Indonesia Perlu Diversifikasi Pasar Impor Antisipasi Terus Naiknya Harga Bawang Putih

Siaran Pers - Jakarta, Pemerintah perlu mempertimbangkan opsi untuk diversifikasi pasar impor bawang putih untuk memastikan jumlah pasokan dan kestabilan harganya di pasar dalam negeri. Diversifikasi juga penting dilakukan supaya Indonesia tidak tergantung pada satu negara manapun. Penghentian sementara impor pangan dari China, yang merupakan negara asal impor bawang putih Indonesia, memengaruhi jumlah pasokan dan kestabilan harga bawang putih. Di beberapa daerah di Indonesia, harga bawang putih mulai melonjak.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, kalau melihat data Food and Agriculture Organization (FAO), China memang mendominasi produksi bawang putih dunia dengan jumlah produksi sekitar 22 juta ton per tahunnya. Namun banyak negara lain yang juga bisa menjadi pemasok bawang putih, seperti India, Mesir dan Spanyol. Melihat data produksi dari FAO dan data perdagangan dari UN Commtrade, negara-negara ini memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan bawang putih Indonesia.


Di tahun 2017, India menghasilkan 1,7 juta ton per tahun dan telah mengekspor 33.736 ton bawang putih. Mesir menghasilkan 274.668 ton dan mengekspor 8.516 ton. Indonesia sebenarnya sudah memanfaatkan pasokan bawang putih mereka, namun masih dalam jumlah yang sedikit, yaitu sebesar 8.000 ton dari India dan 135 ton dari Mesir. Di belahan bumi yang lain, Spanyol merupakan penghasil bawang putih terbesar Eropa yang menghasilkan 274.712 ton bawang putih, dimana 165.875 ton diantaranya untuk pasar ekspor. Namun, Indonesia belum memanfaatkan pasokan ini. Pemerintah patut mempertimbangkan opsi-opsi ini supaya bawang putih terus tersedia dalam harga yang tercapai bagi masyarakat Indonesia.


“Sementara itu, permintaan konsumen Indonesia terhadap bawang putih masih cukup signifikan, yaitu sekitar 0,33 ons per kapita setiap minggunya. Secara keseluruhan, menurut data BPS, permintaan bawang putih Indonesia mencapai 500.000 ton per tahun. Jumlah sebesar ini belum mampu dipenuhi produksi bawang putih dalam negeri yang baru mampu memproduksi sekitar 39.000 ton per tahun,” terang Felippa.


Harga bawang putih di berbagai daerah di Tanah Air mulai melambung tinggi karena adanya  penghentian sementara impor pangan dari China akibat penyebaran Virus Corona.


Sebenarnya, Virus Corona adalah penyakit zoonosis yang tidak menyebar melalui tanaman hortikultura. Selain itu, setiap impor bawang putih juga harus memenuhi standar-standar Sanitary Phytosanitary (SPS) dan proses inspeksi, karantina, dan pengawasan keamanan yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa produk yang diimpor bebas dari penyakit apapun. Namun, Felippa menambahkan, keinginan pemerintah untuk lebih berhati-hati sangatlah wajar.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies