parahnya depresiasi nilai Rupiah ini, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan penggunaan mata uang alternatif pengganti Dollar AS untuk transaksi perdagangan internasional.


“Mata uang Yuan Renmimbi Tiongkok dapat menjadi alternatif. Hal ini mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia,” ungkap Ilman.


Berdasarkan data Statistik Kementerian Perdagangan, nilai impor nonmigas dari Tiongkok merupakan 27,4% dari total perdagangan selama Semester I 2018. Pemerintah perlu mendorong perusahaan importir yang melakukan perdagangan dari Tiongkok untuk melakukan pembayaran dalam Yuan Renminbi.


Selain itu, depresiasi nilai rupiah terhadap Yuan Renminbi lebih rendah apabila dibandingkan dengan Dollar AS. Sejak 1 Januari 2018, nilai Rupiah terdepresiasi terhadap Yuan Renminbi (CHY) sebesar -5,47%. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan nilai depresiasi Rupiah terhadap Dollar AS sebesar -12,14%.


“Mitra dagang utama Indonesia lainnya, seperti Jepang, Thailand dan Singapura, memiliki porsi perdagangan yang cukup signifikan pula dengan Tiongkok. Sehingga tidak menutup kemungkinan negara-negara tersebut juga terbuka untuk mempertimbangkan transaksi menggunakan mata uang Yuan Renminbi Tiongkok,” urai Ilman.


Bank Indonesia juga dapat terus mendorong kebijakan yang sudah bergulir sebelumnya, yaitu mendorong transaksi bilateral dengan Thailand dan Malaysia untuk menggunakan mata uang lokal, yaitu Ringgit Malaysia dan Baht Thailand. Dengan mengintensifkan transaksi dengan mata uang tersebut, cadangan devisa tidak akan mengalami pergerusan sebesar transaksi perdagangan internasional dengan menggunakan Dollar AS.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies