• ekytriwulan7

Mekanisme Penjualan Jagung Pakan Ternak Bulog Sebabkan Kualitas Jagung Menurun

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


23 Agustus 2018 – JAKARTA, Mekanisme penjualan jagung impor untuk pakan ternak oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) berpotensi menurunkan kualitas jagung tersebut. Bulog dinilai tidak bisa menerapkan sistem Cash Before Delivery secara efektif. Setelah dibayar, proses distribusi jagung tidak langsung dilakukan.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, sebagai satu-satunya importir jagung untuk pakan ternak, maka perusahaan pakan ternak harus mendatangi Bulog demi mendapatkan bahan baku dasar untuk produknya. Namun sayangnya penerapan sistem Cash Before Delivery dianggap merugikan. Hal ini dikarenakan proses pengiriman tidak langsung dilakukan.


“Berdasarkan hasil temuan kami, pengusaha mengeluhkan sekalipun mereka sudah membayar, tapi Bulog tidak langsung mengirimkan komoditas. Terkadang jangka waktu pengiriman barang mencapai dua minggu hingga akhirnya jagung tersebut diterima oleh pabrik. Lamanya durasi pengiriman komoditas tersebut dapat mengakibatkan penurunan kualitas jagung. Hal ini menyebabkan banyak pengusaha enggan membeli jagung dari Bulog,” ungkapnya.


Jagung yang terlalu lama disimpan akan mengalami penurunan kualitas. Lama menyimpan jagung yang ideal adalah maksimal tiga bulan. Pada akhirnya, Bulog tidak dapat menjual jagung ini karena kualitasnya sudah menurun. Hal ini tentu adalah kerugian bagi Bulog dan juga bagi negara.


Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 21 tahun 2018 memberikan Bulog wewenang sebagai satu-satunya institusi yang berhak mengimpor jagung untuk pakan ternak. Padahal realisasi impor jagung yang pernah dilakukan jauh dari target. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan tahun 2016, Bulog berencana untuk melakukan impor jagung untuk pakan ternak sebanyak 600.000 ton. Namun realisasinya jauh dibawah angka tersebut karena Bulog hanya bisa mengimpor sebanyak 353.179 ton jagung atau 246.821 ton jagung lebih sedikit dari yang direncanakan.


“Kurangnya fokus Bulog terhadap komoditas jagung dapat terlihat juga melalui longgarnya syarat yang diberikan bagi para Mitra Kerja Pengadaan (MKP) yang ingin bekerja sama dengan Bulog untuk pengadaan gudang jagung. Untuk beras, Bulog membagi standar gudang penyimpanan ke dalam tiga level demi menjaga kualitas produk. Tapi untuk jagung, Bulog tidak memberlakukan mekanisme demikian, padahal hal tersebut dapat berdampak terhadap penurunan kualitas jagung di gudang,” ungkap Imelda.


Tiga level standar gudang untuk beras diklasifikasikan berdasarkan kelengkapan dan kapasitas sarana dan prasarana pasca panen. Pada gudang kelas 1 terdapat mesin pengering berkapasitas 30 ton gabah kering, mesin pembersih gabah kapasitas 30 ton, mesin penggiling kapasitas 3 ton per jam, sarana angkutan minimal 50 ton, kelengkapan pemeriksaan kualitas dan gudang dengan kapasitas 3.000 ton dan berbentuk silo.


Sementara itu pada gudang kelas 2 terdapat mesin pengering berkapasitas 20 ton gabah kering, mesin pembersih gabah kapasitas 20 ton, mesin penggiling kapasitas 1 ton perjam, sarana angkutan minimal 50 ton, kelengkapan pemeriksaan kualitas dan gudang dengan kapasitas 2.000 ton dan berbentuk silo. Lalu pada Gudang kelas 3 terdapat mesin pengering berkapasitas 5 ton gabah kering, mesin penggiling kapasitas 1 ton perjam dan gudang dengan kapasitas 100 ton.


Bagi komoditas jagung, klasifikasi level gudang seperti ini tidak diberlakukan oleh Bulog. Padahal gudang jagung yang baik setidaknya harus memiliki mesin pengering, mesin pembersih/pemipil jagung dan juga memiliki kapasitas gudang yang memadai. Tapi kenyataannya Bulog hanya memberikan syarat adminsitratif bagi para calon mitra MPK seperti kepemilikan SIUP, TDP, dan NPWP tanpa memperhatikan kelengkapakan sarana/prasarana.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies