• ekytriwulan7

Mekanisme Distribusi Benih Jagung Hibrida UPSUS Perlu Dievaluasi

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


24 Juli 2018 – JAKARTA, Mekanisme distribusi benih jagung hibrida melalui program Upaya

Khusus (UPSUS) tidak efektif dan perlu dievaluasi. Evaluasi yang dibutuhkan meliputi

kualitas benih, kriteria penerima dan efektivitas dari program itu sendiri.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, ada

beberapa hal dari mekanisme distribusi benih jagung UPSUS yang harus diperbaiki.

Berdasarkan penelitian CIPS, distribusi benih jagung UPSUS tidak menjawab permasalahan

petani karena di beberapa daerah di Indonesia petani jagung sudah tergolong mandiri

dalam masalah perbenihan.


Mandiri yang dimaksud adalah para petani sudah mampu membeli benih jagungnya

sendiri walaupun harganya terbilang mahal. Petani jagung yang sudah masuk kategori

mandiri berasal dari beberapa daerah seperti Ngawi dan Jember di Jawa Timur, Dompu di

Nusa Tenggara Barat dan Gorontalo.


“Permasalahan lainnya yang harus diselesaikan adalah masalah penggunaan teknik

budidaya dalam menanam jagung. Sekalipun benihnya berkualitas baik, namun jika

petaninya belum menerapkan pola penanaman yang baik, maka hasilnya tidak akan

maksimal” jelas Imelda.


CIPS merekomendasikan beberapa hal terkait program ini. Pertama adalah pemerintah

harus mampu memastikan kualitas benih subsidi yang didistribusikan dalam keadaan baik

dan masih jauh dari masa kedaluarsa. Berdasarkan hasil penelitian CIPS di beberapa

daerah, seperti di Sumenep, Jawa Timur dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, para petani

seringkali menerima benih subsidi yang kualitasnya rendah, sudah berjamur dan sudah

memasuki masa kedaluarsa. Akhirnya petani tidak merasakan dampak dari bantuan ini

karena benih tidak bisa digunakan.


Kedua, pemerintah juga harus merevisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 3

tahun 2015 dengan menambahkan klasifikasi pasar penerima bantuan UPSUS ke dalam

tiga jenis. Masing-masing klasifikasi pasar juga harus mendapatkan perlakuan yang

disesuaikan dengan kondisinya.


Pada pasar semi kuat, program UPSUS dapat terus dijalankan namun harus disertai

dengan adanya evaluasi berkala dan diikuti dengan adanya peningkatan kapasistas untuk

petani. Daerah-daerah yang termasuk dalam kategori pasar semi kuat antara lain adalah

Sumenep dan Sampang di Jawa Timur.


Sementara itu bagi pasar lemah, penerapan UPSUS sebaiknya tidak diberlakukan.

Pemerintah daerah sebaiknya menganalisis potensi pasar dulu untuk mengetahui apakah

komoditas jagung bisa berkembang atau tidak di daerah tersebut. Aceh Selatan di Aceh,

Garut di Jawa Barat dan Jayapura di Papua adalah daerah-daerah yang termasuk dalam

pasar lemah.


Sementara itu pada pasar kuat, UPSUS sebaiknya dihentikan agar petani jagung menjadi

lebih mandiri dan lebih berkembang karena adanya keterlibatan sektor swasta. Dompu di

Nusa Tenggara Barat, Gorontalo Utara di Gorontalo dan Jember di Jawa Timur.


“Salah satu hal yang harus dijadikan evaluasi oleh pemerintah adalah program ini harus

memiliki kriteria penerima bantuan yang tepat dan ketat. Petani yang layak menerima

bantuan benih UPSUS adalah mereka yang berada di tingkat semi kuat, yaitu petani yang memiliki potensi dan kemampuan untuk menanam jagung, namun masih membutuhkan

peningkatan kapasitas untuk teknik budidaya,” ungkap Imelda.


Ketiga, pemerintah juga perlu merevisi panduan teknis budidaya jagung agar alokasi

distribusi tidak didasarkan pada kuota produsen. Kementan menetapkan alokasi distribusi

benih adalah 65% untuk benih produksi pemerintah (Balitbangtan dan produsen lain yang

sudah mendapatkan lisensi Balitbangtan) dan 35% untuk benih produksi perusahaan

swasta.


Selain itu, pemerintah juga harus membuat mekanisme permintaan varietas benih agar

benih yang dibagikan sesuai dengan kebutuhan petani. Dengan adanya mekanisme ini,

lanjut Imelda, diharapkan ada kerjasama dengan pihak swasta sebagai penyedia benih.

Kementerian Pertanian mencanangkan program UPSUS untuk mewujudkan swasembada

pangan 2015-2019 dengan fokus tiga komoditas, yaitu padi, jagung, dan kedelai (pajale).

Tidak hanya meningkatkan luas tanam, program ini ditujukan untuk meningkatkan

produktivitas daerah sentra-sentra pangan.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies