• Admin

Kenaikan Suku Bunga The Fed Pada Bulan September Harus Diantisipasi

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


2 Agustus 2018 – JAKARTA, Bank Indonesia perlu mewaspadai langkah The Fed yang diprediksi akan menaikkan suku bunga pada September dan akhir tahun mendatang. Kenaikan suku bunga tersebut nantinya dikhawatirkan akan kembali memengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, fluktuasi nilai tukar Rupiah dikhawatirkan akan mendorong investor untuk memindahkan investasinya ke dalam produk keuangan dan investasi di Amerika Serikat. Apabila melihat komponen investasi asing di Indonesia, sebagian besar investasi masih dalam bentuk investasi di pasar keuangan yang relatif lebih mudah crowding out dibandingkan dengan investasi langsung (FDI). Crowding out di sini artinya uang/modal/kapital terkumpul dalam jumlah besar lalu keluar dari dalam negeri ke luar negeri.


Apabila melihat komponen investasi asing di Indonesia, sebagian besar investasi masih dalam bentuk investasi di pasar keuangan yang relatif lebih mudah terkumpul dibandingkan dengan investasi langsung (FDI). Sehingga, tidak menutup kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga pada September dan akhir tahun mendatang akan mengakibatkan depresiasi nilai mata uang rupiah yang semakin parah.


”Depresiasi nilai mata uang rupiah tersebut akan berdampak kepada berbagai kegiatan ekonomi, terutama di bidang perdagangan internasional. Produk-produk industri yang menggunakan bahan mentah atau input yang diimpor akan mengalami peningkatan biaya produksi sehingga dapat menurunkan daya saing produk tersebut karena harga yang menjadi lebih mahal. Selain itu, komoditas pangan yang diimpor seperti beras, gula, dan daging sapi juga akan mengalami kenaikan harga karena nilai rupiah yang semakin melemah,” jelas Ilman.


Pemerintah, lanjutnya, perlu melakukan langkah antisipasi agar Indonesia tidak terkena dampak dari kenaikan suku bunga The Fed pada September dan akhir tahun. Langkah yang bisa cepat dilakukan adalah dengan kembali meningkatkan tingkat suku bunga BI 7 Day Repo Rate. Namun, tindakan ini berpotensi membuat lesu kegiatan di pasar modal dan pasar sektor riil.


”Kalau melihat keputusan BI terakhir dengan meningkatkan tingkat suku bunga sebesar 25 bps, ada beberapa hal yang terkena trade-off (yang dikorbankan) seperti pemangkasan anggaran dan penundaan beberapa proyek infrastruktur,” urainya.


Dalam jangka panjang, ungkap Ilman, Indonesia perlu meningkatkan daya tarik agar investor mau menanamkan modal dalam bentuk foreign direct investment (FDI). Melalui FDI, modal yang ditanamkan di Indonesia akan cenderung lebih banyak diinvestasikan dalam bentuk aset tidak bergerak, misalnya saja pembangunan pabrik. Sehingga, modal tersebut kecil kemungkinannya untuk pindah ke luar negeri dan pada akhirnya dapat membuat nilai tukar Rupiah menjadi lebih stabil.


Sementara itu, kebijakan The Fed untuk mempertahankan suku bunga di level 1,75-2% untuk saat ini tidak perlu dikhawatirkan mengingat Bank Indonesia telah melakukan counter-policy serupa pada Rapat Dewan Gubernur sebelumnya dengan menaikkan juga suku bunga BI 7 Day Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5.25%.


Sebelumnya, The Fed meningkatkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1,75-2% sebagai bentuk pencegahan agar perekonomian Amerika Serikat tidak mengalami overheating mengingat kondisi sosioekonomi Amerika Serikat yang terus menerus membaik dalam satu tahun terakhir. Tren positif yang juga diikuti dengan peningkatan inflasi membuat The Fed harus menyeimbangkan dengan menaikkan tingkat suku bunga agar ekonomi tetap stabil.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies