Harga Pangan Naik, Impor Jangan Sampai Terhambat Perizinan

Melonjaknya harga komoditas pangan membuat wacana impor menjadi semakin penting untuk diimplementasikan. Minimnya jumlah pasokan di pasaran serta penyebaran virus corona (covid-19) di berbagai negara, termasuk Indonesia, termasuk ke dalam dua faktor tingginya harga komoditas pangan. Namun impor yang diharapkan bisa menstabilkan harga di pasar domestik jangan sampai terhambat regulasi.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, regulasi impor untuk komoditas pangan berbeda satu dengan lainnya. Namun ada beberapa kesamaan yang berhubungan dengan rekomendasi dan izin impor. Untuk dapat impor, importir dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang berlaku sebagai Angka Pengenal Importir (API) harus mendapatkan Surat Persetujuan Impor (SPI) yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Untuk mendapat SPI, importir wajib mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian (Kementan) setelah memenuhi berbagai persyaratan, seperti bukti kepemilikan gudang berpendingin (cold storage) atau fasilitas lainnya. Untuk beberapa komoditas, importir juga harus mendapat rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Setelah itu, baru dilakukan transaksi.


Setelah transaksi, lanjut Felippa, importir harus mendapatkan Laporan Surveyor (LS) mengenai komoditas yang diimpornya sebagai dokumen kelengkapan kepabeanan. Setelah komoditas yang diimpor masuk ke Indonesia, ia masih harus melewati pemeriksaan dari BPOM dan bea cukai. Semua proses ini dapat berlangsung dalam waktu yang tidak singkat, antara satu hingga tiga bulan.


“Komoditas pangan strategis bahkan membutuhkan persetujuan pemerintah lewat rapat koordinasi / rapat terbatas, misalnya saja untuk beras atau gula. Proses ini seringkali membuat Indonesia kehilangan momentum dalam mengimpor di saat harga internasional sedang murah. Belum lagi setelah barang sampai, dia masih harus melewati serangkaian proses pemeriksaan. Padahal stok sudah menipis dan harga di pasar sudah tinggi,” jelas Felippa.


Pemerintah idealnya dapat menjadikan harga sebagai parameter ketersediaan komoditas pangan di pasar. Kenaikan harga beberapa komoditas pangan sejak awal tahun lalu seharusnya sudah bisa dijadikan indikator perlunya dilakukan impor, terlebih jelang Ramadan dan Idul Fitri. Felippa juga menambahkan perlunya tindakan ini dilakukan dalam waktu dekat sebelum harga komoditas pangan menjadi tinggi dan tidak terjangkau oleh masyarakat.


Felippa juga menambahkan, pemerintah sebaiknya dapat menyederhanakan proses penerbitan rekomendasi impor, terlebih pada situasi yang terbilang kritis seperti saat ini. Usai dihadapkan pada ancaman gagal panen karena musim kemarau yang berkepanjangan, harga beberapa komoditas pangan sudah nampak mengalami peningkatan sejak akhir tahun 2019 yang lalu, misalnya saja harga gula dan bawang putih. Penyebaran virus corona (covid-19) menambah faktor-faktor yang menyebabkan naiknya harga tersebut, belum lagi siklus tahunan peningkatan permintaan jelang Ramadan dan juga Idul Fitri

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies