• CIPS Indonesia

Menggali Potensi Desa: Belajar dari BUMDES Silatri Indah

Ditulis oleh: Arief Nugraha, Center for Indonesian Policy Studies



Saat ini, desa sudah diberikan kewenangan untuk mengatur wilayah, ekonomi dan masyarakatnya sendiri. Kewenangan ini disahkan melalui UU Desa tahun 2014. Dengan diberikannya kewenangan untuk mengatur wilayahnya sendiri, desa saat ini sudah dapat mengembangkan ekonominya secara mandiri. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan ekonomi desa. Salah satunya adalah mengembangkan aset desa sebagai potensi. Desa memiliki aset-aset asli desa yang dapat berbentuk tanah, kolam, sumber mata air ataupun sumber daya alam lainnya.



Dalam mengelola aset, desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai badan pengembangan usaha dan juga pembangunan desa. Dengan kata lain, BUMDES dapat menggali potensi desa dan memanfaatkannya menjadi bentuk usaha yang nanti akan menjadi pendapatan asli desa.


Salah satu sosok yang berhasil mengembangkan BUMDES dan potensi desa adalah Akhmat Pabuwon. Pak Akhmat merupakan seorang direktur BUMDES Silatri Indah milik Desa Beran, Kabupaten Wonosobo. BUMDES di Desa Beran ini sudah didirikan sejak tahun 2002. Alasan Pak Akhmat dan Desa Beran mendirikan BUMDES pada waktu itu adalah melihat kondisi anak dari Desa Beran yang banyak putus sekolah dan memiliki rumah reyot. Mereka ingin membuat desa memiliki pemasukan tambahan agar dapat mengatasi masalah-masalah di desa tersebut.


Alasan Pak Akhmat dan Desa Beran mendirikan BUMDES pada waktu itu adalah melihat kondisi anak dari Desa Beran yang banyak putus sekolah dan memiliki rumah reyot. Mereka ingin membuat desa memiliki pemasukan tambahan agar dapat mengatasi masalah-masalah di desa tersebut.

Pada awalnya, BUMDES Desa Beran membuat usaha peternakan sapi yang berdiri di atas tanah kas desa miliknya. Sayangnya, usaha ini mengalami kegagalan dikarenakan pada tahun 2003 harga sapi jatuh. Setelah tidak mendapat keuntungan, BUMDES pun akhirnya bangkrut dan tutup.


Pak Akhmat yang sering memancing di sekitar lokasi tersebut kemudian mengamati bahwa lokasi tersebut memiliki potensi untuk dikunjungi orang. Berdasarkan pengamatannya, ada sekitar 30 pengendara motor yang berhenti untuk beristirahat di gubuk lokasi tersebut setiap harinya. Lokasi tanah kas desa berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan Wonosobo dan Magelang. Setelah melihat potensi ini, Pak Akhmat merasa bahwa di lokasi bisa didirikan semacam warung makan untuk beristirahat. Hal itu mendorong Pak Akhmat mengajak tetangganya untuk mencoba berjualan di tempat tersebut pada tahun 2013.


Setelah usaha tersebut berjalan beberapa lama, Pak Akhmat dipanggil oleh pihak pemerintah desa dan diajak bermusyawarah untuk membentuk BUMDES. Dalam pembentukan BUMDES Silatri Indah, Pak Akhmat bersama timnya membuat sebuah konsep untuk memanfaatkan tanah tersebut, yaitu konsep tentang rest area yang memiliki warung makan, toserba, joglo, dan juga kolam renang. BUMDES ini menargetkan memiliki pendapatan Rp 1 miliar hingga satu tahun ke depan. Konsep ini juga diterapkan dengan membuat maket agar dapat dipresentasikan kepada pemerintah desa.



BUMDES ini menargetkan memiliki pendapatan Rp 1 miliar hingga satu tahun ke depan. Konsep ini juga diterapkan dengan membuat maket agar dapat dipresentasikan kepada pemerintah desa.

Selain konsep perancanaan tersebut, Pak Akhmat memiliki prinsip pelaksanaan yang disebut sebagai empat pilar BUMDES yaitu kelembagaan, penggalian potensi, pembukuan dan pelaporan. Penerapan empat pilar ini membuat Pak Akhmat menjalankan BUMDES-nya hingga dapat dipercaya oleh pemerintah.


Saat ini BUMDES Silatri Indah memiliki satu toserba modern, 16 warung makan dan sudah mempekerjakan 15 tenaga kerja. Sementara itu, pembangunan kolam renang masih dalam proses bertahap seiring dengan berkembangnya BUMDES tersebut. Pendapatan dari BUMDES juga kini telah mencapai Rp146.000.000 per tahun dan ditargetkan akan tumbuh tiap tahunnya.


Sayangnya, tidak semua BUMDES memiliki perkembangan sebaik BUMDES Silatri Indah di Desa Beran ini. Oleh karena itu, Pak Akhmat dan beberapa kawannya melakukan sosialisasi tentang bagaimana mendirikan BUMDES yang baik dan benar. Pak Akhmat juga mengajarkan empat prinsip BUMDES itu kepada desa-desa lain melalui sekolah BUMDES.


Pak Akhmat saat ini memiliki tiga program untuk memberikan pengajaran kepada desa-desa lain. Pertama, ada Kampus BUMDES, di mana mereka mengadakan semacam seminar dan kemudian memberikan materi kepada desa-desa tersebut. Kedua, melalui program Jelajah Desa, yaitu dengan mengundang desa-desa lain datang ke Desa Beran untuk melihat secara langsung bagaimana BUMDES Silatri Indah beroperasi.


Terakhir adalah privat BUMDES. Dalam privat BUMDES ini, Pak Akhmat dan timnya mendampingi desa dan BUMDES lain dari musyawarah desa, pembuatan konsep BUMDES dan penggalian potensi desa sampai dengan pelaksanaannya. Privat BUMDES dilakukan karena menurut Pak Akhmat, setiap desa memiliki potensi dan juga kemampuannya yang berbeda, sehingga diperlukan cara dan penanganan sendiri dalam membimbing mereka sesuai dengan kemampunnya. Saat ini, kegiatan sekolah BUMDES tersebut juga sudah didukung oleh pemerintah Kabupaten Wonosobo.


Privat BUMDES dilakukan karena menurut Pak Akhmat, setiap desa memiliki potensi dan juga kemampuannya yang berbeda, sehingga diperlukan cara dan penanganan sendiri dalam membimbing mereka sesuai dengan kemampunnya.
Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies