Beras Premium Diharapkan Perbaiki Penyaluran Beras Bulog di BPNT

Rencana Bulog untuk menyediakan beras kualitas premium dalam Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) diharapkan berdampak positif. Penyediaan beras premium juga diharapkan mampu berkontribusi pada peningkatan penyaluran beras lewat skema bantuan sosial ini. Karena skema ini menggunakan mekanisme pasar, Bulog seringkali kesulitan bersaing dengan pemasok lain yang mampu menyediakan beras dengan kualitas yang lebih baik.


Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, Bulog menargetkan penyaluran beras melalui BPNT mencapai 500.000 ton pada tahun ini. Hal ini juga sudah tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2020. Namun target 500.000 ton ini turun dari target tahun sebelumnya yang sebesar 700.000 ton.


Sepanjang tahun 2019, Bulog telah berhasil menyalurkan beras sebanyak 168.000 ton melalui program BPNT. Jauhnya realisasi dari target salah satunya dikarenakan, selain Bulog bukanlah satu-satunya pemasok beras tunggal dalam skema bantuan non-tunai ini, kualitas beras Bulog juga kalah dari beras yang disediakan oleh pemasok lain.


“Optimisme Bulog untuk dapat mencapai target tahun ini juga dikarenakan perusahaan yang dipimpin oleh Budi Waseso ini sudah menyiapkan beras dengan kualitas yang diharapkan oleh para keluarga penerima manfaat (KPM), yaitu beras premium. Bulog tentunya harus mampu menjawab keraguan banyak pihak yang meragukan beras Bulog dapat laku di pasar BPNT apabila masih menggunakan beras yang kalah kualitas dibandingkan beras yang disalurkan oleh pemasok swasta,” jelas Galuh.


Ia pun menambahkan, karena BPNT menggunakan mekanisme pasar, kesiapan Bulog untuk menggunakan harga di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk menyerap beras premium untuk skema bantuan ini juga merupakan langkah positif. Hal ini merupakan langkah konkrit Bulog agar dapat bersaing dengan pemasok beras lainnya. Belum lagi ditambah usaha Bulog untuk juga dapat memasarkan beras kualitas premium ini melalui platform bisnis mereka.


“Penyaluran beras 500.000 ton di tahun ini bukan tidak mungkin untuk dicapai karena skema bantuan BPNT sudah menaikkan nilai bantuan dari yang sebelumnya Rp 110.000 menjadi Rp 150.000. Para KPM memiliki kendali penuh untuk memilih beras yang ingin mereka konsumsi dan Bulog berpotensi untuk meraih keuntungan dalam hal ini jika benar-benar mampu menyediakan beras kualitas baik (beras premium) di pasar BPNT,” tandasnya.


Bulog harus dapat memanfaatkan penyaluran beras BPNT di wilayah-wilayah yang sebelumnya belum dapat dijangkau, optimalisasi harus terus dilakukan, terlebih dalam mengantisipasi stok berlebih saat menghadapi musim panen yang diprediksi akan terjadi pada bulan Maret-April yang akan datang.


BPNT merupakan transformasi dari Raskin/Rastra, di mana saat itu pemerintah lewat Bulog menyalurkan beras bersubsidi dengan alokasi sebanyak 10 kilogram per Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) per bulan. BPNT sendiri mulai masuk dan bertahap menggantikan program Rastra dari tahun 2017. Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, hingga Desember 2019, BPNT sudah disalurkan ke sebanyak 15.085.385 KPM di seluruh Indonesia dari total target sebanyak 15,6 juta KPM.

Contact

+62 21 227 69 233

Jalan Terogong Raya No. 6B 

Cilandak

Jakarta Selatan 12430

Indonesia

follow US!
  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • YouTube Social  Icon
Center for Indonesian Policy Studies is officially registered
under the name Yayasan Cipta Sentosa 

© 2019 Center for Indonesian Policy Studies