Ekspor Pertanian Turun, Pemerintah Perlu Intensifkan Upaya Mitigasi Kekeringan

Updated: Aug 22, 2019

20 Agustus 2019 – JAKARTA, Kekeringan yang melanda Indonesia diproyeksikan akan berlangsung lebih lama dari waktu yang biasanya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa musim hujan yang biasanya berlangsung mulai awal bulan Oktober akan mengalami pemunduran selama beberapa minggu. Tentunya hal ini tidak akan sama terjadi pada semua wilayah di tanah air. Walaupun begitu, upaya mitigasi bencana kekeringan perlu terus diintensifkan mengingat dampaknya pada sektor pertanian.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, kekeringan ini akan berimbas pada produksi daerah penghasil pangan di banyak wilayah di Indonesia. Untuk mengatasi kekeringan dalam jangka waktu dekat, perlu ada langkah yang konkrit, seperti misalnya mengalirkan sumber air buatan ke wilayah-wilayah yang terkena dampak kekeringan paling parah dan berpotensi gagal panen.


Tim mitigasi kekeringan yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian, lanjutnya, harus bekerja dengan semaksimal mungkin. Segala aspek harus dilihat karena kekeringan selain membuat gagal panen tanaman, juga membuat potensi munculnya penyakit-penyakit tanaman yang ditakutkan akan terus menular nantinya. Hal ini tentu akan berdampal pada berkurangnya produksi tanaman pangan.


Pengurangan produksi, khususnya dalam hal pangan, akan mempengaruhi terganggunya kegiatan ekspor Indonesia, utamanya di semester kedua 2019. Hal ini harus diantisipasi agar ekspor Indonesia tidak kembali mengalami penurunan, seperti yang terjadi pada tahun  sebelumnya di mana ekspor Indonesia turun dari USD 3,17 milliar di tahun 2017 menjadi USD 2,98 miliar di tahun 2018 pada semester kedua berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik dan Kementerian Perdagangan.


“Ekspor yang menurun karena berkurangnya produksi pangan dapat membawa kerugian bagi Indonesia dari sisi perdagangan. Ketersediaan pangan yang menipis juga akan berdampak pada melonjaknya harga pangan, terutama kebutuhan pokok rumah tangga. Tingginya harga bahan makanan dapat menyebabkan rumah tangga untuk mengurangi konsumsi makanan bergizi sehari-sehari, yang parahnya dapat berdampak pada pemenuhan gizi pada anak,” urai Galuh.


Belum lagi jika makanan harus melewati proses distribusi yang panjang untuk sampai ke konsumen, harga yang sudah mahal dapat lebih mahal nantinya. Walaupun kekeringan adalah siklus yang tentunya akan terjadi setiap tahun, harus ada perbaikan agar tidak terus berimbas pada mahalnya harga makanan dan berkurangnya ekspor pangan.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies