Kenaikan Suku Bunga BI Akan Berdampak Pada Investasi di Sektor Riil

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100


21 Juni 2018 – JAKARTA, Rencana Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga akan memengaruhi banyak hal, salah satunya adalah investasi di sektor riil. Peningkatan suku bunga BI akan mendorong kenaikan suku bunga kredit dan hal ini akan membuat para investor menjadi ragu untuk berinvestasi di sektor riil.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, apabila pemerintah jadi meningkatkan suku bunga acuan kembali 25 bps menjadi 5%, maka diprediksi suku bunga acuan akan berada di level 5,5% di akhir tahun 2018. Tren suku bunga acuan yang cenderung meningkat akan menurunkan permintaan kredit.


Novani menjelaskan, meningkatnya suku bunga acuan akan diikuti dengan meningkatnya suku bunga pinjaman (kredit). Oleh karena itu BI sebaiknya juga mempertimbangkan kondisi kredit perbankan di Indonesia. Apabila tren permintaan kredit saat ini relatif lemah dan diprediksi akan terus melemah ke depannya, maka kebijakan meningkatkan tingkat suku bunga acuan ini menjadi tidak efektif untuk kredit perbankan karena hanya akan meningkatkan Non Performing Loans (kredit macet).


“Pada dasarnya, langkah yang diambil BI ini sangat bergantung pada kondisi sektor perbankan di Indonesia. Langkah kebijakan jangka pendek ini terbilang efektif dalam menjaga nilai tukar rupiah agar tidak tergerus kembali akibat kenaikan suku bunga The Fed.

Kondisi ini tidak akan langsung direspon oleh perbankan dengan meningkatkan suku bunga kredit dan mempengaruhi kondisi perekonomian secara agregat. Membutuhkan waktu penyesuaian yang sebenarnya tidak singkat. Akan tetapi, keputusan sektor perbankan untuk menaikan suku bunga kredit tergantung pada beberapa kondisi perbankan seperti kondisi likuiditas bank, kondisi NPL, Performa kredit, dan lain sebagainya,” ujarnya.


Meskipun diprediksi tidak akan memberikan dampak terhadap kondisi perbankan dan perekonomian secara langsung, sebaiknya BI tidak selalu merespon ketidakstabilan suku bunga The Fed dengan terus merevisi tingkat suku bunga acuan karena hal ini akan berdampak pada tingkat suku bunga kredit perbankan. Kebijakan tersebut akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian di Indonesia termasuk kenaikan suku bunga kredit di perbankan.


“BI diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga hingga lima kali untuk mengimbangi kebijakan kenaikan suku bunga The Fed yang akan meningkat sebanyak empat kali di tahun 2018. BI perlu meningkatkan fokus strategi intervensi lainnya seperti intervensi di pasar valas dan pasar surat berharga negara, atau operasi moneter pada likuiditas perbankan,” jelasnya.


Pada pertengahan Juni, The Fed kembali meningkatkan tingkat suku bunga sebesar 0,25% menjadi 2%. Kondisi ini diprediksi akan direspon oleh BI selaku otoritas moneter dengan kembali meningkatkan tingkat suku bunga acuan BI 7 days Repo Rate di akhir bulan Juni mendatang. Langkah yang diambil BI ini merupakan kebijakan jangka pendek untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang relatif terus melemah di sepanjang tahun 2018.


Fokus utama BI sebagai otoritas moneter adalah kebijakan jangka pendek dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. BI secara konsisten mengambil langkah pre-emptive dengan meningkatkan suku bunga acuan (BI 7DRR) dan diprediksi langkah ini akan terus diambil hingga akhir tahun 2018.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies