• CIPS Indonesia

Defisit Neraca Dagang Tertinggi Sejak 2013, Pengendalian Impor Perlu Disikapi Hati-Hati

SIARAN PERS

Kontak Media: 08111088100 (Vera)


17 Mei 2019 – JAKARTA, Defisit neraca dagang Indonesia pada April 2019 merupakan yang tertinggi sejak April 2013, dimana angka defisit mencapai USD 2,5 miliar. Adapun angka impor tercatat naik sebesar 12,2% dan ekspor turun sebesar 10,8%. Hasil minyak mendominasi defisit perdagangan, yaitu sebesar USD 1,32 milliar.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menyampaikan bahwa faktor internal dan eksternal berperan dalam capaian neraca perdagangan saat ini. Faktor internal yang dimaksud di sini adalah masih dominannya komoditas mentah sebagai komoditas utama ekspor Indonesia. Komoditas ini, walaupun konsisten mendorong ekspor, namun rentan terhadap perubahan harga sehingga tidak bisa terus menerus diandalkan.



Selain itu, ketegangan tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga menjadi sentimen negatif dalam perdagangan internasional. Semua negara yang bermitra dengan AS dan Tiongkok, termasuk Indonesia, pasti terdampak dari adanya eksalasi perang dagang beberapa waktu terakhir ini.


“Solusi dalam jangka pendek yang paling efektif dan selalu digulirkan adalah dengan mengendalikan impor. Hal ini sebenarnya lumrah dilakukan karena untuk mendorong peningkatan nilai ekspor. Selain itu, perlu proses transformasi di sektor industri yang cukup memakan waktu dan disertai juga dengan perubahan berbagai macam regulasi yang memberikan insentif pada para pengusaha untuk meningkatkan nilai jual produknya,” ungkapnya.


Namun dalam mengendalikan impor, lanjutnya, perlu kehati-hatian karena impor Indonesia saat ini masih didominasi oleh impor bahan baku dan barang modal, yang notabene diperlukan untuk proses produksi dalam negeri. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah menggulirkan aturan tarif impor untuk berbagai macam barang konsumsi. Jenis impor barang konsumsi ini sebenarnya relatif kecil apabila dibandingkan dengan impor bahan baku dan impor barang modal. Namun tentunya mengendalikan dua jenis impor lain dapat berpengaruh terhadap kinerja sektor industri dan manufaktur nasional.


“Sehingga pada akhirnya, walaupun pengendalian impor ini adalah solusi jangka pendek yang dapat diandalkan, tentunya hal ini tidak bisa selama-lamanya digunakan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan. Diperlukan pendekatan yang lebih struktural seperti perubahan regulasi yang sifatnya meningkatkan daya saing industri dalam negeri untuk bisa meningkatkan nilai jual barang ekpsornya,” tandasnya.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • CIPS LinkedIn
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies