• Admin

Harga Pangan Stabil Jaga Nilai Inflasi dan Daya Beli Masyarakat

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


29 Agustus 2018 – Stabilnya harga pangan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, salah satunya adalah menjaga nilai inflasi. Untuk itu, pemerintah sebaiknya tidak perlu memandang impor sebagai opsi yang merugikan.


Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi mengatakan, impor hanyalah salah satu instrumen untuk menstabilkan harga pangan di dalam negeri. Dengan masuknya barang dan jasa) dari luar negeri, maka konsumen akan memperoleh harga yang kompetitif dan lebih terjangkau. Hal ini akan membuat daya beli mereka meningkat, sehingga mereka dapat mengalokasikan dana lebih besar untuk membeli bahan makanan berkualitas, layanan kesehatan dan juga pendidikan. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi.


Untuk Indonesia, meski neraca perdagangan bahan pangannya defisit, PDB-nya justru bertumbuh hingga 5,07%. Dengan demikian, semestinya Indonesia tidak perlu terlalu khawatir karena masih mengimpor sebagian besar bahan pangannya. Pada saat bulan Ramadan dan Idul Fitri yang lalu (pertengahan Mei sampai dengan pertengahan Juni), Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa inflasi pada saat itu merupakan

yang terendah selama beberapa tahun terakhir, yaitu hanya sebesar 0,21%.


Jumlah ini lebih kecil ketimbang inflasi selama bulan Ramadan tahun 2017 (akhir Mei sampai dengan akhir Juni) yang mencapai 0,39% dan tahun 2016 (awal Juni sampai dengan awal Juli) yang berkisar antara 0,66% dan 0,69%.


“Harga pangan yang cenderung lebih stabil dinilai turut andil dalam menurunkan tingkat inflasi selama bulan Ramadan dalam dua tahun terakhir. Meskipun kita tetap memberikan apresiasi terhadap kerja keras Satgas Pangan, namun kita tidak selayaknya melupakan peran impor dalam menjaga kestabilan harga,” jelas Hizkia.


Laporan Statistik Impor BPS menunjukkan bahwa impor beras menjelang dan selama bulan Ramadan di tahun 2016 tercatat sebesar 26.193 ton. Sedangkan pada Ramadan 2017, Indonesia mengimpor sekitar dua kali lipat lebih banyak, yaitu sebesar 59.586 ton. Pemerintah juga mengimpor daging sapi sebesar 16.119 ton selama bulan Ramadan tahun 2016. Sedangkan di bulan Ramadan tahun 2017, jumlah impornya mencapai 22.632 ton atau sekitar 40,4% lebih banyak dibandingkan Ramadan tahun 2016.


Meskipun harga di bulan Ramadan 2018 ini diklaim lebih terkendali, jika kita mau melihat ke luar sedikit, maka sesungguhnya harga bahan makanan kita masih tergolong lebih mahal dibanding negara-negara tetangga kita. Data CIPS menunjukkan bahwa di pertengahan Ramadan 2018, harga beras di pasar swalayan di Jakarta mencapai Rp 12.560 per kilogram, lebih mahal daripada di pasar swalayan di Bangkok yaitu Rp 6.065 per kilogram, Kuala Lumpur Rp 9.008 per kilogram maupun di Singapura Rp 12.375 per kilogram.


Telur ayam di Jakarta harganya mencapai Rp 22.450 per kilogram, lebih mahal daripada di Singapura Rp 17.304 per kilogram dan Bangkok Rp 18.459 per kilogram. Harga daging sapi di Jakarta mencapai Rp 160.550 per kilogram, lebih mahal daripada di Manila Rp 88.712 per kilogram, Malaysia Rp 106.368 per kilogram dan Singapura Rp 144.731 per kilogram.


“Tingginya harga bahan pangan di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Perlu juga dipikirkan dampak dari hal ini bagi masyarakat selama beberapa tahun ke depan, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga pra-sejahtera. Apa untungnya bagi mereka ketika neraca perdangangan surplus, tapi harga tidak bisa mereka jangkau?” jelasnya.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies