• ekytriwulan7

Kontribusi Pangan Pada Kemiskinan Meningkat, Pemerintah Harus Pastikan Ketersediaan Bahan Pangan

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


17 Juli 2018 – JAKARTA, Tingginya harga pangan terus berdampak pada kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, kontribusi komoditas pangan terhadap kemiskinan pada Maret 2017 adalah sebesar 73,31%. Jumlah ini meningkat menjadi 73,48% pada Maret 2018. Walaupun jumlah penduduk miskin pada Maret 2018 lebih sedikit daripada Maret 2017 yaitu 25,95 juta orang atau 9,82%, tapi harga pangan yang mahal tetap membebani mereka. Jumlah orang miskin pada Maret 2017 berjumlah 27,77 juta orang atau 10,64%.


Tingginya harga bahan pangan sempat terjadi di awal 2018. Salah satunya adalah naiknya harga beras medium di pasaran. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga beras medium pada Juli 2017 adalah Rp 10.574 per kilogram dan meningkat menjadi Rp 10.794 per kilogram pada November di tahun yang sama. Di Januari 2018, angka ini merangkak naik menjadi Rp 11.041 per kilogram.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, penyebabnya adalah tingginya harga bahan pangan yang disebabkan oleh kurangnya produksi dalam negeri. Hal ini memicu terjadinya banyak hal, salah satunya adalah inflasi. Untuk mencegah inflasi, pemerintah harus bisa memastikan ketersediaan bahan pangan tercukupi untuk seluruh wilayah di Indonesia.


“Pemerintah seharusnya sudah bisa mengantisipasi kenaikan harga beras sejak jauh-jauh hari. Naiknya harga beras disebabkan oleh tingginya jumlah permintaan akan beras yang tidak dapat dipenuhi oleh jumlah beras yang diproduksi. Kenaikan harga beras juga memicu kenaikan komoditas pangan lainnya,” ujar Novani.


Bahan pokok yang juga relatif mengalami kenaikan harga per satuan di bulan Mei hingga Desember 2017 adalah daging sapi, garam, kedelai, dan susu. Kenaikan ini dipicu oleh beberapa hal, di antaranya adalah kenaikan harga beras yang terbilang cukup signifikan hingga menyentuh harga di atas Rp 12.000 per kilogram. Naiknya harga beras disebabkan oleh tingginya jumlah permintaan akan beras yang tidak dapat dipenuhi oleh jumlah beras yang diproduksi.


Berdasarkan data CIPS, pemerintah seharusnya bisa melihat kalau harga beras sudah tinggi sejak Mei 2017. Harganya mencapai Rp 11.980 per kilogram. Lalu konsisten di 11.000 per kilogram antara Juni hingga September. Kemudian harga beras naik mencapai Rp 12.800 pada Oktober dan November dan hanya sedikit turun menjadi Rp 12.600 per kilogram di akhir tahun.


Komoditas pangan lainnya yang mengalami kenaikan harga adalah daging sapi. Harga daging sapi mengalami kenaikan sebesar 52,7% di bulan Juni dan 11,37% di bulan Desember. Salah satu faktor yang diduga sebagai penyebab melojaknya harga daging sapi di bulan tersebut adalah tingginya permintaan menjelang hari besar keagamaan (Idul Fitri dan Natal) dan tahun baru.


“Pemerintah seharusnya tidak terus menerus terjebak pada wacana perluasan lahan panen. Pemerintah memperkirakan meluasnya area panen akan mampu meningkatkan jumlah persediaan beras di Indonesia yang pada akhirnya menurunkan harga beras di pasar,” jelasnya.


Pemerintah lebih baik fokus memberikan kemudahan akses menuju pasar tradisional kepada para petani. Hal ini karena pada dasarnya petani produksi beras menjual pada harga yang tergolong rendah. Panjangnya rantai distribusi beras menyebabkan harga menjadi jauh di atas harga pokok penjualan petani produksi.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies