• Admin

Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Diharapkan Mampu Pertahankan Daya Saing Pasar Keuangan

Updated: Aug 20, 2018

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


16 Agustus 2018 – JAKARTA, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. BI 7 Days Reverse Repo Rate berada di level 5,5% dari sebelumnya 5,25%. Kembali naiknya suku bunga acuan BI adalah sebagai bentuk upaya mempertahankan daya saing pasar keuangan dan menjaga defisit transaksi berjalan.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan BI 7 Day Repo Rate merupakan keputusan yang tepat untuk saat ini. Hal ini dikarenakan adanya potensi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya kembali pada September dan akhir tahun ini. Langkah menaikkan suku bunga acuan diharapkan bisa menumbuhkan insentif investasi di produk keuangan domestik. Sehingga, peningkatan suku bunga acuan BI 7DRR sudah sewajarnya dilakukan.


”Selain itu, perlu juga pemerintah melakukan financial deepening (meningkatkan ketersediaan jasa keuangan) dalam bentuk kemudahan akses produk keuangan bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang sosioekonomi. Dengan menggiatkan financial deepening, perekonomian Indonesia kedepannya dapat lebih tahan akan goncangan perekonomian global,” jelasnya.


Ilman mengungkapkan, sebagai salah satu negara dengan populasi terbanyak di dunia, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan partisipasi dalam jasa keuangan. World Bank’s Global Findex menunjukkan bahwa hingga 2017, baru 49% masyarakat dewasa Indonesia yang memiliki akun di lembaga keuangan. Selain dari sisi individu, pemerintah juga dapat mendorong instansi pemerintah dan juga BUMN untuk melakukan investasi dalam bentuk obligasi pemerintah.


”Berbagai upaya yang mendukung peningkatan literasi keuangan di masyarakat sangat penting dilakukan. Pemerintah telah mencatatkan progress yang baik dalam hal ini mengingat pada 2014 hanya ada 36% masyarakat dewasa Indonesia yang memiliki akun produk keuangan (World Bank’s Global Findex). Harapannya, pemerintah dapat terus berkomitmen dalam inklusi keuangan dan juga perlu dukungan dari industri keuangan dan pemerintah daerah,” jelasnya.


Walaupun begitu, BI tetap perlu mengantisipasi langkah The Fed yang diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga sebanyak dua bahkan tiga kali lagi hingga awal tahun depan. Kenaikan suku bunga tersebut nantinya dikhawatirkan akan kembali melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar.


”Pelemahan nilai mata uang rupiah tersebut akan berdampak kepada berbagai kegiatan ekonomi, terutama di bidang perdagangan internasional. Produk-produk industri yang menggunakan bahan mentah yang diimpor akan mengalami peningkatan biaya produksi sehingga dapat menurunkan daya saing produk tersebut karena harga yang menjadi lebih mahal. Selain itu, komoditas pangan yang diimpor seperti beras, gula, dan daging sapi juga akan mengalami kenaikan harga karena nilai rupiah yang semakin melemah,” jelas Ilman.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies